Dia berjalan terus.. terus ..
dan terus tak berhenti. Tiba dipersimpangan jalan ia tak juga tak berbelok hanya terus berjalan lurus akan tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti, tatapanya mengarah ke sebuah rumah sederhana di seberang jalan. Ia melangkah mendekati rumah itu setiap langkah demi langka membuatnya semakin dekat.. dekat..
dan makin dekat ..
"Kini wajah itu tak terlihat samar-samar lagi dan ternyata ia benar-benar begitu cantik dari perkiraanku" gumamnya.
Tatapan mata itu begitu teduh, matanya bersinar, bibir merah bagai darah, wajanya sungguh cantik. Pantas ia terhenti dipertigaan jalan itu dan menata gadis disana hingga senja. Ia lupa dan ingin tinggal disana untuk dekat dengan gadis itu
Dan kini ia benar-benar tinggal dekat dengan gadis itu. Entah bagaimana dan apa tujuan hidupnya tadi hingga jadi terhenti disana. Dan ia jadi lupa untuk terus berjalan.
Hati kini terhenti dan berdetak hanya karna gadis, itu saja.
Tok..Tok...Tok..
Pintu coklat pekat itupun terbuka dan ada yang memanggilnya."permisi nona" Rose membalikan wajah kearah suara
"Iya paman." sahut Rose beralih dari bukunya.
Pedro itu menunduk formal." Maaf nona, jika saya mengganggu." kata Pedro.
Pedro Namanya, pria paruhbaya itu adalah kepala pelayan. Ia sudah begitu lama melayani Keluarga Adam Edoardo, bahkan ia ada sebelum Rose dilahirkan dan menjadi seorang ayah dan paman bagi keluarga ini karna itu Rose putri keluarga itu, selalu memanggilnya dengan sebutan 'paman'. Karna untuknya Pedro adalah orang ketiga yang ia sayangi setelah ibu, dan ayahnya didunia ini.
Rose mengulas senyum, "Tidak paman, paman tidak mengganggu ku, aku hanya sedang membaca saja." kata Rose.
"Baiklah nona." kata Pedro.
"Jadi ada apa, paman?" tambahnya agi.
"Guru nona sudah tiba, ia menunggu nona di ruang belajar." jelas Pedro.
"Baklah. Aku akan segera datang. Terima kasih paman." kata Rose.
"Tentu nona, saya permisi." kata Pedro dan berlalu pergi.
Rose memberi tanda pada tepian buku dan lalu menutupnya lalu meletakkannya diatas meja. Dan beranjak melangkah meninggalkan perpustakaan menuju ruang belajar menemui gurunya.
"Maaf telah membuatmu menunggu." kata Rose setelah tiba.
Amanda tersenyum."tidak apa, nona" ucapnya formal.
Rose tersenyum lalu duduk dan berhadapan. "Kita bisa mulai" ucapnya.
"Tentu nona."sahut Amanda. Mengeluarkan buku dari tasnya.
Waktu berlalu, Rose fokus dengan soal yang diberikan Amanda untuk ia kerjakan. "Bisa jelaskan soal ini?" tanya Rose dan menunjukan bukunya.
Amanda mengalihkan pandangan pada Rose, "Ada lagi nona?" tanya Amanda setelahnya. "Tidak ada." sahut Rose.
Kegiatan itu berlanjut sampai sore hari sesuai dengan jam mengajar Amanda.
Rose menutup buku. "Selesai" ucapnya.
"Baiklah nona." sahut Amanda.
Amanda mengemasi bukunya dan memasukanya dalam tas, sedangkan Rose sudah beranjak dari tempat duduk "Aku lebih dulu ya, terima kasih sudah datang." ucap Rose dan berlalu pergi.
"Tentu non-" Amanda belum selesai Rose sudah pergi meninggalkannya.
"Paman Pedro." panggil Rose yang melihat Pedro melintas. Pedro berbalik." iya nona" jawabnya. Rose mendekatinya, "Paman aku akan lanjutkan membaca jadi, jangan ada yang mengganggu.Okey!" pinta Rose.
"Baik nona." ucap Pedro dengan menunduk formal.
Rose berbalik lagi, " Oh iya, tolong bawakan aku salad buah dan jangan lupa minumannya." tambahnya lagi.
"Tentu nona." jawab Pedro. "Terima kasih paman."katanya dengan tersenyum lalu pergi.
Selalu membaca dan hanya di dalam rumah saja ia habiskan waktunya. Itulah yang terus ia lakukan sejak 6 tahun yang lalu setelah kejadian yang menimpa dirinya dan ibu yang ia sangat cintai. Karena rasa takut dan kehilangan itu ia tak pernah keluar rumah lagi dengan alasan apapun ia akan selalu menolak.
_____➰____
Jangan lupa vote and comment.
thanks bangett..
YOU ARE READING
UNTOUNHABLE
RomanceAku hanya menunggu waktuku, dengan tetap hidup jika engkau melihatku.
