9

406 30 0

Beberapa jam yang lalu. 15.10 PM.

Hyperloop ini sedang melaju dengan kecepatan maksimalnya, 1223 km/jam. The Rama Hyperloop merupakan jenis hyperloop dengan desain kursi penumpang menghadap pintu yang tak lain adalah dinding kereta. Di antara deretan itu duduk Green dengan pakaian terakhir yang ia kenakan saat bersama Sophie, kaus putih bergambar segitiga warna monokrom. Sebuah jaket yang bukan miliknya terletak di pangkuan, sedang ia pegang erat.

Bagian dalam pintu hyperloop menampilkan tayangan video on demand dan live yang bisa dipilih. Hanya sekitar 2 sampai 4 orang yang benar-benar menikmati tayangan tersebut dari 25 orang dalam pod ini. Sisanya sibuk mengerjakan sesuatu di smartphone atau berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon dan video calling. Dalam perjalanan menggunakan kereta cepat, penumpang tidak mendapat kesempatan untuk melihat keluar karena jalur kereta tertutup tabung vakum udara. Malangnya Green tidak memegang smartphone dan tidak tertarik untuk menonton tayangan di layar. Ia sebenarnya tidak mengantuk meski orang-orang akan menganggapnya begitu saat sekilas melihatnya.

Green menekan keningnya dengan jari tangan seolah ada yang hendak ia keluarkan dari dalam kepala.

"Apa yang kau suntikkan lewat cincin itu?" Green tidak menghadap ke siapapun, seperti tengah bicara pada bayangan.

"Penenang." Seorang pria berusia sekitar 35 di sebelah kirinya yang menjawab. Wajahnya ditumbuhi cambang serta kumis dan janggut pendek. Kepalanya terpasang topi fedora warna hitam, senada dengan pakaiannya. Ia memiliki rambut yang memanjang hingga dada.

Green menutup matanya meski tidak mengantuk. Ia melakukan itu dengan berharap pusing di kepalanya sedikit berkurang. Namun, nyatanya tidak. Justru ketika ia berusaha membuka kembali matanya, pandangannya kabur dan terasa berat. Sebelum hal buruk ini semakin parah, ia mengingat posisi duduknya saat ini, di ujung. Dan lelaki di sebelah kirinya, yang membawanya ini, sempat memperkenalkan diri sebagai Ivan saat pertama bertemu di kampus tadi. Lalu, bocah lelaki yang duduk setelah pria ini, apa dia juga ikut? Sebelum Green merasa peningnya mencapai puncak, ia tak sengaja melihat bocah itu bercakap dengan Ivan sambil menatap ke arahnya. 

Green tidak bisa merasakan tangan yang memegang kepalanya. Ia sedang menghitung maju hingga akhirnya kesadarannya benar-benar hilang.

***

Green terbangun dengan kepala yang lebih ringan. Hal pertama yang membuatnya bertanya-tanya adalah keberadaannya di hypersonic ini.

"Bagaimana kalian memindahkanku ke kereta ini?" Green yakin kalian adalah kata ganti yang tepat. Saat keluar dari hyperloop yang berhenti di Semarang, ia mendapatkan sedikit kesadarannya. Bocah itu yang menahan lengan kirinya selama melangkah. Jadi ia tidak benar-benar pingsan, simpulnya. Dugaannya benar. Bocah itu ikut bersama Ivan. Entah kenapa Green merasa menyebut nama Ivan adalah hal yang wajar.

"Apa dia sudah bisa diajak bicara?"

Green mampu mendengar bisikan bocah itu dengan jelas.

"Selamat bergabung, Mr. Wijaya. Kita dalam perjalanan menuju Port of Kartini," kata Ivan. Sekarang pria ini mengenakan kacamata hitam, duduk bersandar dengan tenang tanpa beban di kursi kereta. Topi hitamnya ia taruh di atas pangkuan.

"Apa orang-orang yang diberitakan diculik itu juga mengalami hal seperti ini?" Green mengamati bocah yang duduk di sebelah Ivan, yang pura-pura tidak mendengarnya . "Kau juga diculik atau ikut dengannya menculikku?" Green tahu akting tidur Ivan di sebelahnya sangat buruk. "Kalian tidak terlihat berbahaya. Aku bisa menunggu saat kau menjelaskannya, tentang nyawaku yang dalam bahaya sebelum kau menusukkan cairan atau zat apa itu untuk melumpuhkanku." Green mencondongkan tubuhnya, bicara tepat di sebelah telinga Ivan hingga sabuk pengaman di tubuhnya mengencang.

"Hmm...." Ivan merespons. Green terlihat lega lalu mengempaskan badannya ke sandaran kursi. "Lima menit lagi kita sampai," kata Ivan. "Aku mohon kau bisa sedikit bersabar Mr. Wijaya. Setelah kita sampai di kapal dan mendapatkan tempat yang nyaman untuk bicara, aku akan menjelaskannya. Saat ini hanya aku yang menjamin keselamatanmu. Selama kau tidak berada bersamaku, kau dalam bahaya."

***

Port of Kartini adalah pelabuhan khusus penyeberangan wisata ke Karimun Island. Sementara, untuk kebutuhan pengiriman komoditi dagang harus dilakukan melalui jalur pelabuhan di Semarang. Kawasan Port of Kartini sangat sibuk di jam-jam seperti ini, seakan setiap orang ingin menyeberangi Laut Jawa di jam yang sama. Namun, kesibukan yang terlihat dalam bentuk keramaian dan lalu-lalang ini sedikit berbeda dari hari biasanya. Di pintu masuk utama menuju kawasan pelabuhan dilakukan pemeriksaan ketat seolah mereka hendak masuk wilayah Istana Negara. Menurut Ivan, itu adalah buntut dari kejadian di kampus Green tadi siang, ditambah dengan kejadian lain yang bermunculan setelahnya.

"Kejadian lain apa yang aku lewatkan?" tanya Green di sela perjalanan meninggalkan biro pemeriksaan. Ia mengamati orang-orang yang mengendalikan kereta dorong untuk memuat barang bawaan dan melihat beberapa drone besar meliuk di udara, mengangkut sisanya menuju pos pengemasan yang terletak di ujung pelabuhan. Green membandingkan itu dengan dirinya sendiri, lebih tepatnya gerombolan ini: dia dan dua orang asing yang berjalan di sebelahnya. Wisata macam apa yang tidak membawa barang apapun?

"Kepala Polisi Negara mengeluarkan perintah pada kepolisian di setiap daerah untuk mengawasi setiap orang yang keluar dan masuk wilayah mereka. Salah satunya yang datang dari luar kota. Dan terutama pada orang-orang kebal."

Green terkejut karena yang menjawab adalah Classidio, bocah yang bersama mereka, yang ternyata adalah anak Ivan. Untuk sementara Green memercayai itu karena ia belum menemukan alasan untuk tidak percaya.

Green memasukkan tangannya ke dalam jaket kulit yang dipinjamkan Ivan padanya. Meski tidak menyukai modelnya, ia tetap harus memakai jaket jika tak mau suhu 40 derajat Celcius membakar kulitnya.

Green masih merasa tidak nyaman dengan tidak memakai mask protector. Angin laut ini terasa sangat aneh di wajahnya. Di Jakarta, ia tak pernah absen mengaktifkan maskernya setiap kali berada di luar ruangan. Namun, begitu sampai di pintu selamat datang pelabuhan ini dan melihat papan indikator udara digital menunjukkan bahwa cukup aman bernapas tanpa masker, seperti yang dibilang Ivan, Green urung mengaitkan earhook yang kini ia simpan di saku celananya. Kalaupun ada orang di antara kerumunan wisatawan ini yang terpaksa tetap memakai masker, Green tidak menjumpai satu orangpun yang memiliki model seperti yang dia miliki. Orang yang ia lihat itu hanya memakai respirator gas tanpa goggle, dan itu terlihat cukup kuno baginya.

Suara announcer wanita menggema di seluruh bagian pelabuhan. "The Shima Ferries sudah memanggil. Itu kapal kita," ujar Ivan membuyarkan perhatian Green.

***

THE RESISTANCE: SATU (WATTYS 2017 WINNER)Baca cerita ini secara GRATIS!