0.1 gladis?

21 1 0
                                        

Dering alarm yang berbunyi sejak 5 menit yang lalu berdering dengan lantang di dalam kamar yang bernuansa jingga putih.
"Erghhh" geram zahrine sambil pelan pelan membuka kedua matanya. Ia melirik sekilas jam weker yang ada di sampingnya waktu telah menunjukan pukul 6 pagi.
Tak lama setelah ia melirik jam wekernya matanya kembali tertutup.
"Arin Bangunnn" suara khas remaja lelaki berteriak dari balik pintu ber nuansa putih susu.
"Bentar lagi napa bang, arin masih ngantuk" zahrine menutup kepalanya dengan bantal dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Lo telat gue tinggal ya" suara khas remaja yang zahrine yakin adalah kaka laki lakinya mulai samar.
Zahrine mengucek kedua matanya "shit" ucapnya sambil berjalan sempoyongan menuju kamar mandi.

Zahrine menuruni anak tangga satu persatu dengan tas berwarna hijau tosca yang menempel di punggungnya, ia menggerai rambut setengah punggungnya, di tambah baju seragam yang agak ketat, dan rok selutut yang dikenakannya membuat tubuh wanita ini terbentuk, zahrine mempunyai tubuh seperti model, ia mendapat warisan tubuh model dari sang ibu yang memang saat dahulu pernah bergulat di dunia modeling, sebelum akhirnya menjadi pengurus perusahaan milik keluarga zahrine.

"kebo" ejek zalvan yang sedang asyik mengoleskan selai kacang ke roti tawar yang ada di tangannya.
"rese lo" zahrine menyambar roti yang baru saja akan zalvan suapkan pada mulutnya.
"itu punya gue" ucap zalvan sambil menunjuk roti yang telah zahrine suapkan pada mulutnya.
"nih lo bikin lagi ya" zahrine menyodorkan roti tawar dengan beberapa toples selai.
"adik gatau diri lo" zalvan menatap kesal zahrine
"Ish kalian pagi pagi udah berantem aja" oma julia mendudukan tubuhnya di sebelah zahrine.
"Hehe" zahrine tertawa memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ketawa lagi lo" decak zalvan masih dengan nada yang sebal.
"Ya udah oma arin udah telat, arin sama ka alvan berangkat ya" ucap zahrine sambil mencium punggung tangan julia dan menarik paksa tas punggung zalvan agar zalvan terseret dan mengikutinya.

•••

"bang tambahin lagi kecepatan mobilnya, nanti telat 10 menit lagi masuk" decak zahrine yang sedari tadi mendumel di dalam mobil.
"Brisik banget deh rin, mulut lo mau gue sumpel?"
"Ish" zahrine memutar kedua bola matanya.

Mobil hitam yang di tumpangi zalvan dan zahrine tiba di parkiran sekolah yang sangat luas, berdiri kokoh gapura bertuliskan SMA NUSANTARA.
"ayo" zalvan menarik tangan adiknya yang tengah melamun di parkiran.
"ruang kepsek dimana sih?" ucap zahrine dengan sorot matanya menyapu setiap sudut koridor sekolah.
"coba kesana deh bang" zahrine menarik tangan kokoh zalvan, tanpa sadar ia menubruk seorang gadis dengan rambut sebahu yang setengahnya ia ikat.
"Brukk"
"sory sory, gue ga sengaja sory ya" zahrine memandang gadis perempuan yang ada di hadapannya.
"oke i'am fine" gadis itu mengadahkan sedikit pandangannya, matanya menatap zahrine dengan teliti. Pandangannya terhenti di sebuah gelang yang memiliki manik manik inisial nama bertuliskan huruf GZ yang zahrine kenakan pada pergelangan tangannya.
"Zahrine?" ucapnya menaikan sebelah alisnya.
Zahrine menatapnya heran "iya, lo kenal gue?"
Wanita itu semakin membulatkan matanya " lo zahrine kan?"
Zahrine semakin menatapnya dengan tatapan heran " iya"
"Gue gladis rin"
"Gladis?" zahrine teringat akan masa lalunya, gladis memang teman masa kecilnya saat di jakarta, sejak kecil ia bersahabat dengannya sebelum akhirnya mereka terpisah karna kedua orang tua gladis pindah ke kalimantan, dan kenang kenangan satu satunya dari persahabatan mereka ialah gelang yang diberikan gladis kepadanya.
"iya, gladis temen masa kecil lo"
zahrine masih menatap wanita di hadapannya dengan tatapan heran dan tidak percaya.
"Tunggu deh, nih gue juga punya gelang yang sama kayak yang lo punya" wanita tersebut mengeluarkan gelang bertuliskan GZ yang sama persis dengan apa yang ia kenakan.
"Gladis, ko lo bisa di sini?"
"Nanti gue jelasin lagi ya, sekarang gue mau masuk kelas takut keburu ada guru"
Gladis membangunkan tubuhnya dari posisi terjatuh dan berjalan menuju salah satu  kelas yang berada di koridor lantai dasar.
"Ayo rin, lo mah malah ngobrol" decak zalvan
"Itu tadi gladis bang"
"Gladis temen kecil lo?" tanya zalvan dan di balas anggukan oleh zahrine
"Terus lo nanya ga ruang kepsek dimana?"
"ya ampun gue lupa" zahrine menepuk sekilas kepalanya.
"TOLOL!"
"Ya sory gue lupa" Zahrine tersenyum kecil.

"Kalian, murid pindahan dari jakarta kan?" tanya seorang guru lelaki berpostur tubuh gemuk yang tiba tiba datang di hadapan zahrine dan zalvan.
Kaka beradik itu kini saling bertatapan sebelum akhirnya mereka mengangguk kompak.
"Kalian sudah ke ruang kepala sekolah?"
"Belum pa"
"Ya sudah mari bapak antar"
Zahrine dan zalvan pun berjalan di belakang guru berpostur tubuh gemuk ini menuju ruang kepala sekolah.

•••

Bel tanda masuk berteriak di setiap koridor SMA NUSANTARA.
suasana sekolah tampak sepi karena semua murid sudah masuk ke dalam kelasnya masing masing.
Pak supriatna guru matematika killer yang mengajar angkatan kelas 11 di SMA NUSANTARA masuk kedalam kelas ipa2.
Suasana kelas yang ricuh seketika berhenti menjadi hening. Semua pandang mata tertuju pada sosok wanita yang berada di belakang guru berkumis yang memiliki postur tubuh gendut. Zahrine menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan kelas, matanya terhenti pada sosok wanita yang sedang tercengir penuh arti ke arahnya. Gladis, tersenyum manis ke arah zahrine dengan mata yang membulat penuh arti.
Sukur gue ada temen di kelas ini - batin zahrine.
"Anak anak, kali ini kalian kedatangan murid baru, dia pindahan dari jakarta." suara lantang pak supriatna terdengar di dalam kelas.
Zahrine tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya, sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata " nama saya zahrine, saya pindahan dari jakarta."
"Semoga kalian dapat bersosialisasi dengan baik ya,  nah zahrine kamu bisa duduk di sebelah gladis. "
"Baik pa" zahrine berjalan menghampiri gladis dengan senyum yang tergugat di bibir tipisnya.
"Pelajaran akan bapa mulai,  kalian buka buku paket halman 79." pak supriatna memulai pelajaran.

Kring... Kring bel tanda jam istirahat telah berbunyi sejak 5 menit yang lalu. Zahrine masih asyik mengobrol dengan gladis di dalam kelas.
"GLADISS" teriakan seorang wanita terdengar dari ambang pintu kelas ipa2.
Zahrine dan gladis sama sama mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara
"Shelyn, kebiasaan deh kalo manggil kenceng amat" Gladis memutar kedua bola matanya.
"Ini siapa?" tanya shelyn matanya menatap zahrine dengan tatapan heran
"Ini zahrine murid baru pindahan dari Jakarta, sahabat gue waktu kecil." jelas gladis
"Ohh, hallo zahrine gue shelyn" shelyn tersenyum
"Zahrine" zahrine membalas senyuman wanita berambut pendek yang ada di hadapannya.
"Dis, udah di tunggu tuh di kantin."
"Ya udah, yuk kesana" gladis menarik tangan zahrine dan menuntun nya untuk ikut bersamanya.
Zahrine sempat menghentikan langkahnya dan bertanya "kemana?" tapi gladis menarik tangannya kembali "udah ikut aja" jadi terpaksa zahrine harus mengikuti kemana perginya gladis.

WindStories to obsess over. Discover now