Tetangga baru.
Mungkin akan menyenangkan. Mengingat selama ini hanya ada segerombolan ibu - ibu penggosip yang kurang kerjaan di daerah sekitar rumahku. Mudah - mudahan saja dia seumuranku, setidaknya itu akan sedikit membantu mengurangi sifat pendiam-ku.
Sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku terlebih dulu. Sebut saja Trisya, orang - orang biasa memanggilku seperti itu. Apa daya aku yang hanya bisa menerimanya dengan lapang dada.
Saat ini aku sedang berkutat dengan oven kesayanganku di dapur. Niatnya aku akan membuat sebuah brownies untuknya, sebagai salam perkenalan mungkin.
Meskipun masih dibilang amatir dalam pekerjaan dapur, aku sangat menguasai hal - hal yang berbau tepung. Karena apa, karena ibuku adalah pegawai toko roti di tikungan jalan depan.
Ting....
Suara oven yang berdenting selalu mengingatkanku dengan ayah dan ibu. Jangan salahkan aku jika aku menyukainya. Sejak kecil, kami bertiga selalu menghabiskan waktu di dapur hanya untuk mencoba resep baru atau hanya sekedar membuat kue. Tapi itu sudah berlalu, sejak kematian ayah tiga tahun lalu. Rasanya aku masih tidak bisa mempercayainya.
"Trisya apa kau sedang membuat adonan? Cepat angkat atau cita rasa adonanmu akan hilang?"
"Ah.. Iya bu sebentar."
Itu suara ibu yang menginterupsiku untuk segera mengangkat adonan kuenya. Keluarga kami percaya, jika membiarkan adonan terlalu lama di dalam oven, bisa mengurangi cita rasa adonan itu sendiri.
Cepat - cepat aku mengambil serbet yang sudah ku siapkan dari dalam laci. Harum sekali kue ini, apa karena aku yang membuatnya dengan perasaan yang berbunga - bunga. Mangkanya perasaan itu langsung menyalur masuk dan meresap ke dalam brownies ini. Ah entahlah, tapi ku akui, kali ini rasanya sungguh berbeda dari biasanya. Seperti euphoria yang menyebabkan rasa bahagia yang berlebihan.
Sudahlah, lebih baik aku membungkus kue ini dan menghiasnya. Agar nanti tetangga baru itu terkesan dan mau berteman baik denganku. Kesan pertama harus terlihat sempurna bukan?
"Bu, aku akan mengantar kue ini kepada tetangga baru kita. Sebentar saja, boleh kan bu?"
"Iya, tapi jangan lama - lama ya nak. Kalau sudah selesai langsung pulang."
"Baik bu."
****
"Bu aku ingin curhat. Tapi jangan menertawaiku ya?"
Saat ini, aku dan ibu sedang berada di dapur untuk sekedar bersantai. Ibu yang mencuci piring dan aku yang duduk di kursi meja makan. Katakan saja kalau aku adalah anak yang kurang ajar karena membiarkan ibuku mencuci piring. Tapi kenyataannya tidak begitu, aku sudah membersihkan meja makan dari kekacauan makan malam kali ini. Bagaimana tidak, rasa senang yang kurasakan mengalahkan segalanya, termasuk nasi yang seharusnya ada di atas piring, sekarang malah berubah tempat menjadi di atas meja makan.
"Cerita saja. Ibu tidak akan tertawa, selagi itu bukan hal memalukan yang kau perbuat."
"Ibu... Jangan seperti itu. Baiklah aku akan cerita."
Aku tersenyum kala mengingat hal itu lagi.
Flashback on
Knock... Knock...
"Permisi. Apa ada orang di dalam?"
Sudah lebih dari 5 menit aku menunggu disini, tapi tetap saja masih tidak ada sahutan dari orang di dalam rumah ini alias tetangga baruku. Apa dia keluar? Ah tidak, saat membersihkan dapur sebelum aku berangkat kesini tadi, aku masih melihatnya berkeliaran sambil mengangkat kardus - kardus berukuran besar.
"PERMISI. APA ADA ORANG? AKU DARI TETANGGA SEBELAH."
Tidak peduli jika aku akan dianggap tidak sopan. Apa boleh buat, aku sudah bosan berdiri mematung seperti orang bodoh disini.
Aku memperhatikan keadaan sekitar, langit mulai gelap dan sebentar lagi akan turun hujan. Lalu kualihkan tatapanku kepada kotak merah yang sedang kugenggam. Apa usahaku membuat kue akan sia - sia? Seharusnya ini tidak berakhir seperti ini. Apa aku harus kembali? Apa...
"Apa kau akan berdiri di situ sampai esok hari, nona?"
Suara apa tadi? Apa itu suara hatiku? Tapi tidak mungkin. Suara itu terdengar sangat nyata. Meskipun ragu, ku dongakkan kepalaku untuk melihat ke depan. Aku melihat sepasang kaki jenjang berotot. Sejenak aku menahan napas, dia laki - laki.
Bukan apa - apa, terlihat jelas kedua kaki itu sangat kokoh dengan balutan celana pendek berwarna putih miliknya. Tapi tunggu, apa ada celana seperti itu. Maksudku, celana yang digunakan dengan cara disampirkan saja. Bodoh !!! Itu bukan celana, itu handuk.
Refleks, aku mengangkat kepalaku untuk melihat objek yang sedari tadi terus berputar - putar di kepalaku. Seketika aku terpaku, secara tidak sengaja mataku langsung terkunci oleh dua bola mata 'tekad garuda' miliknya. Kakiku seketika terasa lemas dan tidak sanggup menopang berat badanku. Jantungku berdetak 5 kali lebih kuat dari biasanya.
"Eits, apa yang kau lakukan? Bukankah ini makanan? Kenapa kau ingin menjatuhkannya?"
Seperti tersengat aliran listrik, rasa itu menjalar ke seluruh tubuhku saat tangan itu menyentuh ruas jari tanganku. Ikut menopang kotak merah yang bebannya sudah tidak sanggup lagi kutahan.
"Ehm... Umm... Ma-maaf. Apa kau tetangga yang baru pindah itu?"
****
TYPO BERTEBARAN HO HO HO...
JANGAN LUPA VOMMENT-NYA OKEY.
