Hari Bahagiamu, Gie!

38 1 0
                                        

Apa ini saat yang tepat untukku pergi?  Berjalan meninggalkanmu, melepas penantian panjang ini. Menjadikanmu bagian masa lalu.

Mana mungkin akan semudah itu Gie?

-Sore, sebelum lepas landas-

Hari kelima, bulan kedelapan, tepat satu tahun setelah kamu wisuda,  aku akan pergi. Kali ini berbeda,  aku bukan hendak melarikan diri, menyembuhkan depresi, atau berkelana ke pelosok negeri. Aku akan melanjutkan studi master,  di negeri Kangguru. Keputusan yang cukup berat, sebab sebelum pergi, aku bertemu lagi dengan orang tuaku, sahabat, rekan mengabdi, dan sebagainya, mereka semua memintaku "Jangan pergi, Re! "

Tapi, aku seyakin-yakinnya mengatakan " Aku siap dan sudah membulatkan tekad". Sekali lagi, aku nekat.

Kepergian kali ini menyisahkan keraguan, aku sempat ingin mengurungkan niat. Salah satu alasannya adalah Gie, sayang sekali, yang diharapkan tak pernah terjadi, malah sebaliknya. Gie akhirnya jadi bertunangan dengan Mawar,  sahabat karibku waktu SMA.

***

Kau ingat kejadian setahun yang lalu?

Setelah tiga tahun tidak bertemu, akhirnya takdir mempertemukan.
Saat Gie wisuda,  aku menemuinya. Ini rahasia besar, yang sayang sekali, Gie tak pernah ketahui.

Di hari saat kamu memakai toga,  aku melihatnya. Andai saja kamu tahu, rahasia yang ku sembunyikan rapat-rapat. Hari itu aku datang Gie, menemuimu. Tapi dalam jarak yg aman,  hingga detik ini, kamu tidak tahu dimana aku saat wisudamu. Aku mematikan seluruh alat komunikasi, setelah kamu mengabarkan berita kelulusan. Kamu menelpon berkali-kali, tapi saat itu aku ujian lapangan, sinyal pun tak ada. Alam benar-benar sengaja membuat kita tak bisa bicara. Hingga pesanmu menumpuk, dan aku membaca semuanya Gie.

Kamu menelpon lagi,  kali ini kau dan aku sempat mengobrol.
"Aku akan wisuda Re"
" Kok kamu lulus duluan? Aku bahkan belum sentuh skripsi,curang"
"Sore, kita kan kuliah dengan tingkat yang beda. Aku diploma, kamu sekolah sarjana"
Aku tak menjawab,  menghela napas "Kenapa waktu berjalan cepat sekali?"
Gie cuma tertawa " Aku wisuda minggu depan. Biar ku tebak, sekarang kamu lagi pengin nostalgia dengan masa SMA bukan? "
Aku tersenyum kecut, sudah ketebak  " Mungkin," aku menunduk, berusaha tenang agar tak menangis di telepon,  "tapi seindah apapun SMA, aku tetap punya cerita kelam di masa itu. Aku tidak akan pernah sudi mengulanginya. "
Gie menjadi kikuk, selanjutnya aku cuma diam.

Telepon terputus,  tidak ada sinyal lagi. Tapi, percakapan singkat itu membuatku merenung, hingga akhirnya aku memutuskan datang. Sekalipun keputusan itu,  membuatku harus ujian praktek dan ujian lapangan susulan. Aku senekat itu, karena setelah kamu lulus, kita tidak pernah tahu, apakah masih ada kesempatan untuk bertemu?

Gie, hari itu, aku melihatmu tersenyum bangga dan bahagia, Orang tuamu, juga kakakmu,  memeluk tanpa henti. Aku ikut terharu, bahkan menangis.
Gie, terkadang aku iri melihatmu, orang-orang yang kamu sayangi bisa hadir dan menyambutmu. Lalu, bagaimana dengan wisudaku nanti? 

Gie aku ketakutan saat datang ke wisudamu. Bagaimana jika nanti, aku harus melihat kamu dengannya?  Apakah aku sekuat itu?  Meski nyatanya,  dia tak datang di hari bahagiamu.

Ya,  aku tahu kamu sekarang ada yang memiliki,  sekalipun aku tidak tahu persis, siapa perempuan yang beruntung itu?  Aku tak ingin cari tahu lebih jauh, bahkan tak sudi melihat wajahnya di dekatmu. Aku masih punya hati Gie, sekalipun sudah bertahun kisah tentang kita berlalu. Aku tidak yakin akan sekuat itu menghadapi kenyataan. Keraguan itu pula yang memadamkan nyaliku,  untuk sekedar memberi selamat di hari wisudamu.

Gie, ada puluhan puisi yang ku tulis untuk kamu, tapi satu pun tak pernah kau baca apalagi kau pahami. Puisiku adalah memoar, tentang perjalananmu menggapai impian. Gie, aku tak pernah berubah, tetap menjadi Sore yang dulu. Aku ikut bahagia atas kelulusanmu. Akhirnya perjuanganmu usai, kamu memasuki perjalanan baru dalam hidup.

"Selamat Gie, mimpimu sudah tergapai!"

Tapi, pernahkah kamu ingat?
aku punya peran kecil di hidupmu, meski hanya figuran. Paling tidak, aku mendoakan mimpi-mimpimu.Sayangnya, hidup tak selalu sejalan dengan harapan. Bagiku Gie,  kau separuh nyawa,  setengah kekuatan, jadi kepergianmu, meninggalkan luka mendalam.

Terkadang aku merasa egois, kamu selalu ada saat aku berada di fase terendah hidup, kamu yang meyakinkanku bahwa aku kuat saat dunia menghinaku. Kamu tetap percaya bahwa aku mampu, sekalipun aku berkali-kali gagal masuk universitas. Sejak SMA kamu yang mengajariku cara bangkit. Kamu tidak bosan memarahiku kalau malas belajar, atau saat remedial matematika. Sekarang, lihatlah aku bisa kuat, karena kamu yang mengajariku. Tapi, apa yang pernah kuberikan untuk hidupmu, atau paling tidak impianmu? 
Tidak ada Gie, aku cuma banyak bicara dan menasehati, tapi bukan itu yang sebenarnya kau butuhkan. Bagaimana mungkin, ada orang sebaik kamu?

Aku mengingatnya, saat aku menangis bahagia melihatmu melemparkan toga ke udara. Gie, aku sanggat bangga denganmu. Sebelum semua terlarut jauh, aku menitipkan bouqet bunga hortensia biru, perlambang ketulusan juga permintaan maaf dan mawar putih, perlambang persahabatan. Aku menitipkanya pada temanmu, kamu merima dengan wajah bingung. Lalu, kamu baca kartu ucapan dariku dengan nama samaran 'Kata'. Kamu tersenyum membacanya, dan aku senang Gie, kamu menengok sekeliling, penasaran.

Selanjutnya, seperti biasa,  aku meninggalkanmu lagi dalam kebingungan. Selalu begitu, aku yang datang hanya untuk meninggalkan.

FajarHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora