Dewina Permata.
Aku meregangkan otot tubuhku, berusaha melepaskan kepenatan yang menjalar setelah dua jam berkutat didepan laptop.
"Kintan."
Aku menoleh ke arah tempat tidur dan baru tersadar kalau gadis kecilku tidak ada disana. Ah iya, aku baru ingat. Bang Rauf membawa Kintan sore tadi ke Jakarta untuk sebuah acara keluarga.
Pintu kamar aku buka perlahan. Ruang tengah masih menyala dan ibu, beliau sedang menonton televisi sambil terkantuk-kantuk.
"Ibu belum tidur? "
" Ada yang mau datang untuk mengambil kunci, " kata Ibu sembari mengubah posisi duduknya.
"Siapa yang akan datang malam- malam begini Bu?"
"Penghuni baru, dia akan menempati paviliun depan rumah."
"Kenapa tidak datang besok pagi saja? Ini kan sudah malam. Ibu juga sudah lelah kan?"
"Sudahlah Win, lagi pula dia sudah menelepon ibu dan katanya sedang di perjalanan."
"Lain kali jangan menerima orang yang seperti itu Bu. Seharusnya dia bisa menyuruh orang untuk mengambil kuncinya jadi tidak sampai membuat ibu lelah menunggu."
"Sudah, ibu tidak apa-apa."
"Tapi bu..."
"Aku masih ingin memprotes sikap ibu yang terlalu baik tapi ucapanku terhenti saat terdengar bunyi bel.
"Itu pasti orangnya."
Aku melangkah cepat menuju pintu ruang tamu. Ingin rasanya langsung memarahinya ketika aku membuka pintu tapi sebuah senyuman manis langsung menyapaku. Seketika amarahku sedikit mereda.
"Selamat malam Teh..., ibu Yayuk ada?"
Teteh? Panggilan itu terasa asing di telinga.
"Maaf, maksud saya Mbak."
"Oh."
Aku hanya menjawab pendek. Lalu aku persilahkan dia untuk masuk. Ibu tidak akan suka kalau aku berlaku tidak sopan pada tamu.
"Duduk nak Harland."
Ibu muncul di belakangku dan menyuruh tamunya untuk duduk. Aku langsung pergi meninggalkan ruang tamu. Samar-samar aku mendengar pembicaraan ibu dengan orang yang bernama Harland.
"Mohon maaf ibu, saya jadi datang malam-malam. Acara workshopnya baru selesai jam sembilan. Saya langsung check-out dari hotel terus kesini."
"Iya, tidak apa-apa Nak. Kalau sudah ada janji sama ibu, pasti ibu akan tunggu. Sebentar ibu ambilkan kuncinya."
Ibu mengambil kunci di atas lemari es. Dia menghampiriku kemudian menyerahkan kunci itu.
"Tolong antar nak Harland ya Win, ibu sudah capek kalau harus jalan ke depan. Jangan lupa nanti sekalian kunci pagar dan pintu rumah ya."
Aku masih sedikit kesal pada Harland jadi setengah hati aku paksakan kaki melangkah untuk mengantar Harland ke paviliun.
"Ini kuncinya. Tadi sore kamarnya sudah dirapikan sama Bik Nah. Kalau masih ada yang kurang, besok saja dibersihkan lagi."
"Iya, terima kasih banyak Mbak."
Aku mengangguk dan segera beranjak pergi. Sebelum kembali ke kamar, aku melakukan semua yang ibu perintahkan, mengunci pagar dan semua pintu. Semoga saja tidak ada anak kos yang masih berada di luar karena ini sudah hampir jam sebelas malam. Peraturan rumah kos ibu sudah jelas terpampang di pintu masuk bahwa pulang malam tidak boleh melebihi jam sepuluh, kecuali sudah meminta izin pada ibu kos atau karena ada keperluan yang sangat penting.
"Kintan...kenapa ibu kangen sekali sama kamu Nak?"
Ini pertama kalinya Kintan pergi jauh dariku. Setiap akhir pekan biasanya Bang Rauf hanya membawa Kintan jalan-jalan di sekitar kota atau menginap di rumahnya tapi kali ini tidak.
Beberapa jam sebelumnya...
"Wina, tolong siapkan koper Kintan. Bawa dress dan beberapa bajunya. Sore ini aku akan mengajak Kintan ke Jakarta. "
"Ke Jakarta? Mendadak sekali, biasanya abang selalu bilang lebih awal."
"Iya maaf, aku yang lupa. Oh iya, tolong juga telpon guru Kintan dan bilang kalau Kintan izin tidak masuk sekolah selama tiga hari." Rauf menambahkan perintahnya.
"Aku tidak bisa Bang."
"Kenapa?"
"Karena abang tidak bilang padaku lebih dulu."
"Tolonglah Wina... Mama ingin agar Kintan ada di acara lamaran."
Deg. Lamaran?
"Oh iya, aku juga belum bilang ya kalau hari senin aku akan melamar Silvia."
Aku menahan air mataku yang hampir menetes. Aku jaga nada suara agar tidak berubah. Bagaimana pun aku berkelit, aku tidak kuasa saat Mama Sani yang meminta Kintan.
"Baiklah bang, aku akan menyiapkan koper Kintan."
Aku berusaha untuk mengerti keinginan bang Rauf yang ingin Kintan hadir di moment bahagia itu.
Bunyi kentongan dipukul duabelas kali...
Bunyi kentongan dari poskamling warga terdengar oleh telingaku. Sudah jam duabelas malam. Kenapa sulit sekali memejamkan mata. Biasanya ada Kintan di samping ku yang selalu aku peluk setiap malam. Sekarang aku merasakan sedikit hampa saat Kintan tidak ada.
Lampu kamar aku nyalakan dan aku kembali bergelut di depan laptop.
Harland Satriawan.
Jadi seperti inikah malam-malammu Dew? Menghilangkan kegelisahan dengan bekerja di tengah malam sementara orang lain sedang terlelap tidur.
Hal yang mungkin tidak kamu tahu Dew, aku sengaja memilih paviliun ini untuk aku tempati agar aku bisa leluasa memandang ke arah kamarmu yang terlihat dari tempatku berdiri saat ini. Bukan untuk berniat jahat. Aku hanya ingin selalu bisa melihat kamu dari dekat tanpa harus bertatap muka secara langsung.
Seperti saat ini. Diam-diam aku memperhatikan kamarmu yang menjadi terang. Aku hanya menebak kalau saat ini kamu sedang menekuni laptopmu.
Tenanglah Dew. Aku sudah datang. Aku akan pastikan kamu tidak akan mengalami lagi malam-malam seperti ini.
Tadi saat datang ke rumahmu, aku terkejut melihatmu yang membukakan pintu. Seandainya saja otakku tidak berada ditempatnya, aku pasti sudah berlari untuk memelukmu dan itu bisa saja mengacaukan semuanya.
Tapi kerinduanku tidak bisa disalahkan. Sudah sebelas tahun dan malam ini pertama kalinya kita bertemu lagi.
Happy reading ya...!
YOU ARE READING
Jodoh yang Tak Dinanti (Lengkap)
RomanceDewina Permata. Wanita single parent yang belum bisa move on dari mantan suaminya menjadi tambah galau ketika mantan suaminya menikah lagi. Di tengah kegalauannya, muncul sosok Harland. Pria yang pernah dekat dengannya belasan tahun lalu yang hanya...
