penantian bersama senja 1

90 2 0
                                        

Di sore ini tampak begitu indah, ditemani nyiuran kelapa yang tengah melambai-lambai di tanah pertiwi, hembusan angin menyejukkan hati, segenap alam ini sungguh tak tertandingi.
Deburan ombak itu menyerbu bebatuan karang di pinggiran, di tempat itu, di atas batu karang, di bawah langit siang, sungguh banyak kenangan. Di sana, pernah kita tertawa, pernah kita bersama, pernah kita berbicara dan pernah kita berpisah. Sungguh, pertemuan lalu perpisahan itu adalah hal konyol.

“Nella,” panggilan itu, suara lembut itu, tatapan yang menenangkan itu sekarang hanya sebuah video kenangan yang sungguh takkan terulang.

Namun, ketahuilah bahwa hidup tidak hanya tentang kenangan, tentang masa lalu dan tentang cinta.

takdirku hanya untuk menanti, maka Tuhan tolong beri aku pangeran yang pantas buat dinantikan.

Sekali lagi sang angin menyerbu gadis yang ada di tepi pantai itu, membuat kibaran jilbab syar’i nya bergerai mengikuti arah angin. Di wajahnya terukir senyuman, namun siapapun yang melihat matanya pasti akan tau bahwa hatinya tak sepenuhnya tersenyum. Wajahnya menatap bebas ke arah langit yang mulai senja, sama sekali tak ada keinginannya tuk melangkah meninggalkan tempat ini. Pikirannya jauh melayang, melayang mengagumi kebesaran Tuhan, mengucap ribuan syukur di dada, dan mengulas senyuman manis di bibir mungilnya sebelum matahari mulai tenggelam.
Disaat itu pula, suara adzan menggantikan, adzan mulai berkumandang ke seluruh jagad raya, pertanda panggilan Tuhan untuk seluruh umat Islam. Ia memejamkan mata tuk yang terakhir sebelum ia melangkah jauh meninggalkan tempat ini, tempat dimana ia pernah menemukan kebahagiaan, tempat ia mulai tersadar, tempat hatinya mulai terbuka lebar, dan tempat ia bernafas hanya untuk Tu
Tiga bulan yang lalu,
Gadis berusia sekitar sembilan belas tahun ini masih berada di lapangan basket indoor SMA 5 Kuta, Bali, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka lima. Dering telepon yang berada di tasnya sama sekali tak membuat ia melihat atau sekadar melangkah mendekati tas yang ada di kubu penonton, tentu saja deringnya terdengar karena ia di sini sendirian, iya sungguh sendiri.

“Anella Jenny.”
Gadis berseragam olahraga itu pun menoleh ke arah guru muda nan tampan yang tengah berdiri di depan pintu lapangan basket indoor.
“Ini sudah ketiga kalinya kamu melanggar peraturan.” Ucap Pak Anderson, lelaki dua puluh lima tahunan yang masih terlihat gagah itu.
“Hufft…” Nella memutar bola matanya malas sembari mengambil ranselnya lalu berjalan ke arah pintu, ia menatap Pak Anderson sebentar sebelum akhirnya ia melenggang pergi begitu.
Tentu saja, Anderson, lelaki itu benar-benar bingung dibuatnya, semua murid di sini sangat menghormati dan segan kepadanya, apalagi jika ia memiliki perhatian lebih pada siswanya maka ia akan sangat dihargai, sedangkan hanya bersama gadis itulah Anderson seolah tidak ada.

“Brak…”
Anderson berlari ke arah kaca jendela yang berada di dalam lapangan indoor, kaca jendela yang menampakkan pemandangan jalan raya dari arah lantai dua gedung SMANSA Kuta. Betapa terkejutnya dia ketika melihat gadis yang baru saja ia ingatkan itu kini tengah berlumuran darah tertidur di atas trotoar. Mata berlensa biru khas Amerika ini membulat tak percaya, ia segera berlari menuruni anak tangga, Anderson berharap segera melihat dan menyelamatkan gadis muridnya yang nyawanya tengah di ambang batas.

Jangan lupa vote yah guys
I Love readers 😘😘😘
Tnggu kelanjutan ceritanya😊😊
Seeyou

📜Short Story📜Stories to obsess over. Discover now