Mistakes ; [Part 1]

349 21 6
                                        

Aku berlari tergesa-gesa melewati lorong-lorong yang sepi dan ini sedikit membuatku panik. Langkahku terhenti ketika melihat seorang wanita berjalan ke arahku sambil tersenyum. Senyum yang mematikan.

Tidak. Aku tidak mau berurusan dengannya. Aku tidak mau.

"Terlambat lagi?" Tanyanya, masih sambil mempertahankan senyuman mematikannya. Aku terdiam menunduk, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. "Ini sudah kedua kalinya kau terlambat,"

Aku mengangguk membenarkan perkataannya. "Tadi ada sedikit masalah saat saya akan berangkat, Miss. Jadi, saya sedikit terlambat,"

"Sedikit? Sedikit terlambat?" Miss Soojung terkekeh dan setelahnya menatapku tajam. Jantungku kini berpacu dua kali lipat sambil menatapnya takut-takut. "Saya masih bisa mentoleransi keterlambatan kamu, tapi jika kamu terlambat lagi.."

"Saya janji tidak akan terlambat lagi, Miss."

♣♣♣

Tadi itu benar-benar menakutkan. Aku bisa merasakan seperti aku berada di neraka saat berhadapan dengan Miss Soojung. Dia memang guru yang menakutkan dan paling di segani siswa-siswa disini. Tiba-tiba tawa terdengar keras di telingaku. Aku tahu siapa pemiliknya, Dahyun. Dia sahabat terbaikku sejak kita masih kecil. Jika di ibaratkan, kita ini seperti permen karet; lengket. Tidak bisa di pisahkan.

Aku menceritakan kejadian tadi pagi pada Dahyun, dan itu alasan kenapa dia tertawa saat ini. Apa dia menganggap ini lucu?

"Aku berharap kau terlambat lagi besok pagi," Aku memutar bola mataku kesal. "Harusnya aku ada disana, melihat ekspresi ketakutanmu dan wajah menyeramkan Miss Soojung,"

"Ini bukan sesuatu yang perlu kau tertawakan. Bagaimana jika aku mati di tempat? Aku berharap tadi terakhir kalinya,"

Saat ini sedang jam istirahat, karena aku tidak berniat ke kantin atau kemanapun, maka dari itu Dahyun menemaniku disini. Hening. Aku merasa tidak ada yang harus aku bicarakan lagi dengan si cerewet Dahyun ini, akhirnya aku mengeluarkan novel dari dalam tasku.

"Yebin-ah," Aku menoleh pada Dahyun. "Apa Jimin Oppa sudah pulang dari Amerika?"

"Kau punya nomor teleponnya, kan? Kenapa tidak menghubunginya saja?" Kini aku melihat pipi merona Dahyun. Heol, Aku kan sedang tidak mencoba menggodanya. "Pipimu memerah seperti tomat busuk,"

Dahyun mengerucutkan bibirnya mendengar ledekkan dariku. "Kau masih saja tidak peduli dengan Oppamu. Kau ini kan dongsaengnya, bagaimana bisa tidak tahu?"

"Aku. Sama. Sekali. Tidak. Tahu. Dahyun-ah," Ucapku penuh penekanan, Dahyun semakin mengerucutkan bibirnya sambil mengeluarkan handphone dari saku seragamnya. Terlihat sedang menelepon seseorang.

"Chagiya? Aku akan ke kelasmu sekarang, tunggu aku," Dahyun mendelik ke arahku dan berjalan keluar kelas. Dia sudah punya pacar, lalu kenapa dia bertanya tentang Jimin Oppa padaku terus? Aku menggelengkan kepala melihat tingkah laku Dahyun dan kemudian disibukkan kembali dengan novelku.

Brak!

Sialan, jantungku rasanya seperti ingin copot. Seseorang membuka pintu dengan keras dan itu benar-benar membuatku kesal. Aku langsung menatap pria yang kini juga ikut menatapku.

Dia lagi? "Kau tidak bisa membukanya dengan pelan?" Pria ini selalu saja membuat onar. Tingkahnya seperti berandalan dan jangan lupakan 2 orang pria yang berada di belakangnya.

Flower Boys

Mungkin untuk sebagian orang, mereka sangat tampan dan penuh pesona, dan aku mengakui itu. Tapi, wae? Kenapa mereka harus di beri julukan Flower Boys oleh siswi disini. Itu sangat berbanding terbalik dengan kelakuan mereka yang berandalan dan pembuat onar, itu tidak cocok sama sekali. Karena yang aku tahu, Flower Boys harusnya bertingkah lembut dan menyenangkan, tidak seperti mereka. Atau mungkin ini hanya persepsi aku saja? Mereka itu sangat bad attitude dalam segi apapun. Tapi entahlah, justru itu daya tarik mereka.

"Nona Park Yebin, sebaiknya kau tutup mulutmu sebelum aku melakukan sesuatu,"

"Aku hanya sekedar memberitahumu, Tuan Jeon Jungkook. Sehari saja tidak membuat onar susah, ya?" Balasku ketus. Jungkook awalnya hanya terdiam tidak merespon ucapanku, tapi senyuman manis terukir di wajahnya. Sangat manis sekali. Dia berjalan kerahku dan menatapku dengan tatapan teduh. Kami saling berpandangan satu sama lain dan jantungku berdegup tidak seperti biasanya.

"Yebin-ah, aku tidak tahu ini perasaanku saja atau ini memang benar-benar terjadi." Aku terdiam mendengarkan ucapan selanjutnya yang keluar dari mulutnya. "Boleh kan, kalau mulai dari sekarang, aku menyukai mu?"

Bagus, Yebin. Kau baru saja berurusan dengan Jungkook, dan ini kesalahanmu sendiri.

TBC

♣♣♣

A/N ;

Ngenggggggggggg~ Annyeonggg! So, ini cerita pertamaku dan aku masih dalam tahap belajar. Jadi kalau jelek ataupun gak bagus, maafkan aja ya. :(

Emang part awal kerasa banget absurdnya, tapi tenang aja, nanti part selanjutnya bakal tetep absurd kok /lah/ satu lagi, maafkan juga kalau pendek, cerita ini belum masuk ke detailnya.

Aku ini orangnya ngaret, guys:( /terus?/ cuman ngasih tau aja sih:')

Buat kalian yang suka ceritanya boleh di baca, buat yang gak suka boleh di tinggalin. Pokoknya sampai ketemu di part selanjutnya, maafkan masih banyak kesalahan baik dari segi eyd, cerita atau apapun.

Juga, cerita ini asli dari pemikiranku. Jadi kalau ada kesamaan cerita dengan yang udah di publish lebih dulu, jangan marahin aku:(

Intinya, jangan lupa vote dan comment. Pahala lho bikin orang semangat😳

See youuuuuu!

Possessive, Kim.Where stories live. Discover now