Prolog

1.6K 166 77
                                        

Onisha Kyukina, biasa dipanggil Yuki. Aku perempuan kelahiran Jepang 1999. Kini aku tengah menjalani pendidikan S1 di Yokohama, Jepang. Tempat perkuliahan ini berbeda kota dengan rumah keluargaku sehingga hal ini mengharuskanku untuk tinggal di asrama yang sudah disediakan oleh universitas.

Kabar baiknya kampusku saat ini tengah menjalani liburan musim panas selama satu bulan. Liburan kali ini tentunya aku tidak ingin di rumah saja sembari memakan stok es krimku yang ada di kulkas.

Hari ini aku memulai perjalananku dengan teman-teman kuliah untuk berlibur ke suatu tempat dan menghabisi beberapa malam disana. Perjalanan kami menempuh waktu yang cukup lama karena jarak tujuan kami berada di pedalaman desa. Sengaja kami memilih penginapan yang jauh dari kota supaya kami mendapati suasana yang berbeda.

Kami menyewa mini bus yang kapasitasnya dapat menampung aku beserta teman satu fakultasku. Seperti biasa kami sibuk dengan urusan masing-masing di dalam bus. Ada yang tidur, ada yang konser, bahkan ada yang sibuk mengurusi panganan hewan peliharaannya di rumah melalui telepon dengan orang rumahnya.

Aku sendiri memilih berbincang dengan teman dekatku yang aku kenal dari awal datang ke asrama. Walaupun kami tidak tinggal di blok yang sama tetapi kami akrab dan sering berkunjung ke kamar masing-masing. Nama teman pertamaku di Yokohama ini adalah Meiko.

Meiko sedari tadi nampak pucat. Raut wajahnya pun menggambarkan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Aku yang menyadari hal itupun segera meraih dahinya, "Apa kamu sedang demam? Ah tidak, kenapa wajahmu pucat begini? Mau liburan masa kamu nggak enak badan."

"Aduh yuki. Bukan itu," nampak ekspresi protes menghiasi wajahnya yang pucat. Sudah kulitnya putih susu, ditambah lagi pucat. Kelihatannya sudah seperti mayat saja.

"Lalu kenapa pucat begini?"

"Aku mabok darat."

Sontak aku tertawa mendengar jawabannya. Tidak habis pikir, bisa-bisanya orang kota seperti dia masih merasakan yang namanya mabok darat. Padahal setahuku Meiko ini adalah anak dari keluarga kaya. Orangtuanya merupakan pemilik toko pakaian terkenal di Tokyo. Pastinya dia sering kemana-mana naik mobil.

"Hahaha.. Kamu ya kayak jalan kaki mulu aja. Padahal udah sering naik mobil orang tuamu kan."

"Yuki, lebih baik kamu diam aja. Jangan buat mualku tambah jadi."

Aku memasang poker face lalu berpaling ke arah jendela bus. Rupanya bus telah memasuki jalanan dengan suasana yang sudah cukup berbeda dari jalanan kota tadi. Kami mulai memasuki area pedesaan yang masih asri. Tidak nampak lagi gedung-gedung tinggi yang menjulang. Pemandangan disini hanyalah rumah-rumah sederhana beserta pegunungan yang terpampang cukup dekat.

Tak terasa, aku malah memejamkan mataku. Beberapa menit kemudian sebuah tangan menepuk-nepuk bahuku dengan gerakan cepat. Aku sontak menoleh dan terbangun dari tidur singkatku. Tampak Yato tengah berdiri di samping kursi tengah menyeringai. Sementara Meiko ternyata sudah turun duluan sedang mengeluarkan barangnya di bagasi.

Untung saja bawaanku tidak terlalu banyak. Hanya sebuah ransel berisikan baju-baju sebagai persediaanku untuk beberapa hari ke depan. "Ah, biar aku bantu," ucap Yato sambil meraih tasku. Kami pun beriringan keluar dari bis.

Nampak penginapan bergaya kuno yang cukup besar. Mungkin sangat pas untuk kami menghabiskan sebagian masa liburan kami disini. Setelah menunggu Meiko selesai dengan segala barang bawaannya aku, Meiko, Yato, dan teman-teman lain segera memasuki penginapan.

Terdapat beberapa kamar di dalamnya. Tentunya kami membagi kamar ini sesuai dengan gender kami. Aku dan Meiko menempati kamar yang sama. Kebetulan ini termasuk kamar yang paling kecil karena di dalamnya hanya terdapat single bed yang cukup lebar, bisa ditiduri oleh 2 orang dewasa.

"Oke, rupanya untuk beberapa hari ke depan kita akan berbagi kasur ini," ujar Meiko. Selesainya kami menata barang bawaan, kami pun berkumpul di ruang tengah. Disana sudah ramai dengan teman-temanku yang lain. Kebetulan waktu juga sudah larut namun sepertinya malam pertama ini kami akan terjaga dan berkumpul saja.

Karena sudah gelap di luar sana, serangga pun banyak yang masuk ke dalam. Yato memilih untuk menutup pintu utama penginapan. Suasana cukup hening ketika Yato hendak ingin kembali kepada kami.

"Oh iya! Aku baru ingat. Aku bawa 25 lilin untuk memainkan 100 kisah hantu nih. Walaupun mungkin nanti kita mainnya tidak sesuai dengan peraturan aslinya tapi kayaknya bakal tetap seru deh," salah satu temanku yang bernama Riko mengangkat kardus lilin ke udara. Nampaknya anak itu sudah menyiapkannya sebelum berkumpul disini.

"Hah? Yang benar saja kamu Riko? Kita kan nggak mungkin nyelesain 100 kisah hantu kan?" Meiko yang duduk disebelahku sontak mencari alasan yang logis. Tangannya bergetar hebat menandakan ia tengah dilanda ketakutan.

"Memang, tapi sebelumnya aku dan keluargaku telah menceritakan 75 cerita hantu. Mungkin kita bisa melanjutkannya. Menarik bukan?"

"Apa bisa begitu? Tapi kedengarannya menarik untuk bercerita disini."

"Boleh deh, aku ikutan ya."

"Aku mau ikut jugaa..."

"Stop!" Meiko menghentikan pembicaraan teman-teman. "Bagaimana dengan supir kita? Dia kan juga ikut menginap disini. Lilinnya berarti kurang dong. Berarti kita tidak usah main saja, tidak sopan kalau Pak Kensho sendiri yang tidak ikutan."

Pak Kensho, supir kami yang sedari tadi sedang menelepon kemudian meletakan handphone-nya.

"Maaf ya. Saya mau menginap di rumah saudara saja yang berada tak jauh dari sini. Katanya sinyal disana lebih bagus. Kalian jaga diri baik-baik saja malam ini, besok saya kemari lagi. Soalnya saya sedang ada urusan yang harus diselesaikan lewat telepon, kalau disini saya takutnya susah untuk dapat sinyal lagi," Pak Kensho nampak terburu-buru.

Kami semua mengangguk mengiyakan. Sementara Meiko hanya bisa ternganga menatap Pak Kensho yang pamit berjalan keluar pintu.

"Oh iya, ingat ya. Selama bermain 100 kisah hantu jangan pernah ada yang berbohong dengan cerita yang kalian sampaikan," ucap Pak Kensho di ambang pintu dengan nada menakut-nakuti. Lalu ia tertawa melihat wajah ketakutan kami. "Sudah ya, saya tinggal dulu semalaman."

"Bagaimana? Jadi main tidak?" Tanya Riko.

Semua orang mengangguk kecuali Meiko.

"Tenanglah Meiko. Tidak akan terjadi apa-apa. Kita hanya bercerita saja, tidak usah takut," kataku menenangkan Meiko yang wajahnya memucat sedari tadi.

"Baiklah, aku ikut," tidak kami sangka. Meiko yang terkenal penakut akhirnya berkenan untuk ikut dalam permainan 100 kisah hantu.

MonogatariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang