Awal mula

266 28 4
                                        

Desir angin menyapa saat matahari melihatkan keindahan senjanya, tanpa terasa sudah lebih 3 jam Orizasatifa Sharma-gadis yang sekarang duduk di bangku kelas 2 SMA Cendikia-duduk di balkon lantai 2 rumah nya. Masih terngiang dikepalanya kalimat yang menggangu fikirannya akhir-akhir ini.

💫💫💫

"Assalamualaikum ayah, Tifa udh pulang.." sahut Tifa saat memasuki ruang makan rumahnya dengan masih menggunakan seragam sekolah putih dengan rok kotak-kotak berwarna biru toska. Tapi ia merasa ada yang berbeda dari raut wajah ayahnya kali ini.

"Walaikumsalam nak, sini duduk dulu ada yang mau ayah bilang sama kamu" jawab pria paruh baya yang Tifa panggil ayah itu.

Tanpa fikir panjang Tifa mendekati ayahnya dan merangkulnya.

"Ada apa yah? Kenapa ayah terlihat cemas? Apa ada masalah? Ayo ceritakan sama Tifa sini" sahut Tifa mencoba menenangkan Bambang Maryono pemilik PT. Kencana Emas yang biasa dipanggil ayah oleh Tifa itu.

"Begini nak, kamu tau kan cabang perusahaan ayah yang di Pekanbaru?"

"Iya yah Tifa tau, kenapa yah? "

"Ada masalah dengan cabang perusahaan ayah yang disana, jadi kita harus pindah kesana beberapa tahun"

"Tapi yah, Tifa kan udah kelas 2 SMA bentar lagi tamat, nanggung kan yah kalau mau pindah? " bantah Tifa karna tak ingin pindah ke tempat dimana ia lahir dan dibesarkan.

"Iya ayah juga ngerti, ayah juga sudah bicarakan ini dengan ibumu dan dia setuju, rumah baru kita disana juga tak kalah indah dengan disini, ada ayunan di pohon besar belakang rumahnya"  tak mau kalah Bambang mencoba membujuk Tifa agar mau pindah.

"Benarkah yah? Baiklah kalau gitu yah, Tifa ikut aja, ayah emang paling bisa bujuk Tifa, Tifa sayang ayah...". Tifa merangkul ayahnya dengan penuh kehangatan.

💫💫💫

Lagi-lagi Tifa melamun memikirkan hal yang sama, ia tersadar dari lamunannya saat ponsel berwarna gold miliknya berdering menandakan ada pesan masuk.

From : 08238730xxxx
"Hei Tifa, apa kabar? Gue denger-denger lo mau kesini ya? Udh lama banget juga kita gk ketemu, gue tunggu kedatangan lo di Pekanbaru yaa :) salam manis Putri".

Tifa hanya bisa menyunggingkan senyum manis dari bibirnya yang pink kemerahan, ia teringat betapa konyolnya teman SMP nya itu, Putri Diningsih, anak donatur terbesar disekolah tapi gak pernah sombong dan rendah hati.

"Ternyata masih ada juga yang ingat sama gue, tapi gimana caranya gue jelasin ke ayah tentang masa lalu SMP gue? Yang ada ayah bakalan marah besar, ya allah tolong hambamu ini" Tifa hanya bisa mendengus kesal. Ia berharap tak terjadi apapun saat ia pindah nanti.

💫💫💫

"Huh akhirnya sampai juga di rumah" sahut Tifa saat memasuki rumah barunya yang berwarna putih bertingkat dua itu.

"Tifa kamar kamu yang diatas ya sayang dari tangga sebelah kiri" sahut wanita paruh baya dari dapur dengan sedikit berteriak.

"Oke ibu, aku langsung dekor kamar ya bu" jawab Tifa sambil mengangkat barang-barang bawaannya ke kamar yang dikatakan oleh ibunya tadi.

Tifa sibuk merapikan kamarnya sambil di temani lagu-lagu kesukaannya.

"Selesai juga deh dekorasinya, ternyata gue punya bakat dekor ruangan juga ya".

Tifa membantingkan tubuhnya ke kasur hingga tanpa ia sadari ia ketiduran.

Tok! Tok! Tok!

"Tifa ayo bangun nak, kita makan malam dulu" ajak ibu dari balik pintu kamar Tifa.

RainbowStories to obsess over. Discover now