Aku terbangun ketika sebuah tangan kasar meraih kaki kecilku, tangan itu menyentakku hingga aku terduduk dan terjatuh di lantai. Aku mengucek mataku yang masih terasa berat, lalu kulihat seorang laki-laki yang kukenali sebagai adik ibu berdiri garang di depanku.
"Cepat bangun!" bentaknya kasar.
Bukannya beranjak bangun, aku malah mengkeret ketakutan, kudekap boneka kelinci usang kesayanganku.
Om Benny terlihat geram, dia menarik tanganku dan menyeretnya. Aku berusaha memberontak dan mencoba untuk bertahan dengan meraih kaki ranjang yang kujadikan pegangan, sambil berteriak teriak memanggil Ibu yang selalu bisa kuandalkan, selalu ada saat aku membutuhkannya. Suaraku sudah serak, berteriak sekencang mungkin untuk mengalahkan bunyi gemuruh hujan di luar rumah. Namun Ibu tidak datang juga.
Ibu...Ibu...Di mana Ibu? Kenapa dia tidak datang-datang juga?
Pegangan tanganku terlepas hingga Om Benny bisa dengan mudahnya menyeretku yang masih berlutut ke luar dari kamar. Aku terkejut ketika melihat keadaan rumah yang berantakan, kursi dan meja saling tumpang tindih dalam keadaan terbalik.
Om Benny terus menyeretku, aku meringis kesakitan ketika lututku terasa perih karena terkena beberapa pecahan beling yang berseraka di lantai.
Lalu aku melihat Ibu yang tergeletak di lantai ruang tengah, tubuhnya bersimbah darah, dan di sela-sela rambutnya yang berantakan, aku melihat matanya yang terbuka lebar dengan pandangan kosong.
Aku berteriak, lalu kuhentakkan tanganku yang dipegang Om Benny kuat-kuat dan berlari menabrak tubuh Ibu yang kini sudah tak bergerak.
Aku menggoyang-goyangkan tubuh Ibu dengan tangan kecilku, memanggilnya, dan memohon padanya agar dia terbangun dan memelukku, seperti yang biasanya dia lakukan padaku. Tapi Ibu tidak mau terbangun.
Wajah Ibu yang cantik sekarang pucat, matanya yang terbuka menatapku kosong. Aku tidak ingin menangis, Ibu bilang anak lakilaki tidak boleh cengeng. Tapi melihat Ibu yang seperti itu membuatku tidak bisa menghentikan air mataku. Aku meraung pilu, melihat kenyataan bahwa Ibu sudah meninggalkanku.
Aku menatap Om Benny dengan garang, aku yakin dialah yang membunuhnya.
Om Benny selalu jahat pada kami, dia selalu memukuliku atau Ibuyang berusaha melindungiku.
Dipenuhi rasa marah yang mendera hatiku, aku meraih pisau penuh darah yang tergeletak di samping Ibu. Tangan kecilku bergetar, dan sambil berteriak marah, aku menyerang Om Benny dengan pisau yang ada di tanganku.
Tapi kemudian yang kurasakan adalah rasa sakit ketika tubuh kurusku menghantam ubin lantai, kemudian sebuah tendangan mendarat di kepalaku, membuat kepalaku berdengung dan seakan hendak meledak. Lalu di ambang batas kesadaranku, aku melihat api yang berkobar dan kemudian semuanya menjadi...gelap.
***
YOU ARE READING
Dark of the Soul
RomanceMasa kecil Jarvis dipenuhi dengan kekerasan. Dia hidup menderita sampai Liana - seorang wanita yang 15 tahun lebih tua darinya - menyelamatkannya dan memberinya kehidupan yang layak. TapiJarvis harus rela membuang hatinya bersama dengan...
