Moving In

144 13 0
                                        

"Hmm.. Iya, ini juga baru sampai, nini. Iya, agak besar tapi suka kok." Wanita tersebut tersenyum saat ia berjalan mengelilingi tempat yang bakal menjadi tempat tinggalnya hingga sampai nanti kedua orang tuanya kembali dari tugas dinas mereka yang panjang. "It's okay nini, I don't think I'm gonna change it. Lagian juga yang milihin tempat ini kan nini, makanya suka, thank you nini... Hmm, I will... I love you too." Dia kemudian menutup teleponnya dan berjalan menuju kamar tidur yang masih kosong dengan berbagai pernak-pernik kecil yang seharusnya menghiasi kamar barunya tersebut. Ia pun menduduki spring bed yang baru saja di bawa masuk oleh petugas yang orang tuanya sewa untuknya. Ini merupakan pertama kalinya ia akan tinggal sendirian, biasanya kalau tidak tinggal bersama nini--- nenek--- dan grandpa, berarti dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Namun, beberapa bulan ini, kedua orang tuanya disibukan dengan pekerjaan yang sangat rumit dan membuat kedua orang tuanya harus bolak-balik luar negeri. Nenek dan kakeknya tinggal di Naples, Italia, sebuah kota di tepi pantai yang sangat indah. Dia tersenyum saat membayangkan betapa indahnya kota kakek dan neneknya tersebut. Kakek dan nenek disebelah ayahnya tinggal di Pulau Jeju, pulau yang sangat amat cantik di Korea Selatan. Sedangkan dia harus tinggal di Seoul karena baru saja ia diterima menjadi seorang mahasiswi Psychology, sebenarnya dia sudah diterima di sebauh universitas Italy, Università Cattolica del Sacro Cuore, tapi semua berubah setelah dia mengenal KPOP. Iya, KPOP-- Korean POP. Jadi awalnya dia hanya suka mendengar lagu-lagu dari berbagai bahasa karena menurutnya bahasa di setiap negara itu unik dan cantik, namun ternyata, salah satu dari teman dekatnya meracuninya dan akhirya dia pun mencoba untuk tes masuk ke Seoul National University dan ternyata lulus oleh karena itu, akhirnya ia tidak jadi berkuliah di Italy. Mengingat kejadian itu, ia hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa dan masih dapat dibayangkan betapa terkejutnya orang tuanya mengetahui bahwa anak semata wayangnya itu lulus di Universitas Korea, awalnya kedua orang tuanya tidak menyetujui karena menurut mereka pendidikan di Italy lebih bagus dibandingkan di Korea tetapi setelah membujuk dan berunding dengan kedua orangtuanya akhirnya, wanita ini yang akrab disapa dengan Belle-- Clarabelle Valerio Park -- Belle sendiri merupakan keturunan Korea-Italy. Ayah dan Ibunya bertemu dan jatuh cinta saat keduanya sedang menempuh sekolah tinggi di London, tepatnya di Harvard University. Mereka merupakan senior dan junior di universitas yang sama, jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk menikah saat mereka lulus dari Universitas dan pindah sesuai dengan pekerjaan sang ayah, yaitu sebagai dewan direksi disebuah perusahaan ternama di London dan begitu pula dengan ibunya yang juga merupakan sebuah dewan direksi utama di salah satu perusahaan swasta terkenal di London yang membuat Belle di titipkan kepada kedua orang tua ibunya yang saat itu dapat berpindah-pindah tempat bersama dengan kedua orang tuanya, sedangkan kedua orang tua ayahnya tidak bisa berpindah tempat dikarenakan usaha restaurant yang dimilikinya. Belle mengedipkan matanya dan ia pun kembali tersadar dari mimpi siang bolongnya, ia tersenyum dan kemudian mencoba menggapai kearah bola lampu yang tepat berada di atas kepalanya.

"Mulai sekarang, aku adalah Park Yoorin." Senyumnya sambil menggenggam udara yang tak mungkin di genggamnya, karena ayahnya adalah orang Korea, otomatis nama belakang sang ayah akan melekat di namanya, Park, Clan Park. Sedangkan Yoorin, merupakan sebuah nama yang diberikan oleh neneknya dari sebelah ayahnya dan dia sangat menyukai nama Yoorin tersebut. Ia kemudian bangkit dari kasur sambil menarik nafas sebelum ia mulai menata kembali barang-barang yang berada di dalam kotak.


"Ah, capek juga." gerutunya saat ia membaringkan tubuhnya yang letih itu di atas sofa pinknya yang empuk, sebelum menempati apartment ini, nini kesayangannya bersedia datang dari Italy hanya untuk memilihkan tempat yang layak untuk cucu satu-satunya ini. Berdua, nini dan nana-- nenek sebelah ayah-- pun mensurvei tempat tersebut berserta dengan perabotan yang cocok dan pas untuknya. Makanya saat ia tahu bahwa kedua kesayangannya sibuk memilihkan tempat untuknya, Yoorin hanya bisa tersenyum dan mencium kedua pipi nini dan nananya tersebut sambil mengucapkan terima kasih. 

"Oh iya, aku ingat nana menyuruhku memberikan itu kepada tetangga." Sambungnya lagi sebelum beranjak dari sofa empuknya, ia berjalan menuju dapur yang dimana sudah tertata rapi dengan beberapa tupperware yang berada di atas counter island. Yoorin membuka tutup  tupperware hanya untuk menemukan ketiga potong rice-cake yang diberikan oleh nana saat ia membeli apartment ini. 

"Sebaiknya aku harus berdandan rapi dan mengantarkan ini kepada tetangga dan kemudian berjalan sebentar." Senyumnya dan kemudian ia berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya dan bersiap-siap untuk menemui tetangganya.



  ✖ ✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖✖ 

NeighborWhere stories live. Discover now