[00] Prolog

137 12 0
                                        

KURANG ajar sekali!

Hari ini menjadi hari apes bagi Airin. Bagaimana tidak? Davin baru saja memutuskannya! Iya, putus!

Kejadiaannya di depan ruang tata usaha sekolah, ketika Airin sedang menaruh kartu SPP-nya. Disana ada Davin, di dekat pintu masuk ruang tata usaha. Airin hendak menyapanya mumpung ia sedang bahagia, sebelum perempuan bermata bulat itu melihat Davin sedang merangkul Ola, sahabatnya sendiri.

Catat. Sahabat Airin.

"KENAPA. ELO. ADA. DI. HP. GUEE?!"

Airin itu berteriak marah menatap layar ponselnya. Baru saja merebahkan diri di kasur, emosinya sudah meluap kembali. Perempuan itu memasang foto dirinya bersama Davin sebagai wallpaper. Ia mencak mencak sendiri saat menekan tombol power dan sontak terpajang jelas foto pacarnya--ralat, mantannya.

Kenapa sih, sebatas wallpaper jadi pengingat bagi Airin seolah mengatakan bahwa hari ini Davin bukan lagi pacarnya.

Ah, berhenti.

Nanti kesannya Airin jadi lemah.

TAPI AIRIN JUGA ENGGAK BISA KAYAK GINI! Dan... dan, Airin juga tidak melayangkan protes sepatah kata pun saat Davin dengan entengnya berkata,

"Oh, Rin. Sorry kita putus. Gue udah sama Ola,"

Mati aja lo, Davin!

Airin merasa bodoh seketika. Ketika dirinya bodoh ditambah dengan perasaan kebodohan, makin menjadi kekesalan seorang Airin Malaika.

"Lo kan mantan, Vin. Ganggu hari gue aja lo," Airin mengganti wallpapernya dengan gambar bunga matahari. Airin menarik napas. Jujur, sebenarnya ia juga merasa, Airin tidak tahu, hatinya seperti dipukul sejak jam pulang tiba.

Suara perempuan itu bergetar. Namun ia menahannya sekuat tenaga, "Lo itu cuma deketin gue karena Ola, gue baru ngerti." Ia menghapus semua log panggilannya dengan Davin, yang baru ia sadari selama ini hanya Airin lah yang menelepon Davin.

Air mata bergumul di pelupuk netra Airin. Jari mungilnya segera menghapus jejak tersebut. "Sebodoh itu gue, ya? Naif lagi." Airin memblokir kontak Davin dari ponselnya, lalu ia hapus kontak lekaki tersebut secara permanen.

"Ola, kok lo gini sih, La?" Gumamnya merasa kecewa, namun lagi lagi ia tahan perasaan itu. Enggak, Airin yakin dirinya yang bersalah. Salah Airin karena tidak sadar bahwa Ola menyukai Davin begitu pula sebaliknya. Salah Airin karena ia menerima tawaran Davin untuk menjadi pacar lelaki itu. Salah Airin, karena terlalu senang ketika Davin mengungkapkan perasaannya yang palsu.

Semua salah Airin. Airin yakin itu.

Airin mematikan ponselnya. Sudahlah. Grup kelas ramai, Airin yakin kabar putusnya dengan Davin, sekaligus kabar jadiannya Ola dengan Davin sudah menyebar secepat itu.

Andaikan perasaannya juga bisa menghilang secepat itu. Pasti ia tidak akan menangis malam ini, hingga esok paginya, Airin menjadi tidak peduli walau di cuaca mendung ia memakai kacamata hitam.

Biar saja, sekalian biar Davin ilfeel padanya! Eh tapi jangan. Kalau bisa, bikin Davin menyesal karena telah memutuskannya!

Pokoknya, Airin harus buat Davin menyesal. Apapun caranya.

***


Jika ada salah kata, mohon bantuannya untuk koreksi bersama.
Jangan lupa beri suara atau tinggalkan komentar :)

Luv, Runa.
31 Mei, 2020.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 31, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Lemonday Stories to obsess over. Discover now