Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

1. Really?

274 33 33
                                        

"Dion, balikin pulpen gue!" Cia menoleh ke sebelah kanan tempat dimana Dion duduk

Sudah seminggu ini pulpen cia belum di kembalikan oleh Dion. Tidak masalah kalau hanya satu, tapi Dion adalah seekor makhluk hidup bak parasit di kelasnya yang setiap setelah meminjam barang seperti pulpen atau alat tulis lainnya selalu tidak pernah kembali utuh.

Dua hari yang lalu pensil cia dibuat patah menjadi lima, sedih sekali melihat pensil lucu berwarna merah jambu dimutilasi dengan tega seperti itu.

"Iya iya, nih" Dion memberikan pulpen yang dipinjamnya. Cia merasa senang karena kali ini sepertinya barangnya terlihat utuh dan kembali tanpa cacat. Ketika hendak menggunakannya tiba-tiba tone  wajah Cia berubah menjadi merah padam.

"Dion! tinta nya abis" Percaya kepada Dion merupakan sakit hati yang disengaja. Selama Cia duduk bersampingan dengan Dion uang sakunya pasti akan habis untuk membeli peralatan tulis yang baru karena dirusak oleh Dion.

"Tinggal pinjem si ke yang lain" Mendengar kalimat barusan membuat Cia semakin kesal bukan main.

"Heh, kalo ngomong enak banget ya! Udah minjem, tintanya di abisin dasar gatau diri!" sahut Cia dengan wajah kesalnya. Pasalnya, uang saku yang seharusnya bisa ia belikan lima novel baru lenyap untuk membeli alat tulis baru karena ulah Dion.

"Yaudah si Ci ngehina nya biasa aja, ntar gue beliin se pak!" Dion memutar bola matanya pura pura kesal namun Cia tidak perduli.

Cia tidak mau berdebat lagi dengan Dion, dia fokus memperhatikan guru yang sedang mengajar di kelasnya, pagi ini pelajaran fisika di jam pertama membuat kepalanya sedikit pusing.

Melihat keadaan kelas yang cukup hening, Dion terserang rasa kantuk dan menjadi gusar. Tiba-tiba muncul lampu menyala di atas kepala nya membuat dia berseringai. Rasanya belum afdol kalau belum membuat seorang teman di kelasnya marah-marah kepadanya barang sehari saja. Target kali ini adalah Cia yang duduk di sampinya.

"Dion ih!" Cia berteriak seusai melihat tingkah laku Dion yang selalu saja kekanak kanakan dan mengganggu dirinya seperti sekarang ini. Kali ini Dion meletakkan upil di lembaran buku catatan fisika Cia yang baru saja selesai dicatat rumus-rumus yang di berikan pak Anton dengan sangat rapi.  Kelakuan Dion barusan benar-benar membuat Cia jengkel.

Mendengar kegaduhan dari arah belakang Pak Anton pun menoleh dan berteriak.

"Cia! Dion!" Teriak pak anton membuat seisi kelas diam dan melirik ke arah cia dan dion

"Iya pa maaf" ucap Dion. Kemudian pak Anton kembali menjelaskan materi tentang fluida statis dan dinamis, tapi kali ini Cia sudah tidak bisa fokus lagi.

Cia merobek kertas catatan yang lengkap itu tanpa melirik ke arah Dion dengan kasar membuat teman sebangkunya terkejut dan Dion menegang.  Biasanya Cia akan mengoceh panjang lebar tapi kali ini Cia memilih bungkam membuat Dion malah menjadi tidak enak hati.

"Ci lo marah?" Tanya Dion dengan berbisik sambil sesekali melirik pak Anton takut-takut kena marah lagi. Namun Cia hanya menoleh sebentar dan memberikan tatapan tanpa arti membuat Dion menjadi bingung harus apa.

Bel istirahat telah berbunyi. Pak Anton pun sudah selesai mengajar tapi Cia masih diam saja. Setelah pak Anton melangkah keluar, Cia pun ikut melangkahkan kakinya keluar kelas menuju arah kantin.

Dion yang tak enak hati pun berinisiatif mengejar Cia yang kini sedang berusaha berjalan cepat menghindari Dion.

"Ci maaf" ucap Dion kepadanya sambil berusaha mensejajarkan langkah kaki mereka. Rasanya malas sekali berurusan dengan Dion hari ini. Cia memilih tetap melangkah dan  Dion pun memilih untuk tetap mengejar.

Really?Stories to obsess over. Discover now