Tarik napas, tahan. Jangan dibuang dulu, mubadzir.
Ready?
SELAMAT MEMBACA!!
BAGIAN SATU
Bertemu denganmu memberikan efek yang luar biasa pada hati ini.
»»««
Gadis berjilbab yang baru saja menyelesaikan lima kali putarannya, tampak terengah-engah mengatur napas.
Tiba-tiba terdapat suara tawa cowok yang sudah pasti berniat mengejek gadis berjilbab tersebut.
"Bagus, temen lagi susah malah diketawain, bagus." cibir gadis berjilbab itu sambil mengatur napasnya.
"Fildza, Fildza."ujar cowok tersebut sambil geleng-geleng.
Karena tidak mau dianggap seperti patung Pancoran, karena terlalu lama berdiri, akhirnya Fildza duduk dipinggir lapangan sambil mengelap keringatnya.
Cowok yang tadi menertawakan Fildza, kini menyodorkan sebotol air mineral untuk Fildza.
"Dalam rangka apa nih ? Lo ngasih gue minum." ujar Fildza langsung mengambil botol air mineral tersebut.
"Dalam rangka, Amanda rawles nerima gue." ujar cowok itu menyombongkan diri.
"Oh, Amanda rawles nerima Lo sebagai babunya, iya? Alih profesi dong sekarang." sahut Fildza nyeleneh.
"Eh kampret, bukan babu tapi pacar." jawab cowok itu dengan wajah datar.
"Yaudah iyain biar bintang seneng." Fildza meneguk air mineral dengan rakus.
"Minum tuh pelan-pelan, kayak orang nggak pernah minum aja." tegur Bintang melihat Fildza yang minum seperti kuli panggul.
"Gue emang nggak pernah minum, gue seringnya tayamum, gimana dong." Fildza memberikan botol air mineral yang sudah kosong kepada Bintang.
"Apa apaan nih?" ujar Bintang.
"Botol lah, masa iya mantan. Tapi mantan juga sampah ding. Yaudah anggap aja itu sampah berbentuk mantan." Ucap Fildza santai sambil memperhatikan murid cowok kelas XI - IPA 1 yang sedang melakukan dribble basket.
"Hubungannya apa coba sama gue?" Bintang mendumel-dumel tidak jelas.
"Mengikuti istilah, buanglah mantan pada temannya." Jawab Fildza meninggalkan Bintang yang masih mengucapkan sumpah serapah.
Kini giliran Fildza, yang maju praktek bola basket. Fildza terus mendribble bola basket, hingga bola basket itu lelah karena terus menerus dipermainkan oleh Fildza.
Fildza melempar bola basket, secara tiba-tiba kepada Bintang. Untung saja, Bintang dengan tanggap menerima bola basket.
Fildza kembali duduk di pinggir lapangan, seraya memperhatikan teman laki-laki sekelasnya sedang memainkan bola basket.
"Kasian ya bola basket, nggak salah apa-apa tapi sering dimainin." ujar Fildza yang mendapat jitakan manja dari Dinda.
"Nih otak ya, isinya sinetron Indosiar mulu." Ucap Dinda geleng-geleng.
YOU ARE READING
Sebatas Teman
Teen FictionJangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad ( Update: jika diriku diberi hidayah muehehe )...
