3

448 53 2

Hampir jam 1 malam. Blu belum selesai bermain bola basket dengan robot bioniknya. Kaus singlet yang ia kenakan basah oleh keringat. Rambut dan wajahnya juga.

"Idiot! Ambil bolanya, Bodoh!" Blu mengumpat pada robot yang ia tahu tidak dibuat untuk merespons suara. Ia sendiri yang merancang robot itu untuk mengambilkan setiap bola yang terlempar dari ring, yang jauh dari jangkauannya. Robot itu terinspirasi dari lengan manusia yang memiliki alat berpindah berupa bola-bola kecil di bagian dasar. Jika diibaratkan manusia, bagian ketiaklah yang menempel di lantai dan berfungsi sebagai penyangga. Dengan bantuan robot itu Blu hanya perlu fokus untuk mencetak sebanyak mungkin poin ke dalam ring.

"Dasar sampah!" umpat Blu lagi. Sebenarnya ia butuh benda itu tapi ia benci karena belum menemukan kombinasi variabel yang tepat untuk memperlebar radius sensor terhadap bola tanpa menguras daya. Sepanjang melempar, melompat, dan mengumpat, otak Blu sibuk memikirkan adiknya.

Sophie bilang Green akan segera pulang jam 10 tadi, batin Blu.Tapi kenapa sekarang belum sampai rumah? Kenapa pula ia tidak mau menerima panggilan dariku? Aku bahkan tidak tahu kenapa dia marah padaku. Ya, mungkin aku tahu. Tapi aku tak yakin dugaanku benar sebab aku memang selalu sok tahu dan salah, bukan?

Blu menerima bola dari robotnya, memantulkan bola itu ke lantai, lalu berusaha mencetak poin.

Mungkin Green marah karena Mama lebih memilih mengirim kabar padaku bukan padanya. Mungkin Green marah karena brokoli yang ia makan ternyata kurang enak. Aku masih ingat ia bilang, "Biar aku saja yang mengambil makananku sendiri," dengan muka cengengnya.

Hm, barangkali tebakanku yang kedua bisa diabaikan karena agak aneh dia marah seperti itu hanya gara-gara brokoli. Mungkin memang karena Mama.

"Yes!" Blu mencetak satu poin lagi.

Oh, muka cengengnya. Aku benci mukanya. Tapi kenapa setiap orang seperti sepakat menyukainya? Dia tampan kata Rea? Aku lebih tampan. Aku lahir lebih dulu. Aku yang original. Green hanya sisa.

Dari arena basketnya, Blu bisa melihat siapa yang masuk ke dalam flat. Dia seperti orang mabuk.

Selesai melepas jaket, bocah itu berjalan melewati Blu, hanya menatap datar, tanpa mengucapkan apapun.

Oh, dia tidak mabuk. Dia amnesia.

"Sudah makan?" Blu yang bertanya.

Green menjauh dari kakaknya, menuju lemari pendingin dengan langkah gontai. Ia mengambil kotak susu lalu kebingungan melakukan hal berikutnya. "Blu," kata Green dengan suara lemah yang aneh, "apa kamu serius dengan perkataanmu pada Sophie soal khawatir padaku?" Tangannya berpegangan pada tepi meja.

Blu menyodorkan gelas. Anak ini benar-benar mabuk.

"Kau minum?"

"Tidak," jawab Green lugas lalu meneguk setengah gelas susu dengan cepat.

"Kau minum. Aku mencium baunya," kilah Blu.

Green tidak merespons. Atau memang tidak punya tenaga untuk itu.

"Turn TV on!"

Layar amoled built-in di dinding sisi yang berhadapan dengan sofa-sofa menyala. Green merebahkan tubuhnya di sofa panjang.

"Ya, aku serius." Blu mengembalikan topik, mencoba melupakan sejenak debat tidak penting tadi.

"Kau tahu, Blu? Aku sudah memutuskan untuk menginap di sana hingga kamu bilang khawatir dan membuatku berpikir ulang." Green membiarkan matanya terpejam. "Entah khawatirmu serius atau tidak, aku tetap mendengarmu," tambahnya dengan mata terpejam.

THE RESISTANCE: SATU (WATTYS 2017 WINNER)Baca cerita ini secara GRATIS!