SEBUAH SURAT, UNTUK SUATU AKHIR

633 12 1
                                        

November 2013, ketika pelukmu tak lagi menemani..

Aku masih ingat bagaimana kita memulai hubungan. Bagaimana ciuman pertama kita, bagaimana caramu menatapku saat itu. Bagaimana renyah tawamu. Tetapi kita yang kini tidak lagi menjadi kita yang dulu. Dan bagaimana cara kita mengakhiri hubungan? Cara mengakhiri yang terlalu menyakitkan; mantan kekasih, hubungan yang terlalu rumit.

Pernahkah kamu merasakan bagaimana perasaan itu terbagi? Disaat kamu menyadari bahwa yang kamu cintai tidak lagi seperti dulu. Dimana ketakutan akan masa lalunya, yang masih menggodanya, membuatmu ketar-ketir setengah mati. Dimana kesepian menjadi hal yang mendominasi, bahkan saat kalian bersama.

Aku masih ingat bagaimana aku mengabaikan pedih, hanya karena tak ingin hubungan ini berakhir dan menyisakan perih. Bukankah cinta itu harusnya tidak membebani? Bukankah cinta itu berbahagia? Bukankah cinta itu terbuka?

Tahu rasanya jadi aku? Jika aku melangkah maju, aku akan meninggalkanmu tepat dimana kini kamu berdiri. Bila aku diam di tempat, mungkin aku yang akan ditinggalkan di tempat biasanya kamu berdiri. Tapi apakah aku melangkah maju dan pergi? Tidak. Aku memilih tinggal dimana bayangmu pernah ada, dan menari bersamanya. Sempat aku berpikir, kenapa kita bisa saling mengenal? Saling mencintai? Tetapi, pantaskah kita menyalahkan takdir?

Setelah apa yang harus terlewati, aku mulai mencoba membuka hatiku selain padamu. Aku berhasil. Tapi apakah aku jatuh cinta? Aku tidak bisa memastikan apakah aku jatuh cinta lagi kepada seseorang selain dirimu; si brengsek yang berhasil mencuri lebih dari sekedar perhatianku, membuatku benar-benar jatuh cinta padanya. Yang awal mulanya aku tak berharap banyak, yang darinya membaca apa itu kata yang menyimpan makna, yang darinya aku mengerti cinta yang tak berlogika. Aku terus merindukannya sampai aku takut kehilangannya. Tetapi bukankah takut kehilangan itu manusiawi?

Untuk mengenang akhir hubungan kita, aku menulis surat ini. Tapi aku tidak tahu bagaimana menulis surat untuk orang yang telah jauh pergi. Terlebih kini kulihat kamu sudah bersama dengan gadis masa lalumu itu, yang memenjarakan aku dalam takutku, dan menghukum mati aku dengan peluk manjanya kepadamu. Aku berharap kamu memang benar bahagia dengan pilihanmu itu.

Kita berbanding terbalik pada satu garis lurus, pada sudut 90 derajat. Aku dan kamu. Berbahagialah dengan kekasih barumu. Aku sedang melakukan perjalanan panjang yang bahkan aku sendiri takut menerka akan seperti apa akhirnya. Gilanya, dalam ketidak-yakinan ku pada masa depanku, aku masih tergila-gila padamu.

Aku yang kini bukan lagi rumah tempatmu pulang..

***

Surat mu tidak sampai ke tanganku tepat pada waktunya, Helena. Mita menyembunyikannya dariku. Aku mengerti alasan dia melakukannya. Sama sepertimu mungkin, dia juga takut aku akan berlari pulang ke dekapmu. Dan mungkin benar itu yang akan aku lakukan.

Kau kini diam tak bergerak, terbujur kaku, terkubur waktu. Aku merasa sangat kehilanganmu, Len. Kamu menulis surat ini sebelum tidurmu, ya? Seperti biasa? Aku paham betul kebiasaanmu itu; menulis ketika kamu kesulitan untuk memejamkan mata.
Len, apakah rindu-rindu yang aku hembuskan sudah amat terlambat? Boleh kusimpan foto-foto di album social media mu? Aku tahu itu bodoh, padahal aku bisa memeluk tubuhmu hingga kini. Jika saja waktu itu cemburu tidak membutakan cintaku, menumpulkan logikaku.

Aku memaksa mencintai Mita, Len. Beberapa minggu kami menjalani hubungan dengan bahagia, meskipun tidak sebahagia ketika aku bersamamu dulu. Semakin hari, semakin banyak pertengkaran dengan Mita. Entah itu untuk urusan kecil, bahkan untuk urusan sepele bisa menjadi besar dan mengganggu pikiranku. Cinta bukan lagi surga untukku. Kurasa nyaman bersamamu dulu. Hingga saat kujumpai senja yang merah darah, barulah aku sadar mencintai yang masih dihantui masa lalu itu percuma.

Apakah kamu bahagia sekarang, Len? Apakah akhirnya ada malaikat yang membuatmu jatuh cinta, sehingga kamu menyusulnya, meninggalkan aku? Setampan apa dia? Apakah dia lebih menarik dibandingkan aku? Apakah dia juga yang membuatmu melamun saat mengendarai mobilmu, hingga kamu tidak melihat batas jalan di hadapanmu? Membuatmu menabraknya? Atau itu caramu untuk pergi menemui malaikat itu? Menjauhi aku. Ketahuilah, Len, penyesalan menggerogoti nuraniku, setiap kali aku memikirkan kabarmu disana, selepas berakhirnya hubungan kita. Aku berpikir, mungkin akan ada orang yang lebih baik, yang bisa membawamu dan membahagiakanmu. Tapi mengetahui kamu benar pergi, dan tanpa bisa lagi kujumpai, hatiku tak setegar itu menerimanya. Aku mencintaimu, Helena, sungguh. Bahkan saat kini, pelukmu tak akan pernah lagi menemani..

Tamat.

SmásögurStories to obsess over. Discover now