Alan pulang dari kantornya sekitar jam 10 malam dan ia langsung bergegas menuju Queen Street untuk mencari Vic's. Mengendarai mobilnya perlahan, akhirnya Alan sampai di Queen St. Ia melihat ke kanan dan kiri. Disini memang terdapat banyak sekali restoran dan kafe yang menyediakan berbagai macam makanan mulai dari West, Melayu, Timur tengah dan lainnya.
Alan jarang sekali disini karena ia lebih sering menghabiskan waktu di kantornya. Bahkan jika pergi bersama Fablo, tujuan mereka tidak pernah ke arah sekitaran sini.
Alan mulai membaca nama-nama tempat makan itu satu persatu hingga akhirnya ia menemukan Vic's yang ternyata terletak diantara restaurant ala Perancis dan Western.
Vic's.. kafe ini sederhana, pikirnya sambil melihat ke garden kafe tersebut, namun terlihat nyaman. Astaga, kenapa kafe seperti ini bisa luput dari pandangannya selama ini?
Alan melihat agak kedalam. O-o, kafe di waktu sekarang masih ramai. Apa wanita yang ia cari sudah pulang atau masih sibuk melayani pelanggan? Atau mungkin saja hari ini ia libur karena ia baru saja pulang dari Waiheke? Oh..God, semoga saja tidak!
Alan sempat ragu apakah ia langsung pulang saja atau menunggu karena sedari tadi tak melihat wanita itu didalam kafe. Namun akhirnya untuk memutuskan untuk menunggu hingga kafe tutup.
Sambil menunggu ia merogoh Ipad di kursi belakang dan sibuk browsing agar tidak bosan. Jam 12 malam kafe belum juga tutup dan perut Alan keroncongan. Ia akhirnya membeli burger di western café di samping Vic's. Ia sudah akan menyerah pada jam 3 pagi karena terserang kantuk luar biasa ketika ia melihat seorang wanita keluar dengan jaket jeans dan skin-tight jeans berwarna hitam.
Aha! Itu dia, mata turqouise Alan membulat. Ia mengamati wanita itu sedang merapatkan jaketnya, mungkin merasa kedinginan mengingat suhu 5 derajat sekarang. Wanita itu terlihat berjalan sambil mengurai rambutnya yang tadi diikat ekor kuda. Saat ia melintasi mobil Alan, ia mencuri pandangan sedikit ke arah mobil Alan. Dan saat wanita itu telah berada di belakang mobilnya, Alan pun menurunkan kaca mobil.
"Hey"
Dan Alan melihat wanita itu berhenti. Sempat celingukan kiri kanan namun tak berani untuk membalik badan. Tampak wanita itu kembali berjalan membuat Alan tergesa turun dari mobil dan kembali bersuara.
"Hey."
Dan wanita itu tetap berjalan.
Ck, sial, batinnya. Alan berjalan dengan langkah lebar hingga akhirnya ia memegang lengan wanita itu dari belakang. Alan tak menyangka, ketika ia memegang lengannya , wanita itu memekik. Demi Tuhan... Alan tak ingin memancing keributan di pagi buta ini. Kenapa wanita ini bereaksi seakan-akan ia akan menculiknya?
Alan dengan cepat membalikkan badannya dan menutup mulut wanita itu dengan tangannya. Wanita itu langsung menatap bola matanya. Ia sepertinya sangat takut dan terkejut.
"Aku mohon kau jangan memekik. Aku tak ingin memancing keributan disini. Apa kau mengerti?"
Wanita itu awalnya mengangguk sekali. Lalu ia mengangguk berkali-kali. Terlihat sekali ia ketakutan.
"Apa kau mau berjanji jika aku lepaskan tanganku kau tidak akan memekik lagi?"
Wanita itu dengan cepat mengangguk kembali. Desah napasnya yang hangat terasa ditangan Alan yang dingin.
Alan melepaskan tangannya dan wanita itu langsung memegang dadanya seraya menghembuskan napas panjang. Ia langsung bersikap waspada dengan Alan.
*************
"What do you want?" Tanya Sharma.
Alan memasukkan kedua tangannya di saku celana kerjanya. Ia tersenyum membuat dada Sharma sedikit sesak. God damn, senyumnya begitu menawan. Namun dengan sekejap ia kembali menatap Alan waspada.
YOU ARE READING
THE GRAY MARRIAGE ✓
RomancePernikahan putih, yang artinya pernikahan yang didasari dengan kasih sayang yang tulus dan cinta yang suci dan berbahagia selamanya. Ya.. itulah impian Sharma Victoria-seorang gadis pelayan kafe. Hampir seumur hidup ia membayangkan kalau dia akan be...
