4

335 40 5

Beberapa waktu sebelum Green menusuk kaki kakaknya.

Green duduk di sofa favoritnya. Ia teringat masa kecilnya. Waktu itu ia masih berusia 7 sementara Blu 9 tahun. Itu adalah kali pertama mereka mendapat izin keluar kota tanpa didampingi orangtua. Mereka baru selesai menyaksikan kompetisi balap motor di The Lido International Circuit dan bergegas pulang menaiki kereta Hyperloop. Pada masa itu perusahaan kereta cepat belum meluncurkan jenis Hypersonic seperti yang saat ini digunakan dalam kota dan antarkota. Lima tahun setelah itu kemunculan Hypersonic perlahan menggeser keberadaan Hyperloop. Awalnya Hypersonic dibuat untuk mengakomodasi transportasi dalam kota saja. Namun karena lebih efisien dalam penggunaan energi dan kapasitas penumpang serta pertimbangan laju perpindahan orang-orang pada jam tertentu, kereta ini menjadi primadona penumpang terutama di Jakarta. Pemerintah lalu mengalihkan Hyperloop untuk perjalanan yang lebih jauh, yakni antarprovinsi dan antarpulau.

Dalam perjalanan menuju stasiun pemberangkatan, Green mengekor di belakang Blu. Di antara kerumunan dan keriuhan orang-orang yang baru selesai menonton balap, Green melihat kakaknya tiba-tiba berjalan lebih cepat dari sebelumnya lalu dalam hitungan detik tiba-tiba kakaknya berlari, menerobos keramaian orang-orang dewasa. Green tidak tahu kenapa ia harus ikut berlari. Green hanya tidak ingin ditinggal. Antara takut dan hendak pecah tangisnya, ia berteriak, "Blu! Blu! Tunggu!"

Nyaris semenit sebelum akhirnya mereka lolos dari kerumunan, Blu berdiri di tepi jembatan penghubung jalan utama menuju stasiun Hyperloop.

"Dia lompat ke sana!" seru Blu.

"Apa?!" Green terengah-engah, berpegang pada salah satu lututnya.

Blu melompat mundur dari tepi jembatan, ke posisi yang lebih aman.

"Kenapa?" tanyanya. "Kamu menangis?" Blu tidak yakin karena wajah Green terhalang mask respirator. "Kakimu!" serunya kemudian.

Darah mengalir dari lutut Green, membuat sebagian besar betisnya nyaris tertutup cairan merah. Kaos kaki yang ia kenakan bahkan tidak berwarna putih lagi.

Dalam jarak sedekat ini, Blu mampu mendengar Green tersedu.

"Sakit," rengek Green sambil mengusap darah di sekitar luka.

"No, it is not." Blu menggeleng. "Tidak sakit. Ini tidak sakit, oke? Aku pernah mengalaminya, di sini dan di sini." Blu menunjuk siku dan dahinya. "Kamu sudah 7 tahun dan kebal. Ini tidak sakit, oke?"

Green menatap kakaknya. "Oke," katanya ragu, "ini tidak sakit," tapi dia masih sesenggukan.

Blu meraih salah satu tangan Green, membantunya berdiri.

"Apa tadi itu? Yang melompat ke bawah jembatan?"

"Oh. Kucing. Aku baru sekali ini melihat kucing sebesar itu. Dan dia tidak butuh masker seperti kita," ujar Blu sambil tertawa. "Tidak sakit 'kan?"

Green menggeleng tapi matanya terlihat menahan perih.

Tidak butuh waktu lama hingga kondisi kaki Green menarik perhatian orang-orang di sekitar. Seorang pria memegang bahu Blu lalu berjongkok di sebelahnya.

"Hei, Nak. Sebaiknya kalian ikut aku. Dan kamu butuh dokter." Pria itu menunjuk Green.

Blu memasang posisi defensif, menolak ajakan.

"Dia saudaramu? Dia terluka, Nak. Kamu harus membawanya ke rumah sakit. Temanku sudah memanggil bantuan medis ke sini." Ia mengedarkan pandangan dan memilih salah seorang yang berkeliling di antara mereka lalu mengangguk. "Ayo, naiklah." Pria itu memasang posisi menggendong di punggung.

THE RESISTANCE: SATU (WATTYS 2017 WINNER)Baca cerita ini secara GRATIS!