SATU

103 12 8
                                        

Warning!!! Typo bertebaran!! Lebih baik vote dahulu sebelum membaca.

Putri menatap sekeliling nya, ia membuang nafas nya saat melihat sekolah begitu sepi. Putri berjalan menuju lorong koridor yang sudah dipastikan sepi. Ketika dia berpas-pasan dengan cleaning service, ia akan tersenyum sambil menundukkan sedikit kepalanya.

Sampailah dia didepan kelas laki-laki-sekaligus kelas nya-yang selalu dia paksa untuk melakukan apapun itu. Dan laki-laki itu juga adalah teman sekelasnya sendiri sekaligus teman sebangkunya. Putri langsung masuk dan berjalan menuju tempat biasa laki-laki itu duduk. Dan menaruh kotak berwarna biru bergambar Doraemon diatas meja itu.

Putri menatap kotak itu dengan intens, menggeser sedikit agar kelihatan lurus dan rapih. Lalu menatap sebentar, menyipitkan sedikit matanya beberapa saat setelah itu ia tersenyum senang.

Ia keluar dari kelas itu dengan senyum yang tak pernah luntur. Setelahnya dia berjalan menuju kantin. Saat sudah sampai di depan kantin, Putri melihat beberapa anak. Mungkin mereka belum sempat sarapan jadi mereka memilih untuk sarapan disekolah. Putri duduk di salah satu meja dan mengeluarkan novel tebal yang belum sempat ia baca.

***

Seorang laki-laki masuk ke dalam kelas dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku dan muka yang sangat datar. Ya, dia Alva.

Alva berjalan menuju tempat duduk nya. Pertama kali yang dia lihat adalah kotak berwarna biru yang bergambar Doraemon terletak diatas mejanya dengan rapih.

Ia duduk di bangkunya tetapi tatapan nya masih tetap melihat ke kotak yang terdapat dimejanya. Dia sudah tahu siapa yang memberi nya ini. Tangannya mengambil sebuah note yang tertempel diatas tutup kotak itu.

'Di makan ya. Ini buatnya dengan sepenuh hati lohh. Kalo sampe ga di makan awas aja. Ga akan segan segan gua buat masalah lagi.'

Setelah membaca note yang berada di atas tutup kotak itu, ia menatap kotak itu dengan malas. Alva menghela nafas dengan kasar, lalu Alva melihat ada seorang cowok kutu buku lewat di samping nya.

"Eh lo." Tunjuk Alva ke arah cowok kutu buku itu.

"Sa-saya?" Tanya kutu buku itu dengan telunjuk kanannya menunjuk dirinya sendiri. Lalu melihat ke kanan - kirinya apakah ada seseorang yang dimaksud Alva?

"Iya elo. Emang siapa lagi." Jawab Alva dengan datar dan menyilangkan tangannya didepan dada.

"Ke-kenapa ya?" Kata kutu buku itu. Dino namanya.

"Tuh. Lo ambil. Buat lo makan." Ucap Alva dengan dagu yang menunjuk ke arah kotak biru itu.

"Bu-buat sa-saya?" Tanya Dino bingung sambil menaikkan kacamata nya yang turun sedikit.

"Hmm." Hanya itu yang keluar dari mulut Alva.

Dengan ragu-ragu Dino mengambil kotak itu. Menatap kotak itu dengan perasaan bahagia. Ya, sejak tadi pagi Dino belum sempat sarapan.

"Makasih." Ujar Dino lalu berlalu dari hadapan Alva.

---

"Ayolah Alva." Entah sudah berapa kali Pak Yahya mengucapkan kalimat itu.

Alva memutar bola matanya jengah menatap sekeliling kelas nya, semua nya menatap Alva, tanpa terkecuali Pak Yahya yang terkenal sangat menakutkan sedang menatapnya dengan tatapan memohon.

"Kenapa harus dipikirin sih Pak? Biarin aja dia mau ngapain. Toh ga bakal ada yang bisa marahin dia kan" Tanya Alva kepada mereka.

"Iya, tapi kamu tau kan apa yang akan terjadi jika ini dibiarkan." Terlihat dari wajah Pak Yahya bahwa Pak Yahya sudah lelah membujuk Alva yang selalu menolak permintaannya.

Why I'Am?Where stories live. Discover now