5

290 30 8

"JADI ada 644 manusia kebal di negara kita saat ini."

"644 lelaki dan perempuan? Tidak termasuk kita?"

"Tidak termasuk kita," tegasnya.

Dia adalah pria yang dulu membantu Green mencari pertolongan medis saat lututnya terluka. Dia bekerja untuk Kementerian Kependudukan. Memperoleh data manusia kebal tersebut merupakan tindakan ilegal, bahkan termasuk bagi dirinya. Tapi sejauh ini ia merasa telah melakukan segalanya dengan sangat rapi. Ia menyimpan tujuan besar dengan informasi yang sangat rahasia ini.

"Banyak negara yang menginginkan ini untuk melawan pemberontak. Thailand, Kamboja, Timor Leste, dan beberapa negara Asia lainnya. Tapi negara kita malah melarang orang-orang kebal bergabung dengan militer. Negara kita terlalu lembek pada dunia. Sungguh demokratis," sindirnya.

"Apa ada kemungkinan mereka bisa menciptakan sendiri orang-orang kebal, Yah?"

"Ada. Namun sangat, sangat kecil."

Layar amoled 42 inci mengubah gambar peta menjadi foto-foto dokumen. Lima foto tersebut diawali dengan halaman pertama berisi tentang prosedur penyimpanan dokumen hasil investigasi bukti kejahatan. Usia dokumen itu tepat 32 tahun. Sebagai dokumen terlarang seharusnya bentuk digitalnya tidak boleh dibuat atau jika memang terlanjur dibuat, mestinya dimusnahkan. Dokumen terlarang merupakan dokumen dengan tingkat keamanan paling tinggi. Dokumen seperti ini sudah pasti rahasia namun dokumen rahasia sendiri belum tentu terlarang. Pasal yang mengatur penggunaannya dibedakan dengan sangat jelas.

"Ayah pasti bisa dipecat gara-gara ini."

"Ya. Dan bukan hanya dipecat. Mungkin dipenjara seumur hidup." Alih-alih ngeri mengatakannya, pria itu justru terkesan bangga.

"Lalu apa setelah ini? Apa kita masih mencari dan mengumpulkan dulu semua datanya di sini? Kapan kita keluar?"

Pria itu menertawakan anaknya. "Apa maksudmu dengan keluar, Class?" Kedua tangannya membuat isyarat khusus untuk kata keluar yang dia ucapkan. "Baiklah, bagian ini rahasia, tapi kamu tetap perlu tahu―"

"Ayah, rahasia mana sih yang tidak perlu aku tahu? Yang Ayah ketahui adalah yang juga harus aku tahu."

Pria itu merespons dengan senyum, menatap wajah Classidio. "Ini adalah bagian paling final dari rencana ayah." Tangannya mengusap remote komputer tablet di meja, mengubah tampilan amoled. "Sejak awal ayah selalu bilang ke kamu kalau peranmu di sini, di kasus ini, hanya sebatas tahu. Tidak terlibat. Ayah ingin suatu hari jika semua ini gagal dan ayah harus berurusan dengan pengadilan tinggi, ayah ingin kamu ada di sana sebagai saksi. Terlalu banyak kepentingan dalam kasus ini. Dan ayah punya firasat orang-orang dengan pengaruh lebih besar dari ayah akan melakukan segala cara untuk melindungi diri. Dan jika ayah adalah musuh, mereka tak segan melenyapkan ayah. Akan sangat mudah bagi mereka untuk melenyapkan semuanya jika ayah berdiri sendiri. Ayah memilih kamu karena kamu masih sangat muda. Dan publik akan mendukung serta mendengar suara anak-anak. The power of children's voice. Sederhananya, ayah berlindung di balikmu." Tangannya menyentuh pundak Class.

"So, the plan is ... ?"

Pria itu menarik kembali tangannya. Sedikit heran tapi tidak terkejut. Anaknya sudah sering mengejutkannya dan itu bukan hal yang aneh.

"Aku sudah tahu tentang itu, Ayah," ujar Class. "Aku hanya penasaran pada rencana Ayah setelah ini. Bagian aku sebagai apa di misi ini, aku sudah tahu sejak dulu," ulang bocah itu.

Ayah Class hanya melirik sebentar, membenarkan tempat duduknya, meluruskan kakinya di atas kursi lain. Sambil menghela napas ia berkata, "Oke, Mr. Know-It-All, kira-kira apa yang bisa kamu prediksi dari rencana Ayah setelah ini?" Ia mengganti tampilan layar amoled menjadi gambar bagan yang padat.

THE RESISTANCE: SATU (WATTYS 2017 WINNER)Baca cerita ini secara GRATIS!