Ini kisahku.
Kisahnya Olive.
Iya, namaku Olive. Hehe. Bukan Olive oil lho ya, bukan Olive chiken. Bukan juga Olivenya Popeye si pelaut. Bukan.
Aku Olivia Ayu Nirmala. Si cewek biasa yang yaa... banyak orang bilang kalo aku ini pendiam. Tapi sejujurnya, itu hanyalah anggapan orang-orang yang belum mengenal atau bahkan akrab denganku.
Karena anggapan dari orang yang sudah sangat kenal, katanya aku ini gila.
Haha. Itu mungkin efek berkurangnya tingkat kewarasan jika berada dalam lingkungan yang bobrok. Lingkungan kelas, misalnya. Ruang kelas yang berisi makhluk-makhluk dengan kapasitas otak bervariasi.
Dengan tingkah yang kadang membuat geleng-geleng kepala, membuat perut kram menahan tawa karena celotehan receh yang mereka sebar. Membuat telinga panas karena terus berada dalam bisingnya teriakan yang memenuhi ruangan.
Atau bahkan frustrasi saking jengkelnya dengan kelakuan segelintir anak manusia itu yang membuat darah tinggi.
Seperti dia.
Yang terus menguji kesabaranku dengan segala tingkah anehnya. Mengharuskanku untuk merapalkan do'a memohon sabar.
Satu orang itu,
Sungguh,
Berada satu ruang yang sama dengannya benar-benar membuatku gila. Terlebih jika sudah menjadi satu kesatuan dengan mereka-mereka si species penguji kesabaran.
Benar-benar menguras habis kewarasanku.
Tapi dibalik itu, aku bersyukur. Aku membiarkan keriuhan serta berbagai kegilaan mengisi hari-hariku. Karena itu, yang justru memberi warna pada duniaku yang penuh kekosongan ini. Yang juga membuatku terkadang lupa dengan segala beban di otak.
Ah, berbicara tentang warna dan pengisi hari. Tetaplah kurang jika cinta tidak ikut menyertai.
Kok cinta?
Iya, cinta.
Sebenarnya apa sih cinta itu?
Jika aku ditanya, aku akan menjawab, mbuh ra ngerti.
Untuk definisi itu, aku tidak terlalu paham. Katakan aku bodoh.
Tapi... aku cukup bisa merasakannya.
Kata orang, cinta mendatangkan rasa yang tak biasa. Seperti merasakan darah mengalir cepat seperti tersengat listrik berapa ratus volt.
Oke, itu berlebihan.
Dan lagi, jantung akan berkerja dua kali lipat, akan berdetak hebat ketika berada di dekat orang yang cukup mengalihkan perhatian kita.
Lalu bagaimana denganku, jika merasakan semua itu saat bertemu kolong wewe?
Bercandamu tidak lucu, bung.
Oke, abaikan. Ehem!
Entah mungkin hatiku yang sekeras batu, atau memang aku terlalu kebal dengan perlakuan manis yang terus datang menghampiri. Terbukti, dengan segala kekonyolan yang selalu dia perlihatkan, yang selalu terselip pula tingkah manisnya, aku selalu acuh. Tidak mudah terbawa perasaan.
Dan aku menyadari satu hal.
Mungkin, karena rasa yang terlebih dulu menetap pada sosok yang tak tergapai, belum memudar dalam benakku. Dan aku, hanya bisa berkata maaf padanya yang dalam batin.
Sampai pada hari yang berbeda, dimana hatiku luluh dengan sendirinya. Oleh perlakuan manis yang selalu datang menghampiri, rasa itu muncul menempati hati.
Ya, terhadap dia yang selalu ada untukku, aku menyerah.
Dia membuatku sulit menghindar dari detak yang terus menggila. Dan aku pasrah. Bergerak sesuai arah hati ini melangkah. Biarkan waktu yang mengiringi rasa yakinku.
Semoga takdir, selalu bermain apik dan memihak segala yang aku jalani.
Semoga.
***
Next chap, gaya bahasa bakal lebih ringan, enjoy yaaa
Semoga terhibuur😆
Thanks for read
05, Desember 2017
Repulish; 04 Juni 2021
YOU ARE READING
Olive In Miraclass
HumorHanya cerita keseharianku bersama anak-anak kurang waras di sini. Ini kisahku.. Olive in Miracle Class. * * * * "Katanya, kalo cari pacar tuh gausah yang cakep-cakep. Nanti kalo dah jadi mantan juga bakal dijelek-jelekin.. Untung aja aku nyari ya...
