Ellisabeth pov
London
Pagi yang cukup cerah, seperti biasa aku berjalan dengan malas ke kamar mandi mengawali rutinitasku seperti biasa.Setelah mandi, akupun melihat cerminanku di depan kaca. Parasku cantik, senyumku manis, hidung mancung, rambut blonde panjang, mata berwarna coklat muda, bodyku lumayan tinggi jika dibandingkan dengan teman2ku.mungkin bagi mereka yang tidak mengenalku mereka akan mengira aku adalah gadis populer di kampus atau di instagram. tapi itu semua salah. bahkan aku tidak punya account instagram atau sosial media apapun di handphoneku. dan aku tidak pernah menginjak bangku sekolah atau kuliah seperti orang pada umumnya. Karena hidupku tidak seperti orang pada umumnya. Aku yatim piatu. Ibuku meninggal saat melahirkanku sedangkan ayahku meninggal kecelakaan mobil. Yaa setidaknya itu yang tertulis di biodata yayasan yatim piatuku.
Pada umur 5 tahun beberapa anak di yayasan yatim piatuku ditest secara rahasia dan diangkat oleh organisasi rahasia negara.
"ellsa, apakah kau pernah menghitung jumlah langkah dari ruang tamu ke kamarmu ?"
"26 langkah"
"bagus sekali, bagaimana bisa kau menghitungnya dengan tepat ?"
"aku tidak menghitungnya, George yang menghitungnya. Kemarin aku bermain petak umpat dengan George dan pada hitungan ke 26 aku tertangkap."
"smart" jawab lelaki berjubah hitam itu.
Tidak lama kemudian lelaki itupun berbicara sejenak bersama suster pengurus dan akupun diangkat menjadi anak olehnya. namun, semenjak dari situ aku tidak pernah bertemu lagi dengan lelaki itu. aku dilatih dan dibesarkan di sebuah asrama tertutup bersama rekanku yg diangkat dari yayasan yatim piatu yang sama denganku. Hidup di asrama bagai hidup di sebuah penjara. tidak boleh berbicara. tidak boleh melangar aturan. Dan suatu hari, aku dan george mencoba untuk membobol asrama ini.
"George, cepatt !! waktu kita ga banyak " kataku berbisik2
"sabar, aku harus memastikan semua penjaga ini sudah tertidur lelap" jawab George
"aku sudah membuka pintu asrama kita dengan kunci yang kucuri dari penjaga itu" kataku berbisik2
"bagaimana bisa ?" tanya George
"Ehmm...." suara mendehem dari belakang
"Celaka, LARI GEORGE !!"
Aku dan George berusaha untuk kabur namun usaha kitapun sia2. Kita berdua tertangkap dan esokan harinya aku tidak melihat sosok George sama sekali. Dari situ aku memutuskan untuk pasrah dan tetap mengikuti semua pertintah layaknya sebuah robot.
pada saat aku beranjak dewasa, aku dibebaskan namun tidak sepenuhnya bebas. aku harus menutupi identitasku dan berbaur dengan lingkunganku yang sekarang. Bisa dibilang aku agent FBI yang masih di non-aktifkan.
Aku diberi sebuah apartment dan disini aku tinggal seorang diri. Cocok dengan sifat introvertku yang tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain atau mungkin mendekati ansos. bahkan temanku bisa dihitung dengan jari.
oh ya, aku berkerja part time di 3 tempat sekaligus, dan memalsukan biodataku di setiap lamaran kerja. bahkan bisa dibilang tidak ada yang bisa mengetahui identitas asliku. Ya, itu akan berbahaya jika ada yang tahu identitasku. Disini, aku dikenal dengan nama "Sabrina". Gadis yang selalu menguncir rambutku ke atas dengan model messy ponytail dan memakai sepatu converse putihku dan aku paling anti memakai dress atau apapun yang berbau feminim.
"Sab, liat deh pengunjung kita yang diujung pake sweater putih" kata Betcy, sahabatku satu2nya yang sangat amat cerewet.
"kenapa bett ?" Jawabku
" ganteng ga ? " tanya betcy dengan mata yang bersemangat sembari nyengir ga karuan.
"hm... Culun." jawabku singkat sengaja memancing amarah betcy.
"ish, lucu tauu.. baby face gitu mukanya. tadi gw nganter kopi ke meja dy truss gilaaa senyumannyaaa... meleleh gw sabs " jelas Betcy sembari nyengir gajelas.
"astaga, whatever u say girl haha" jawabku sambil geleng2 kepala.
aku merapikan meja di dekat jendela dan secara tidak sengaja aku melihat ada yang mencurigakan di seberang jalan. seorang lelaki memakai jaket hitam dan kaca mata hitam sedang membaca koran. mungkin bagi sebagian orang itu hal yang wajar, namun bagiku, itu terlalu berlebihan. jaket kulit hitam ? kaca mata hitam ? well, itu aneh. Akupun memutuskan untuk kembali melalukan aktivitasku seperti biasa dan berpura2 bertingkah seperti biasanya.
aku kembali ke meja kasir dan melayani pengunjung seperti biasanya dan tiba2 handphoneku bergetar. aku mendapatkan 1 notifications email dari anonymous.
date : 1 jan 2017
Agent : Ellisabeth Muller
message : hi....
-to be continued-
------------------------------------------------------------------------
Hello genkkkssssss
kenalin dulu nama gw verencia biasa dipanggil veren.
nah, ini pertama kalinya gw bikin cerita di wattpad jdi sorry bgt klo misal masih kurang gereget hihi. cmn tenang genkss, gw uda kepikiran semua alur ceritanya dari awal sampe akhir jadi stay tuned for updates yaksss :)
di story wattpad gw yg kali ini gw emang sengaja banget ngegambarin sosok ellis ini dengan tokoh Gigi Hadid soalnya ya seperti yang kalian tau sosok Gigi ini strong banget yahh. admin juga demen banget sama dy jadinya semangat deh update chapter baru nanti hihi.
udah itu aja dari admin, salam kenal yaa buat kalian yang baca <3 jangan lupa di masukin ke list kalian + vote yaaa :)) Makasihh <3<3<3
ANDA SEDANG MEMBACA
Confidential.
CintaNamaku Ellisabeth Muller, lahir di kota London. ya, setidaknya itu yang tertulis di biodata yayasan yatim piatuku. Umurku ? mungkin menginjak 18/19, entahlah. Sekitar umur 5 tahun beberapa anak di yayasan yatim piatuku diangkat dan dilatih bagai seb...
