Awal hidup dan matiku.
Hai sendu, tunjukkan taringmu
Hai tawa, tunjukkan senyumanmu
Hai tangis, tunjukkan air matamu
Hai berharap, tunjukkan setiamu
Aku sendiri bimbang, tak tahu akan arti ini
Seakan semua rasa singgah bersimbah gurau
Seakan tawa hilang berselimut rasa
Bimbang hati ini..
Bimbang jiwa ini..
Tak ada lagi perlu dibahas
Ini memang salahku..
Terlalu larut dalam sialnya rasa..
Maaf..
Maaf wahai rasa..
Karena kisah ini, asaku hancur melebur tanpa bentuk.
Kina tersenyum, menampakkan kesenangan kala puisi yang selama ini selalu menjadi deadline akhirnya selesai.
"Akhirnya puisi ini selesai juga, bisa bebas dari omelan Mbak Amita, deh," ujarnya senang.
Jika kalian bertanya, Kina adalah salah seorang penulis atau pembuat puisi di salah satu koran yang cukup diminati di ibu kota, jadi tak heran bahwa Mbak Amita–salah seorang editor di sana– selalu menagih Kina agar tidak lupa dengan karya cerpen atau puisinya.
Tok..tok..
Kina bangkit, segera membuka pintu. "Ada apa, Mi?"
"Sarapan di bawah cepat. Ada Satria di bawah."
Kina tersentak. Nama itu kembali hadir dalam urung waktu 2 tahun hilang bak ditelan bumi. Ini pasti mustahil, dan Kina pasti tengah bermimpi.
"Hai Kina, apa kabar?"
Kina menoleh, dan saat itu juga, sebuah tetes air mata jatuh tanpa ia duga. Sosok itu nyata, tapi sakit saat ingin memeluknya.
"Satria..."
--- K I N A S A---
Hai. Ini cerita baru, sebenernya gak baru, sih. Tapi aku rombak ulang alurnya, jadinya begini. Hope u like it, darl.
YOU ARE READING
KINASA
Teen Fiction"Gue suka sama lo.." "Gue juga suka sama lo," jawab Kina senang. Satria terkejut, tentu saja. Maksudnya bukan suka seperti....berpacaran, tapi lebih suka sebagai sahabat. "Eh, maksudnya bukan suka beneran. Gue emang suka sama lo, tapi sebagai teman...
