Part 1

2.5K 79 4
                                        

Happy reading guys
__________

~RIO POV~

Kurebahkan tubuhku pada punggung kursi untuk sedikit merilexkan otot-otot ku, entah kenapa akhir akhir ini adalah banyak masalah dalam keluarga ku, ahh sepertinya kalimatnya salah bukan akhir akhir ini tapi selalu saja ada banyak masalah dalam keluargaku, sekarang pikiranku melayang pada aduk terkecil ku, Bagas.

Bagas Rahman, aku selalu saja mengkhawatirkan kannya, bagaimana ia dirumah? Apa dia sudah makan? Apa kakak kakak nya menyakitinya lagi? Pertanyaan ku itu yang selalu berkecamuk dalam hatiku, ya aku selalu saja memikirkannya, karna kakak kakaknya yang alin sangat membencinya kecuali Debo, ya aku adalah anak tertua di keluargaku namaku Mario Stevano Aditya.

Aku mempunyai 6 adik, adik pertamaku adalah Gabriel Stevent, kemudian Alvin Jhonathan, Cakka Kawekas, Debo Andryos, Ozy Adriansyah, dan terakhir adalah Bagas Rahman. Cukup banyak memang karna keluarga kami memang cukup besar, kedua orangtua kami telah meninggal , sedangkan aku menggantikan posisi papa diperusahaan, tidak hanya aku tetapi Gabriel juga mebantuku untuk mengurus perusahaan papa.

Sedangkan Alvin dan Cakka sedang menempuh kuliahnya, Debo dan Ozy akan menempuh kuliah tahun depan dan Bagas sedang menempuh sekolah kelas X SMA , dua tingkat dibawah Debo dan Ozy. Aku dan Debo sangat menyayangi Bagas , namun berbeda dengan ke 4 adiku yang sangat membenci Bagas. Aku tak habis pikir kenapa mereka harus membenci Bagas dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.

" Kakak," panggil seseorang dari ambang pintu membuyarkan lamunanku

"Ahh, kau Iel, membuatku terkejut saja, kenapa?" Tanya ku sambil menoleh kearahnya.

"Aku hanya ingin memberikan berkas ini, maaf membuatmu terkejut, tadi aku sudah mengetuk pintunya tapi kakak hanya diam saja jadi aku langsung masuk kedalam," ujar Iel seraya mendekatiku dan memberikan sebuah stopmap padaku.

"Baiklah serahkan padaku," balasnya sambil menerima stopmap itu dan membacanya dan menelitinya.

"Sebenarnya apa yang sedang kakak pikirkan? Sampai-sampai kakak tidak mendengar panggilan?" Tanya Iel membuatku berhenti dari aktivitasku.

"Tidak, aku tidak memikirkan apapun, aku hanya sedikit memikirkan pekerjaanku saja," ucap ku berusaha menyembunyikan apa yang sesat ga aku pikirkan.

"Benarkah?" Ucap Iel menyelidiki.

"Tentu," balasku senormal mungkin.

"Aku tau kakak berbohong! Kakak memikirkan anak tidak berguna itu kan?" Ucap Iel kasar sambil memandangku tajam, namun aku mengalihkan pandangan ku pada berkas yang berada diatas meja.

"Apa yang kau bicarakan? Kakak tidak mengerti?" Ucap ku berusaha fokus pada berkas yang berada di tanganku.

"Ckkk...kakak tak usah menutupinya...kakak sedang memikirkan anak sialan dan tak berguna itu kan? Ya kan kak?" Ucap Gabriel berusaha memojokkan ku.

"Jika urusanmu sudah selesai denganku, lebih baik sekarang kau keluar dan selesaikan pekerjaan mu!" Balasku sebisa mungkin menahan emosiku, karna aku sedang malas berdebat dengan nya.

"Kenapa? Kenapa kakak selalu membela anak itu? Memang apa untungnya? Anak itu hanya selalu membawa kesialan bagi keluarga kita kak," ucap Gabriel dengan sinis nya da nada kebencian.

"Gabriel, ku mohon sudahlah," ucap ku masih bisa menahan emosiku.

"Kakak, adik kakak tidak hanya dia, masih ada aku, Alvin, Cakka, Debo, Ozy, kita tak butuh anak pembawa sial urusan, seharusnya kakak juga memperhatikan adik kakak yang lain tidak hanya anak tak berguna itu," ucap Gabriel membuat benteng kesabaran runtuh, tanpa kesadaran kini aku meremas kertas yang sedang ada ditanganku saat ini.

Regretted 《Completed✔》Stories to obsess over. Discover now