7

221 30 6

Blu membiarkan pintu kamarnya sedikit terbuka. Itu artinya ia masih mengijinkan orang lain masuk wilayah pribadinya. Orang lain itu lebih tepatnya ibunya. 

Ia tak ingin benar-benar marah atau terlihat marah. Rasanya, menurutnya, kali ini cukup berhasil. Usahanya untuk mengekang dan mengendalikan perasaan itu memang jarang gagal. Kenyataan ia cepat menjadi pemarah atau mereda memang telah ia sadari sejak beberapa tahun belakangan ini.

Layar kaca transparan yang nyaris tak terlihat di tembok kamar Blu yang berwarna putih ini menyala seperti televisi di ruang tengah. Blu tak benar-benar memerhatikan acara di tv. 

Kemana berita hilangnya orang-orang kebal yang dibilang Mama itu? Mama pasti tahu lebih dulu dari pacarnya.

Blu memutar-mutar jempol di atas joystick segenggaman tangannya, mengendalikan drone mainan dengan navigasi yang buruk. Benda yang tak lebih besar dari jam tangannya itu berputar-putar di langit kamar, mendesing dengan bunyi lembut.

Smartphone Green! seru suara dari dalam kepalanya.

Ia melompat berdiri dari posisi tidur, melepas genggamannya dari joystick dan membiarkan wireless thumb ring pengendali drone tetap melingkar di jempolnya. Ia menggumamkan seuatu untuk mengubah layar kaca tv pribadinya menjadi kotak-kotak video pengawas ruangan-ruangan dalam flatnya.

Mereka sudah pergi; ibunya dan pacar ibunya. Dan itu barang-barang Green. Video dari kamera nomor 3 menampilkan ruang tengah. Empat kursi mengelilingi meja dengan rapi, khas ibunya. Tas Green masih ada di meja tapi tidak terlihat smartphone yang ia cari.

Blu buru-buru menuju ke ruang tengah.

Ia mengeluarkan isi tas Green satu per satu. Kartu-kartu chip dan magnetik untuk membayar, kaca mata goggle, dua batang cokelat, sampah kertas bungkus makanan, remah-remah roti (atau apa ini?), botol minuman kosong dengan stiker inisial G (anak manja), earhook cadangan, dan benda-benda lain. Tak ada smartphone. Blu sempat berpikir ada alat pengaman seks di dalam tas ini tapi ia mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh. Itu lebih cocok ada di dalam tasmu, Blu, ujar suara asing dalam kepalanya.

Blu berputar. Di meja tinggi minimalis yang ditempati speaker nirkabel dan vas untuk bunga palsu, tepat di sebelas pengeras suara itu, smartphone Green sedang diisi daya, diletakkan di atas wireless charger.

I got you!

Blu mengangkat benda tipis itu. Pengisian daya terputus. Lalu dengan hati-hati seperti tidak ingin mengotori layar, ia mengamati benda itu lebih dekat sambil berpikir bagaimana cara membuka smartphone tanpa jari adiknya. Blu duduk di sofa yang biasa ditempati adiknya sambil menonton tv. Ia mengembuskan napas di permukaan layar smartphone dan terus berpikir bagaimana cara membukanya.

Belum semenit berkuat dengan pilihan-pilihan rumit, sesuatu menyentak ingatannya. Sebelum ia masuk universitas, saat ia masih berusia 14, ia pernah membuat duplikat sidik jari untuk dirinya sendiri juga adiknya. Waktu itu ibunya rutin memberi mereka hadiah berupa makanan atau mainan setiap bulan melalui kotak mungil berpengaman sidik jari. Kotak kubus itu berwarna perak polos, tanpa ornamen, dan nyaris tak bisa dibedakan bagian atas atau bawah. Di tepi kanan-kirinya terdapat ruang kecil untuk memindai jari. Untuk membukanya, kotak itu memerlukan dua sidik jari. Ibu mereka bisa membuka dengan menempelkan jempol kanan dan kiri sementara Blu dan Green harus menyumbang satu jari masing-masing untuk bisa membukanya.

"Dengan setting biometric seperti itu, kotak ini memaksa kalian untuk membukanya bersama," kata ibunya. "Tidak bisa Blu sendiri. Atau kamu saja Green. Mama akan menyiapkan hadiah spesial setiap bulan untuk kalian berdua. Mama ingin kalian bisa berbagi sesuatu itu dengan sesama saudara. Sebulan sekali tidak susah kan?" Itu kata ibu mereka setahun sebelum mereka akhirnya memutuskan untuk membuat sidik jari tiruan menggunakan lem dan kertas alumunium.

"Kalau dipikir-pikir, ini menjijikkan. Tapi kalau mama mendapati kotak ini masih ada isinya, mama pasti sedih," kata Blu.

"Bagian mana yang kau maksud menjijikkan?"

"Green? Atau jangan-jangan kau berpikir saat kita menempelkan jari masing-masing di kotak itu sebagai sesuatu yang cool?"

"Bukankah itu seperti di film World War End? Saat pemeran utama menempelkan jari mereka untuk meluncurkan rudal balistik?" Green mengangkat kedua jempolnya.

"Tentu saja kau berpikir begitu. Aku sudah menduganya," keluh Blu. "Kalau saja dari kotak ini keluar rudal balistik, aku juga akan bilang ini cool. Tapi semakin lama, semakin kita dewasa, aku rasa ini bukan untuk anak laki-laki. Kau membuka kotak bersama lalu berseru senang melihat isinya. Huh, sangat cewek."

"Aku koreksi perkataanmu," ujar Green. "Kita belum dewasa, oke? Terutama aku. Lalu, bukankah kau pernah berseru senang saat membukanya?"

"Tentu saja. Siapa yang tidak senang mamanya menghadiahi drone mata-mata? Kau juga pasti senang."

"Tidak," kilah Green.

"Ah. Sudahlah. Aku malas bicara denganmu." Blu beranjak dari tempat duduk.

"Sebentar, Blu."

"Apa?" tanya Blu malas.

"Aku punya ide untuk membantumu mengatasi ini."

"Kau akan bilang ke mama? Pasti kau akan minta mama untuk tidak perlu melakukan ritual ini lagi."

"Tidak," ucap Green.

Blu mengerutkan dahi.

"Aku akan mencoba membuat duplikat sidik jari. Dengan begitu kita tidak perlu membukanya bersama. Kau mau?"

"Tunjukkan caranya padaku."

Setelah sukses membuat dua duplikat sidik jari, mereka menyimpan sidik jari masing-masing. Blu memegang punya Green, begitu sebaliknya. Namun mereka hanya menggunakan benda yang mereka sebut finger-hack itu beberapa kali saja karena suatu hari Blu mulai enggan melakukannya lagi. Ia jenuh dengan hadiah-hadiah. Green sebaliknya. Dia memang lebih sering membuka kotak itu dibanding Blu. Sebenarnya Blu bisa saja menyerahkan urusan kotak berhadiah itu pada Green untuk selamanya. Tapi Blu merasa bersalah jika tidak terus terang tentang hal ini pada ibunya.

"Mam," kata Blu saat mereka tengah sarapan. "Aku mau minta sesuatu."

Setelah Karina mengijinkan anak sulungnya itu untuk bicara lebih lanjut, Blu bilang, "Bagaimana kalau Mama tidak perlu memberi kami hadiah melalui kotak itu lagi?"

"Kau tidak suka hadiahnya?" respons Karina.

"Bukan, Mam. Hanya saja, sekarang aku sudah 15 tahun dan sebentar lagi lulus pre-college lalu masuk universitas. Kurasa hal-hal seperti itu bukan prioritasku lagi."

"Maksudmu?" tanya Karina sambil menyiapkan minum untuk mereka. "Apa kau ingin bilang berbagi dengan saudaramu bukan salah satu prioritas? Apa kau juga merasa begitu, Green?"

"Bukan. Bukan begitu," kata Blu. Ia hampir menyerah.

"Ma. Mama tidak perlu lagi mengisi kotak itu karena mulai sekarang kita sudah terbiasa berbagi. Ya kan, Blu?" Green menarik Blu lebih dekat padanya lalu tersenyum lucu pada ibunya.

Karina hanya tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Mama percaya kalian." Namun ia masih menyimpan sesuatu di benaknya.

***

Tidak susah menemukan duplikat sidik jari Green. Usia benda itu hampir 5 tahun.

Semoga masih bisa.

Blu menekan benda tipis itu di atas layar smartphone Green. Tidak ada efek. Ia memindah ke sudut layar yang lain. Masih sama. Ia mengelap layar smartphone itu dengan kausnya lalu menempelkan sidik jari Green dengan sangat lembut seolah-olah gerakan sedikit bisa membuat benda itu hancur. Lalu layar smartphone itu akhirnya menyala!

***

THE RESISTANCE: SATU (WATTYS 2017 WINNER)Baca cerita ini secara GRATIS!