1. No 94

72 11 2
                                        

Rambut tokoh utama setelah baca cerita ini.
•••

Sabtu, 13 Januari 2018.
08.30 WIB.

Jari perempuan itu bergerak lincah diatas layar handphonenya yang menampakkan sebuah foto seorang lelaki berseragam futsal bernomor punggung 94 dengan sebuah nama diatas nomor tersebut. Raditya.

Terlihat disana lelaki itu sedang membelakangi kamera bersama beberapa temannya yang bersergam sama maupun tidak yang sedang duduk ditempat yang terlihat seperti kantin. Matanya sedikit membesar menyadari beberapa dari orang dalam foto tersebut adalah orang yang dikenalnya sebagai teman satu sekolahnya dulu, saat SMP.

Tangannya menekan tanda lokasi pada foto tersebut yang baru saja di post beberapa menit oleh salah satu teman lelaki itu yang diambil secara candid.

"Nah, sekarang kita rapih rapih cantik," seru perempuan itu bergegas menuju kamar mandi untuk mandi setelah mencharger hpnya yang lowbat.

Seusai urusannya dalam kamar mandi, perempuan itu berganti baju dengan pakaian yang amat sangat dia hindari semasa SMP nya. Dress selutut berwarna hitam bergaris putih tipis pada bagian sisi bawahnya dengan pita hitam dilehernya. Dan sepatu boots berwarna hitam.

Seusai berpakaian rapih, dia mulai memoles wajahnya dengan bedak baby padat serta lips blam agar bibirnya tidak begitu terasa kering, lalu menggerai rambutnya dan memakai beberapa carik rambut palsu berwarna coklat gelap pada bagian belakang dan samping kiri-kanan kepalanya dengan jarak tak tentu karena stoknya yang memang hanya sedikit. Tak lupa memakai soft lens berwarna orange pada matanya.

Dimasukannya novel, ponsel, tempat soft lens, power bank beserta kabelnya, headset, kaca mata gaya berlensa bening, dompet mininya, serta kipas berbaterai mini yang sering menemaninya ketika kepanasan, tidak lupa dengan tisu kering dan basah ke dalam sling bag putih bercorak menara eiffel pada bagian penutupnya.

Dia mulai keluar kamar setelah mengunci pintu kamar lalu mulai menuruni tangga.

Ketika sampai pada bagian ruang tengah rumah, dia bertatap muka dengan mamanya serta kakak dan adik perempuannya.

"Echa mau kemana?" tanya --Lea-- Mama nya. Disusul tatapan kakak nya yang semula menatap tv dihadapannya.

"Mau nonton futsal temen, ma." ucap Echa berdiri disamping Mamanya yang duduk dibagian pinggir sofa.

"Lo pake rambut palsu ya?" tanya Kakaknya. Alisyha. Atau biasa dipanggil Icha. Menatap Echa dengan tatapan penuh tanya. Lantaran salah satu peraturan dari papa nya adalah, 'dilarang mewarnai rambut, untuk rambut palsu pengecualian, tujuh carik rambut palsu dalam 1x seminggu'

Itulah yang Echa ingat.

Echa melirik rambutnya sekilas, lalu menyengir kuda pada kakaknya yang memutar matanya malas.

"Iyalah, gue masih inget peraturan papa keles. Dibotakin iya nanti hayati," katanya dengan beberapa kalimat bergurau.

"Gue kira, biar gue yang aduin gitu ke papa. Sekalian, biar dia pulang lebih cepet, gue mau minta jatah thr kemarin,"

"Bantuin papa maksud lo?"

"Iyalah, kalo kagak inget itu punya dia juga tangan gue udah kiting sekarang,"

"Lagi ngetik kagak inget waktu,"

"Wifi nganggur bro," Echa terkekeh sambil menatap kakaknya malas.

"Najisun," tatapannya berpindah pada mamanya yang memainkan ponselnya santai. "Yaudah, Echa jalan ya? Assalamualaikum," ucap perempuan bernama Echa itu setelah menyalimi punggung tangan mama dan kakaknya, serta adiknya yang mencium punggung tangannya.

"Iya, waalaikum salam. Hati-hati, kalo mau dijemput telepon aja."

"Pasti ma." balas Echa saat diambang pintu. Matanya celingak celinguk melihat jalan daerah rumahnya yang terbilang sepi. Kakinya mulai melangkah menjauh dari rumahnya menuju jalan raya untuk naik angkutan kota menuju sekolahan yang ia tuju.

Ketika angkutan kota yang ia tunggu tunggu datang, tangannya melambai menghentikan gerakan angkutan kota itu tepat dihadapannya. Dia duduk pada bagian belakang supir agar mudah saat turun nanti.

"Mampus kacamata gue," gumam dia menepuk jidatnya, bisa dibilang dia perempuan yang cepat lupa akan sesuatu. Bahkan kacamata yang baru saja dia taruh dalam tasnya saja, dia sudah lupa dan berfikiran tidak dibawa alias ketinggalan.

Lalu dia memakai kacamata itu yang berbantal lucu. Matanya tertuju pada jalanan tanpa menghiraukan suara hpnya yang sedari tadi berbunyi pada beberapa aplikasi hpnya karena suaranya yang berbeda-beda.

Jalanan cukup terbilang lancar hingga membuatnya sampai pada tujuan lebih cepat, diluar dugaannya. Jantungnya bergemuruh ketika melihat gedung bertingkat tiga berdiri tegak didepan matanya. Dipenuhi beberapa orang yang seumuran dengannya yang ramai pada bagian luar gedung maupun dalamnya. Dia mulai risih melihat keadaan tersebut, termasuk ketika melihat segerombolan orang orang yang familiar dimatanya sedang mengobrol ria pada bagian sisi kanan pagar gedung.

"Kiri bang," setelah membayar pada sang supir, dan turun dari angkutan kota. Dia berjalan masuk membiarkan semua tatapan tertuju padanya. Sedari tadi dia hanya berucap doa dalam hati semoga orang-orang itu tidak mengenalinya dengan cara berdandan dia yang sangat jauh dari kata kebiasaannya.

Dia tidak terbiasa dengan pakaian yang feminim seperti saat ini, dia biasa terlihat tomboy dan mulai berpakaian seperti ini ketika dia memulai semuanya dengan kebohongan dan kepura-puraannya yang bahkan tidak diketahui siapa-siapa termasuk sahabat dan keluarganya. Keluarganya mungkin merasa aneh dengan cara dandan dia yang berubah 180 derajat, tapi mereka sama sekali tak curiga dengan maksud lain dibalik cara berdandannya dia ini.

Perempuan itu bernama Anesha Liliana Leanna, perempuan kelas sepuluh pada salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri di Jakarta yang sama sekali jauh dari kata favorit. Setidaknya negeri. Itulah yang selalu ada pada fikirannya. Lebih sering dipanggil Echa oleh keluarga, teman SD, SMP. Dan dipanggil Anna oleh teman SMA nya.

Dia perempuan yang sering dilingkupi kata menyerah dan kata itu menghilang seketika setelah apa yang dia inginkan sejak SMP dulu terwujud saat SMA dan hanya tinggal satu hal yang belum bisa ia wujudkan keinginan SMP-nya sampai saat ini.

Lelaki itu.

"Gue udah bisa dapet nem bagus, sekolah favorit, jadi ketua pramuka, sekaligus anggota OSIS, semua yang gue inginin waktu gue SMP udah pada kewujud setelah gue menginjak kelas 10, tinggal satu hal yang gue inginin ketika SMP yang saat ini belum bisa gue wujud in yaitu, elo. Bismillah, lagi proses. Dan, semoga berjalan lancar. Amiin," ucapnya saat itu. Dihari ketika dia resmi sebagai ketua ekskul pramuka serta anggota OSIS. Dan, mulai hari itulah motivasi hidupnya semakin berkobar hebat.

.
.
.
.
.
•tbc•

Salam,
Tari

StalkerMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon