"Semua hadap serong kanan! Langsung ambil posisi push up!" Teriakan kak setya menggema diikuti seluruh anggota junior PMR Wira SMA Harapan Bangsa yang langsung menuruti perintahnya dengan wajah yang pucat,terutama 3 gadis yang berdiri di pojok kanan barisan.
Ya,mereka bertiga yang berwajah paling pucat. Karena tiga gadis tadilah yang menyebabkan mereka semua terkena hukuman. Mereka bertiga datang terlambat saat kumpul. Padahal hanya telat 4 menit. Itupun karena guru mereka yang 'korupsi jam' saat seharusnya mereka sudah harus dipulangkan, namun guru mereka masih asyik mengajar. Belum lagi beres-beres,doa,dan lari dari kelas mereka yang terletak di pojok atas ke halaman depan.
"Kenapa kalian telat? Kalian taukan PMR kumpul jam 15.00. Kalau kalian gitu terus dan pada saat nolong korban kalian juga gitu,terus korban kalian apa kabar? Hah? Sadar lah! Kalian itu PMR! PMR kok lelet? Kalau kalian nggak niat ikut PMR mending keluar aja sekarang!!" Amarah kak setya semakin menjadi. Mukanya merah padam.
"Sekarang saya tanya sama kalian yang nggak telat. Teman kalian ini mau kalian kasih hukuman apa? Terserah kalian. Gak ada kata 'korsa' dalam hukuman ini." Tanya kak setya. Namun tak ada yang berani menjawab.
"Kalian kenapa diam saja? Hah? Gak punya mulut? ! Apa gak punya telinga? Atau jangan-jangan gak punya dua-duanya?"
"Nyanyi kak" usul anisa.
"Gak. Ke-enakan"
"Bersihin toilet."
"Minta tanda tangan ke semua ketua organisasi sekolah kak." Usul anisa lagi.
"Hmm.. ya. Kalian harus minta tanda tangan ke seluruh ketua organisasi di SMA kita. Ralat,bukan cuma ketua, tapi mantan ketua juga. Mulai dari OSIS,Paski,Ambalan,dan Rohis. Udah itu aja. Yang lain nggak usah. Sekarang kerjakan!!" Perintah dari kak setya yang kemudian diikuti larian dari tiga gadis yang diberi hukuman,yaitu arshiya dan kedua temannya,alfi dan dina.
"Shiya,alfi, gimana kalau kita bagi tugas aja? Aku nyari pradana pramuka, Shiya nyari ketua Osis, terus kamu alfi nyari ketua Paski. Gimana?" Usul dina.
"Emm.. oke. Rohis siapa?" Tanya alfi.
"Rohis sekalian aku aja. Aku kenal kak sofi sama kak ali." Ujar arshiya. Mereka pun mulai melaksanakan tugas mereka masing-masing.
Tempat yang pertama kali arshiya tuju adalah masjid. Karena ia tau pasti kak sofi,mantan ketua rohis, dan kak ali, ketua rohis pasti sedang ada disana untuk sholat asar berjamaah. Karena itu sudah program rohis agar seluruh anggotanya mengikuti sholat berjamaah.
"Assalamualaikum, kak sofi!" Sapa arshiya pada kak sofi yang sedang menaruh mukena di lemari kaca.
"Waalaikumsalam. Ehh shiya. Ada apa dek?" Tanya kak sofi dengan suara lembut.
"Ini kak. Shiya mau minta tanda tangan kakak. Boleh?"
"Tanda tangan? Buat apa dek?"
"Ee anu kak tadi shiya sama temen telat kumpul PMR,jadi dikasih hukuman deh sama kak Setya." Jelas arshiya dengan malu-malu.
"Oalahh.. nih kakak udah tanda tangan."
"Iya kak. Makasih. Shiya langsung ya kak. Mau nyari kak ali," pamit arshiya kepada sofi.
"Iya dek. Tadi Ali ikut solat jamaah kok. Mungkin masih disini."
"Iya kak. Itu kak ali ada di serambi utara. Shiya duluan ya kak."
"Iya dek."
Arshiya pun pergi meninggalkan sofi dan berjalan ke arah serambi utara masjid, dimana ali sedang duduk sambil memakai sepatu disana.
YOU ARE READING
ArShaBi
Teen Fiction"Entah sedang dimana hatimu berlabuh. Entah sampai kapan dia masih ada dihatimu. Selama itulah aku akan tetap disini. Walaupun hanya dapat melihat bayangmu."-Bima "Entah apa kata orang tentangku. Tak kan ku pedulikan semua itu. Jalan lurus sesuai tu...
