Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

#prolog

100 6 1
                                        


Seorang gadis sedang duduk dipojok Kaffe sendirian. Untuk kesekian kali-nya ia melirik jam dipergelangan tangannya, sesekali ia melihat kearah pintu masuk. sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang, tapi orang yang ditunggu tak kunjung datang.

"Mungkin macet kali ya?" dalam hati gadis itu bertanya pada dirinya sendiri.

1 jam telah berlalu...

Kemudian tangannya mengambil ponsel yang terletak diatas meja. Untuk menghubungi seseorang. Sudah dua kali ia menelfon tapi sang pemilik ponsel disebrang sana tidak juga mengangkatnya.

"Please... Dave angkat dong" ia berbicara pada dirinya sendiri disela menghubungi Devan. Tangannya kembali menaruh ponsel di atas meja yang ada didepannya.

Selang beberapa menit ia kembali menghubungi nomor yang sama, yang tak lain adalah nomor Devan. Lima kali Diandra berusaha menelpon nomor itu, tapi operator yang terus-menerus menyahut, memberi informasi bahwa nomor Devan sedang tidak aktif.

"Kemana sih Deva, tadi nomornya aktif sekarang mati. Kemana dia cobak dari tadi nggak datang-datang" pikirannya mulai merasa kesal dengan ketidak hadiran Devan, apakah lelaki tersebut lupa pikirnya.

Tapi mana mungkin lupa sebelum datang ke sini Devan sudah mengingatkan dirinya agar tidak lupa. Lalu kemana lelaki itu dia mengingat kan Diandra agar tidak lupa, lantas dia kemana kalo bukan lupa?

Wajahnya memerah, jantungnya berdegup cepat, Diandra terlihat resah. Dia lantas mengirim pesan teks kenomor Devan, bertanya apakah lelaki itu lupa dengan janji yang dibuatnya sendiri. Saat pesan tidak kunjung mendapat balasan, dia kembali menelpon lagi nomor itu.

Kedua kalinya.
Namun nihil, tetap saja nomor itu tidak aktif. Ia merasa sudah dibohongi karena dirinya sudah lama menunggu hampir dua jam ia menunggu Devan. Tapi, Devan tidak juga menampakkan batang hidungnya.

Diandra bangun dari duduknya meraih tas yang ada diatas meja, memasukkan ponselnya kedalam tas itu kemudian kakinya melangkah keluar dari Kaffe. Ia berhenti dipinggir jalan menyotop sebuah taksi, setelah ia menaiki taksi itupun pergi meninggalkan kaffe itu.
Ia duduk dikursi penumpang matanya mengarah keluar jendela pikirannya menerawang jauh.

Kenapa Devan tidak datang menemuinya?
Kemana lelaki itu pergi sehingga tidak datang??

Biasanya Devan memberi tahunya kalo dia tidak bisa datang, tapi sekarang memberi tahu saja tidak, lalu apa yang dipikirkannya.

Matanya tetap mengarah keluar jendela Taksi, tapi matanya tiba-tiba mengarah pada dua orang yang sedang bicara ditaman, seorang laki-laki dan perempuan. Sepertinya dia mengenal laki-laki itu.

"Devan" batinnya

"Pak. Berhenti pak" pintanya sambil menepuk pundak sang sopir.

Sopir itupun menghentikan taksinya dipinggir jalan. "Pak tunggu sebentar ya nanti saya balik lagi kesini. Saya mau kesana bapak tunggu dulu nanti sekalian ongkoanya pak" kata Diandra sopir itu hanya mengangguk.

Ia membuka pintu, lalu turun dari taksi berlari menghampiri Devan, ia menghentikan larinya berdiri dibelakang devan. Tepat saat Diandra berdiri, Devan langsung memeluk gadis didepannya. Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiran Diandra.

D: Devan, Diandra & DiaStories to obsess over. Discover now