Chapter 1

17 2 0
                                        

Delisa pov's

Pagi ini aku sudah siap dengan seragam abu-abu dan sepatu sneakers ku. Sepatuku ini berhak tinggi, meski dilarang di sekolah tapi aku senang memakainya. Bukan karena aku pendek dengan tinggi hanya 160cm, tapi karena sepatu ini dapat dijadikan senjata jika ada penjahat. Hehe bercanda ding!

Aku pergi ke luar menuju rumah Aldy. Aldy adalah sahabatku. Rumahnya ada di sebelah rumahku. Kami satu sekolah di SMAN Teladan 1, sekelas lagi. Kami kelas XI sekarang. Tahukan kalo anak SMA kelas XI pasti nakal-nakalnya.

Aku mengetuk pintu rumah Aldy lalu masuk begitu saja seperti rumah sendiri. Ada Papa Reyhan yang masih terlihat muda diusia 40annya sedang memasak dengan lihainya. Papa Reyhan adalah papanya Aldy, mamanya Aldy meninggal waktu aku dan Aldy masih kelas VII. Jangan ditanya betapa terpukulnya Aldy. Aku masih ingat bagaimana dia dulu sangat pendiam dan juga kaku.

"Pagi Papa Reyhan yang ganteng" sapaku pada beliau. Jangan kaget kenapa aku memanggilnya Papa. Keluargaku dan keluarga Aldy sudah seperti saudara. Aldy juga memanggil orang tuaku seperi aku memanggil mereka.

"Pagi juga sayangku Delisa yang cantik. Tenyata kamu udah siap ya buat ke sekolah" kata Papa Reyhan.

"Iya dong Pa. Aldy mana, Pa?"

"Dia belum bangun. Kamu bangunin aja ke kamarnya sana"

"oke, Pa"

Aku menaiki tangga menuju kamar Aldy. Aku memang sudah biasa ke kamarnya Aldy, begitu juga dengan dirinya yang juga sudah biasa ke kamarku. Kulihat foto-foto berjejer rapi di dinding. Foto-foto keluarga. Sampai di depan kamar Aldy aku pun mengetuk pintunya beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Ku buka pintunya ternyata tidak dikunci. Akupun masuk ke dalam kamarnya. Aldy sedang tidur dan dia toples.

Oh my God

Selimutnya hanya sebatas pinggangnya saja. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Malu sekali rasanya. Tapi kalau tidak kubangunkan bisa-bisa kami terlambat nanti karena aku mau nebeng dia. Aku mengintip dari sela jari-jariku dan berjalan pelan mendekatinya. Aku duduk disamping tempat tidurnya. Kuperhatikan wajahnya yang damai. Tak bisa kupungkiri bahwa Aldy memang ganteng, tapi aku lebih tertarik dengan perutnya yang kotak-kotak. Sixpack ew..

Aku menurunkan tanganku dari wajahku dan mulai menyentuh sixpack di perutnya. Dulu waktu SMP dia tidak memiliki perut seperti ini. Dulu perutnya datar, tapi sekarang jadi roti sobek yang sangat menggiurkan. Aku penasaran dan ku pencet-pencet sixpacknya. Keras ternyata. Hehe

Kakak laki-lakiku, Malik. Dia juga memiliki perut kotak-kotak. Bedanya punya Malik ada 8 sedangkan Aldy ada 6. Lebih bagus milik Aldy sih. Duh, aku mikir apa coba. Aku tidak sadar jika tanganku masih meraba-raba perutnya.

"Ehem, sudah puas mengagumi perutku Delis si Delicious?"

Deheman dari si pemilik sixpack ini membuyarkan lamunanku. Aldy ternyata telah memperhatikanku daritadi dan sekarang dia sedang menatapku dengan mata elangnya.

Sial!

Rutukku dalam hati. Wajahku memerah dan aku langsung bangkit dari tempat tidurnya. Aku mengumpat dalam hati.

"Siapa juga yang mengagumimu. Aku hanya,, aku,, han,,"

Ya ampun, kenapa aku bisa jadi gagu begini sih. Dasar bodoh. Kulihat Aldy tersenyum mengejek. Double shit!

"Sebaiknya kau keluar sekarang, kalau tidak kita akan terlambat sekolah hari ini" katanya padaku.

Hey harusnya aku yang bilang agar kau cepat mandi kalau tidak nanti kita terlambat. Dasar!

Namun tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirku. Akupun langsung keluar kamar begitu saja. Aku tidak perlu mengatakan bahwa aku menunggunya karena dia pasti tahu. Ku dengar dia tertawa keras sekali.

"Akan kubalas kau nanti" kataku.

Aldy pov's

Dasar Delisa sialan!

Untuk apa dia melakukan hal itu. Meraba-raba sixpack ku. Hey aku ini juga cowok normal. Tindakannya semakin mengeraskan junior yang selalu bangun di pagi hari. Aku harus mandi air dingin segera dan menjelaskan kepada juniorku bahwa itu hanya Delisa.

"Itu hanya Delisa Junio. Delisa adalah sahabatmu" kataku.

"Tapi Delisa tetap cewek" batinku berkata.

Aku langsung mengguyur badanku.

Selesai bersiap-siap aku turun ke bawah dan melihat Papa dengan masakannya yang lezat seperti biasanya. Papaku punya hotel dan dia koki yang hebat juga. Meski masih enakan masakan Mama sih.

Hmmm, bukan saatnya bersedih.

"Pagi, Pa" sapaku sambil duduk di kursi meja makan.

"Pagi juga my boy. Ayo kita makan dulu. Kau sudah ditunggu oleh Delisa dari tadi"

"Iya, aku tahu"

Kami makan sambil berbincang-bincang ringan di pagi hari. Papaku tidak menikah lagi. Beliau berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagiku. Meski memang rasanya berbeda, tapi aku sadar beliau telah berusaha keras. Aku sebagai anak yang baik sangat menghargainya. Papa selalu menyempatkan memasak sarapan untukku, makan pagi, mengobrol, bermain PS, jalan-jalan di akhir pekan, pokoknya semuanya. Terkadang aku juga curhat pada Papa. Tapi aku lebih banyak curhat dengan Delisa sih.

Selesai makan aku yang mencuci piring. Papa berangkat kerja di bisnis barunya yaitu restoran yang baru diresmikan minggu lalu. Aku mengeluarkan motor Ninjaku yang kupanggil Red. Aku memang penyuka warna merah. Kulihat Delisa sudah menunggu di depan.

"Lama banget sih" katanya.

"Udah naik aja, bawel" suruhku. Dia duduk di belakang dengan helm pinknya. Sebenarnya aku benci helm itu, tapi Delisa tidak mau menggantinya. Setelah dia duduk di jok motorku, aku pun melajukan motorku menuju sekolah.

"hari ini ada pr biologi, kamu udah ngerajin belum?"

"Udah"

"jangan lupa nanti kamu ada latihan basket habis sekolah. Aku nunggu kamu sampek selesai ya"

"hmmm"

"Nanti aku juga mau ke toko buku dulu, kamu harus nganterin aku"

"hmmm"

"nyebelin banget sih Cuma jawab hmm terus dari tadi"

"Iya"

"huh, dasar kamu itu ya"

Delisa itu udah kayaksekertaris aja. Masak jadwal kegiatanku yang hafal dia sih. Sepertinya diasudah tidak malu lagi gara-gara kejadian tadi pagi. Buktinya dia sudahbercerita hal-hal yang tidak penting. Sampai di sekolah kami masuk ke dalamkelas. Aku dan Delisa selalu satu kelas dan sama-sama jurusan IPA. Sampai dikelas pelajaran dimulai seperti biasanya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 13, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Between UsStories to obsess over. Discover now