"Dinding-dinding membatasi tiap langkah peristiwa, membunuh sejatinya pemilik peristiwa. Merengkuh penuh luka, kubiarkan tersibak sayat dan robek. Tak pernah berdarah, mungkin beku didalam. Nyatanya pedih tidak mengandung luka. Yang tertinggal adalah rasa, kesadaran barulah tiba. Yang diegokan adalah otak, hingga acuhkan hati. Tidak berperasaan. Kontemporer mempertemukan yang berbeda rasa. Sebutlah Kiffarah sebagai timbal-balik yang terjadi disebelumnya. Duduk saja dan menunggu, dia akan membuat hati kacau balau dengan sendirinya. Keberuntungan memihaknya, karna pencipta biarkan dia menyaksikanku"
Aku akan biarkan masa lalu beredar dalam angan dan khayal. Mendesak penuh dalam otak. Semenjak saat itu, masa SMA yang menjadi sejarah. Kala Naeswari sebagai tokoh aku bergerak mundur mengikuti plot, menerka-nerka tiap kejadian. Sejujurnya, larut dalam kenangan itu akan menyebabkan pilu berat atau rindu berat. Bicara tentang masa lalu, yang kita lakukan adalah mempelajari yang berarti baik dan meninggalkan yang berarti buruk. Entah dimana letakmu sampai kini? Apakah ada yang harus kupelajari atau ada yang harus kutinggalkan. Sampai saat ini sulit terganti, bahkan sulit dipungkiri untuk tidak teringat.
Kala Naeswari , yang memiliki arti perempuan yang pendiam dan jujur. Nama yang sangat mempesona, aku yang memuji. Mata sipitku membuat orang akan berprasangka aku memiliki keturunan Chinese, benar memang aku blasteran tapi blasteran Jawa, Bugis, Toraja bukan Chinese. Aku cukup tinggi untuk seukuran anak SMP, bayangkan saja aku seperti Marshanda tempo dulu dan Alika Islamadina dijaman yang mulai kekinian ini. Aku tidak mempesonakan diriku sendiri tapi ya itu pandangan dari banyak orang. Menempati sebuah rumah nyaman dengan hangat keluarga sebagai Anak Sulung. Rantai kehidupanku hanyalah tidur – mandi – makan - sekolah – belajar dirumah begitu saja terus berputar. Bisa bernafas saja sudah termasuk kebahagiaanku, ditambah lagi dengan dikelilingi orang-orang yang menyayangiku.
2006, Bangku sekolah dengan ciri khas pelajar berseragam Putih Biru . Tak lama aku akan beranjak dan tak duduk disana lagi, umurku semakin beranjak dewasa. Ah aku pun takut menjadi orang dewasa. Banyak orang dewasa pun ingin menjadi anak-anak lagi, yang kudengar menjadi orang dewasa itu sulit. Apalagi bicara soal cinta, cinta monyet saja sepertinya menyulitkan bagaimana dengan cinta yang dialami orang dewasa. Makanya aku lebih baik tidak merasakan jatuh hati dulu, dibandingkan itu menyusahkanku saja. Lebih baik pikirkan saja nilai di hasil ijazahmu nanti, tidak seperti laki-laki yang duduk dibelakangku itu. Hattala Jaladri yang memiliki arti nama samudra madu , laki-laki itu merenung diam duduk di bangkunya. Yang tersiar di kelas Hattala sedang patah hati, ah tau apa anak kecil tentang patah hati. Dia sepertinya terlalu cepat dewasa, berlagak patah hati lalu stress seperti orang dewasa.
Semenjak tersebarnya berita Hattala mengalami patah hati karna Si Mayoret Marching itu dekat dengan sahabatnya sendiri, kelakuannya semakin aneh, sikap tengilnya semakin mendarah daging. Kami awalnya tidak terlalu dekat, aku hanya tahu sedikit saja tentang dia. Tapi saat itu, hubungan kami terasa dekat. Sepertinya dia menghibur dirinya dengan menggodaku. Mulai dari menggangguku saat akan pergi ke kantin, di kelas, hingga saat pulang sekolah, tidak henti-hentinya dia menggangguku. Beberapa teman pun mengejek, mereka bersangka-sangka Hattalah tengah menyukaiku atau kami menjalani hubungan layaknya orang berpacaran. Aku pun tidak menanggapi itu serius, karna yang terpacu didalam otakku adalah belajar, belajar, dan belajar. Tidak peduli ada yang bicara apa, termasuk soal perasaan. Lagipula aku akan beranjak SMA dan tidak akan bertemu dengan si tengil itu lagi.
2007, Duduk dibangku SMA berseragam Putih Abu-Abu bertemu dengan banyak teman baru dan dunia yang semakin beranjak dewasa. Tak hanya teman baru, teman lama yang saat itu duduk dengan ku adalah teman SMP-ku, Rawallangi. Seorang gadis berdarah Buton dan Bugis, dengan kulit hitam manis dan sederet giginya yang rapi ketika mengulas senyum. Bisa mengenalnya, bercerita banyak tentang hidup dengannya adalah kebanggaan tersendiri mempunyai seorang sahabat sepertinya. Dari hari ke hari pun semakin berlalu, seperti tak ada hambatan hidup. Rutinitasku sebagai seorang siswi SMA lancar-lancar saja.
Sore itu masih ditahun 2007, peristiwa awal aku bertemu dengan seorang laki-laki yang sepantaran denganku. Tepatnya sepulang sekolah, berdiri menghadap pusat jalan sembari menunggu angkutan umum lewat, pandanganku menyorot pada seorang laki-laki yang dibonceng oleh kakaknya tepat lewat dihadapanku dan laki-laki itu memutar kepalanya 180° tanpa sadar aku senyum kearahnya dan mengucapkan kata "Demas". Demas Hastungkara, laki-laki tinggi yang memiliki wajah Asia itu termasuk siswa yang pintar dan multitalent dalam bidang music. Sosok pendiamnya dan pemalunya itu membuat ketertarikan tersendiri. Dia juga termasuk sainganku dalam memperebutkan nilai terbaik dikelas. Bahkan walaupun kami sekelas, dia tidak pernah menyapaku atau berbicara sepatah kata saja denganku. Entah, apakah dia itu es batu atau manusia. Yang jelas sikap dinginnya tidak menunjukkan dia itu manusia. Pria yang hangat sepertinya jauh dari karakteristiknya.
10 tahun kemudian, tepatnya tahun 2017 di sebuah cafe yang memiliki desain interior bergaya klasik aku mengenggam segelas kopi, menghirup aromanya, lalu meminumnya setelah itu tersenyum.
" Semua kejadian ini apa namanya kebetulan atau rencana tuhan,Woro ?" tanyaku.
"Makanya, aku jadi kepingin tahu juga, jodoh kamu yang sesungguhnya diantara dua pria itu siapa..." woro cengengesan lalu kembali serius
Kita berdua pun terdiam, larut dengan pikiran masing-masing. Aku hanya tersenyum dan mengangkat bahu dan tidak ingin menjawab apa-apa.
YOU ARE READING
KINNAS
Teen FictionTerkadang seseorang hanya bisa mencintai dan mengagumimu dari jauh tanpa bisa mengungkapkannya hingga perasaan itu tidak kadaluarsa, sampai kapan seseorang bisa mempertahankan perasaan itu dan sampai kapan Tuhan berhenti membolak-balikkan hati aku d...
