1. Why Now Change?

3.6K 126 58
                                        

Dear Diary

Banjarmasin, 04 Juli 2017
10.35 WITA

Aku berusaha melupakan rasa yang dulu pernah ada. Mencoba segala hal agar dapat melupakanmu, menghapus bayangmu. Tetapi semua sia-sia. Kamu sangat sulit aku lupakan, memori tentang dirimu melekat di setiap sel sarafku. Aku selalu bicara, aku akan melupakanmu, menghapus kenangan kita, tidak mengingat kejadian yang telah berlalu lagi. Nyatanya, aku hanya menipu diriku sendiri karena sampai sekarang hatiku terus menjerit namamu, tidak ada satu detik pun waktuku dapat melupakanmu.

Seperti sekarang ini yang kulakukan malah memandang foto dirimu di ponsel milikku. Aku memang sangat bodoh. Sudah tahu kamu di sana melupakanku, justru aku di sini masih merindukanmu. Bibirku diam membisu, hanya dua bola mata ini yang menatap setiap lekukan wajahmu di ponsel. Astaga. Bahkan aku masih memuji betapa tampannya dirimu. Seharusnya aku berhenti mengagumi lagi, aku berhenti berharap lagi, seharusnya begitu. Namun, sekalipun kaki ini beranjak pergi hatiku masih tetap tinggal.

"Al," panggilan tersebut membuatku mengerjap. Sadar akan kedatangan sahabatku di dalam kantin. Aku menyimpan ponsel yang sedari tadi kupandangi lalu mengangkat kepala menatap sahabatku, Diandra.

Aku tersenyum, begini caraku menyimpan kesedihan. Memalsukan sedih menjadi senyuman. "Gimana rapat OSIS, lancar, Di?"

"Gitu deh, bosan gue di sana. Ada-ada aja emang anggota OSIS jam istirahat disuruh kumpul, dikira nggak perlu makan apa rapat begitu juga nguras otak lo. Beruntung sekali cacing-cacing di perut gue bisa dinegosiasi, kalo enggak gue bisa aja pingsan kelaperan." Aku tertawa pelan mendengar perkataan Diandra. Sahabatku yang satu ini memang terlihat sangat lucu jika seperti ini. Aku tidak akan bisa melewati hari sepiku tanpa ada dia, sahabatku. Bagiku sahabat seperti bagian keluarga, membantu ketika membutuhkan, mendorong kita untuk terus melangkah di saat kita tidak dapat bergerak melangkah. Dia selalu ada di saat suka dan duka.

Aku yang belum memesan apa-apa lantas berjalan menuju bibi di kantin, penjual bakso. Sebelum itu aku bertanya kepada Diandra ingin memesan apa, sekaligus menjadi satu dengan pesananku. Selesai memesan makanan aku berbalik ingin kembali duduk di meja yang tadi kutempati, tapi saat tubuh ini berbalik bahu tegap terbentur dengan kepalaku. Bukan-bukan kepala, hidungku lebih tepatnya yang kini terasa nyeri. Mungkin bahu itu terbuat dari baja sehingga membuat hidungku ini sampai mau patah rasanya.

Aku mendongak.

Tubuhku seperti mau merosot, tulang dan persendian terasa lemah. Mataku tidak lepas dari sepasang iris mata hitam pekat itu. Cukup lama tatapan ini tidak kudapatkan, cukup lama aku merindukan dia selama ini. Walaupun satu sekolah aku sangat jarang bertemu dia, datang sekolah hanya melihat motornya yang terparkir, pulang sekolah hanya melihat punggung itu pergi bersama motor miliknya, terus begitu sampai hari ini aku kembali merasakan getaran seperti dulu.

Mata itu seperti candu membuatku terbuai dalam rindu. Lima detik kuhabiskan menatap mata teduhnya, sampai wajah itu mendahului berpaling, seolah enggan menatapku lagi. Aku sadar, jika terus berusaha meleburkan tatapan tadi bersama rindu yang tak berujung ini, maka sama saja aku kembali membuat gunung harapan. Sampai kusadari suatu saat gunung itu akan berhenti bekerja dan melepaskan lagma-lagma menyakitkan.

Aku langsung terburu-buru pergi dari hadapannya. Air mata yang kutahan ini menyesakkan dadaku, itu juga berakibat dengan hidungku yang semakin memerah, menahan sakit dan tangis.

Dulu, jika kami tidak sengaja bertemu seperti tadi dia akan menanyaiku apakah aku sudah makan. Padahal dia akan tahu jawabanku pasti belum karena memang tujuanku ke kantin untuk makan, lalu dengan wajah cerianya dia menyuruhku duduk menemaninya makan, dan kami makan bersama. Aku seharusnya tidak ingat ini, tapi semua di luar kendaliku, aku terjerat hatinya.

Sekarang suasana tidak lagi sama. Sangat berbeda semenjak kamu mengenal dia. Aku tidak tahu apa kurangnya aku dalam hidupmu sehingga membuatmu dengan mudahnya melupakanku lalu menjalin hubungan bersama orang lain. Katamu, kamu akan selalu mencintaiku dalam kondisi apapun, katamu lagi hidupmu seperti mati rasa tanpaku.

Why? Why now change?

Aku lupa bahwa hal manis kadang berubah menjadi pahit. Perkataanmu membuatku melayang jauh ke awan menembus langit, saat ini aku jatuh tak terbayang bersama angan-angan pahit.

Dari sekian banyak perempuan kenapa harus diriku yang mengalami ini? Aku perempuan yang tidak mudah berpindah hati, aku tidak mudah membuka hati, jika satu orang berarti kenapa harus terganti. Kenapa bukan orang lain yang bisa dengan mudahnya melupakanmu yang engkau jadikan main-main? Kenapa harus aku yang mencintai sendirian sekarang ini? Tidakkah kau tahu meregang sakit ini sangat menyakitkan.

Mungkin aku harus melupakanmu, mencoba lagi walaupun hasilnya gagal, aku tahu tidak akan kegagalan ini menghampiri lagi setelah kuteguhkan lagi hatiku. Menghapus bayangmu, menghapus semua kenangan kita selama ini.
                     

Terasa menyenangkan melihat dirimu bahagia

Hidup bersamanya ku doakan untuk selamanya

Walapun hatiku tak mampu untuk memilikimu

Bila kau bahagia

Aku bisa apa

Dan biarlah ku sendiri teruskanlah bahagiamu

(Astrid-Aku Bisa Apa🎶)

                           🌸

A/N :

Short Story aku tulis untuk sekadar berbagi potret kehidupan yang terjadi di dalam kehidupan remaja. Tentang persahabatan dan cinta yang sangat sering menjadi momok utama konflik.

Ramaikan teman-teman: nratnaks_9 Intanrsvln  ichamfs14 HildaaaRosida17 Choco_latte2 MykaFadia_ SisiSR RizkykaAnnisa

Tertanda, Laila💛

The DiaryWhere stories live. Discover now