8

207 33 1

Blu melebarkan layar smartphone di tangannya lalu membuka menu aplikasi traveline, satu-satunya yang ia harapkan bisa memberi informasi keberadaan Green. Setelah berhasil masuk ke halaman awal aplikasi, ia mengubah mode tampilan dari peta menjadi daftar. Ada dua kemungkinan yang terpikirkan olehnya, adiknya pergi dengan sengaja atau yang terburuk, seseorang memang membawanya secara paksa. Dengan berita yang sedang beredar sekarang, kemungkinan Green lenyap karena alasan itu tak bisa ia abaikan.

Karena adiknya pergi tanpa membawa payment card dan smartphone, Green tidak bisa menggunakan transportasi umum. Artinya, tidak bakal ada riwayat perjalanan terbaru yang terekam di aplikasi yang Blu harapkan bisa memberinya petunjuk ini.

Bodoh. Blu memaki dirinya. Ia terpuruk kembali setelah beberapa saat lalu sempat merayakan keberhasilan kecilnya.

Kenapa kau sangat merepotkan, sih! keluh Blu lebih kepada adiknya alih-alih pada smartphone di tangannya.

Muncul pop-up pemberitahuan dari berbagai aplikasi pesan di bagian atas layar. Perhatian Blu teralihkan. Bukan pada pesan-pesan tersebut, tapi pada riwayat perjalanan terbaru Green yang muncul di daftar.

3.00 PM-3.30 PM. 523 km. The Rama Hyperloop. 

Ke Semarang? Dia benar-benar melakukan perjalanan?

Jari-jari Blu tak sabar menekan menu. Seseorang telah membayarkan perjalanannya. Tidak ada nama.

Blu menekan skip ketika muncul tulisan Rate Us or Write Review. Perhatiannya beralih ke baris berikutnya. Di hari yang sama?

3.40 PM-3.50 PM. Semarang lalu ke Jepara? Apa yang dia cari? Bukan dia, lebih tepatnya mereka. Jelas-jelas seseorang telah menanggung biaya perjalanan ini.

Tidak ada lagi catatan perjalanan setelah itu. Itu tujuan terakhir Green. Sejauh ini, Blu berani menyimpulkan bahwa adiknya tidak diculik. Adiknya pergi dengan seseorang. Mana mungkin penculik membiarkan korbannya bersama-sama menggunakan transportasi umum?

Riwayat perjalanan ini sangat akurat karena disinkronisasi dengan rekaman sidik jari. Setiap menggunakan transportasi umum, penumpang harus meninggalkan catatan biometrik dengan memindai jari mereka pada touch panel yang terletak di dekat sabuk pengaman manual. Data yang terekam dimanfaatkan oleh pemerintah untuk membaca pola mobilisasi penduduk secara real-time sehingga berguna dalam mengembangkan transportasi di masa mendatang. Catatan biometrik ini terekam di database kementerian perhubungan dan siapapun yang ingin mengevaluasi perjalanan pribadinya bisa dengan mudah melihat riwayat perjalanan yang telah dilakukannya sendiri.

Anda telah masuk melalui perangkat lain. Data akan diekspor secara otomatis dan dihapus dari perangkat ini dalam 1 jam. Verifikasi biometrik diperlukan untuk menghentikan perintah ini.

Tulisan itu tiba-tiba muncul di layar smartphone, menutup semua tab yang terbuka. Green punya smartphone baru? Siapa orang ini? Dan kenapa Green mau menurutinya?

Layar smartphone berubah menjadi gelap setelah Blu tidak menanggapi pemberitahuan yang muncul itu. Smartphone terkunci otomasi. Muncul countdown 1 jam dengan angka berwarna terang.

Blu belum memutuskan akan melakukan apa setelah ini. Tidak ada rencana brilian yang hinggap di kepalanya. Yang dia butuhkan saat ini mungkin pendapat dari ibunya, Sophie, Umar, atau orang-orang yang berhubungan dekat dengan Green.

Blu kembali ke kamar. Mengedarkan pandangan dan melihat smartphone-nya di atas meja, ia merebahkan diri di kasur.

"Bee." Blu memanggil voice assistant smartphone-nya.

"Who the hell are you?" Layar smartphone merespons dengan suara pria dan menyala terang di meja.

"It's Blu," balas Blu.

"I am ready, Blu."

"Call Sophie."

Smartphone-nya merespons dengan memunculkan layar tab baru, menampilkan foto Sophie.

"Halo, Blu? Apa yang aku lewatkan?" Tak lama setelah panggilan dilakukan secara otomatis, Sophie menjawab dari ujung sana dengan nada tak sabar.

"Eh?" Butuh waktu beberapa saat hingga ia menemukan kalimat yang tepat. "Apa ada sesuatu tentang Green yang tidak aku ketahui?" tanya Blu sambil mengingat perkataan Umar waktu itu.

Sophie tidak segera merespons. Apa ia terdengar mencurigai gadis itu?

"Maksudmu, Blu?"

Blu sadar telah mengajukan pertanyaan yang keliru.

"Bukan begitu. Uhm, sorry."

"It's ok. Bagaimana perkembangan tentang dia?" Untungnya Sophie bukan tipe cewek yang gampang tersinggung. Blu mendadak membandingkan dengan dirinya.

"Dia pergi. Sepertinya dengan seseorang. Aku tak tahu," jelas Blu.

"Pergi dengan seseorang? Dari mana kau tahu ia pergi? Apa dia menghubungimu?"

Blu kebingungan memilih pertanyaan mana yang harus ia jawab dulu.

"Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan dan apa yang orang itu tawarkan padanya. Yang jelas, yang pertama harus kusampaikan padamu adalah permohonan maaf untuk adikku. Seharusnya dia tidak membuatmu mengkhawatirkannya. Atau jika bukan begitu, setidaknya ini permintaan maaf karena telah merepotkanmu tadi siang."

"Oh, Blu. Jangan minta maaf. Biar dia sendiri yang melakukannya jika itu memang perlu. Lagipula, aku tidak keberatan dengan ini. Aku berhak mengkhawatirkannya."

Mereka terdiam untuk beberapa detik hingga Blu merasa seolah Sophie telah memutuskan sambungan telepon.

"Eh, ya. Jadi... hubungan kalian masih baik-baik saja?"

"Oh, ya, tentu saja," balas Sophie cepat. "Sebentar," tambahnya. "Apa yang membuatmu berpikir hubunganku dengan Green tidak baik-baik saja?"

"Eh? Aku hanya memastikan. Jika kalian baik-baik saja, berarti masalahnya hanya pada Green dan orang misterius ini."

"Bisa tidak menggunakan kata misterius? Terdengar menyeramkan. Aku berharap ia baik-baik saja."

"Aku juga," balas Blu.

Blu bangkit dari posisinya, menjejakkan kaki di lantai, menuju dinding kaca yang membatasi kamarnya dari balkon dan udara luar. Ia memandangi lanskap kota Jakarta.

"Kira-kira apa yang dia pikirkan dengan menghilang seperti ini?" Itu pertanyaan buat Sophie.

"Aku berharap punya jawaban untuk itu."

"Apa aku perlu membuat laporan tentang ini pada kepolisian?"

"Sebentar. Apa yang kamu pikirkan tentang orang ... asing ini?" Alih-alih menggunakan kata misterius, Sophie lebih memilih kata asing. "Kau yakin orang asing ini jahat?"

Blu bungkam. Ia memandangi dirinya di dinding kaca sesaat setelah lampu kamarnya menyala sendiri. Ia mengetuk kaca dua kali menggunakan ujung jarinya lalu pemandangan sore di luar sirna.

"Sophie?"

"Ya?"

Blu terlihat merana, kedua tangannya kini berpegang pada meja tempat smartphone-nya tergeletak.

"Aku butuh bantuanmu, tapi aku ingin memastikan tidak ada yang menyadap panggilan melalui sambunganmu dulu," kata Blu. "Ini tentang ibuku."

***

THE RESISTANCE: SATU (WATTYS 2017 WINNER)Baca cerita ini secara GRATIS!