Passionate to Me - Jumin

346 21 2
                                        


(Sangat disarankan memutar lagu di atas sembari membaca)


"Pssst, berhenti sebentar."

Sekali lagi, bisikan itu membuatku menghentikan kerja jemariku yang tengah menari di atas deretan tombol keyboard, membuat pikiranku melayang entah kemana bukan lagi menuju buku yang tengah kusalin. Ini ruang kerjaku dan ah, aku benar-benar tidak mengerti dengan yang satu ini. Kuputuskan untuk menoleh mengikuti suara yang baru saja mengintruksiku.

Oh, sial. Harusnya aku berbangga hati karena semenjak tadi tidak mengambil keputuskan untuk menoleh. Ketika aku tahu kalau suara itu berasal dari orang ini... Jumin Han. Aku menjerit dalam hati, menggertakkan rahangku kuat-kuat. Merasa tertangkap basah oleh sang pemburu yang berhasil menjebak mangsanya masuk ke dalam perangkap rancangannya.

Pria dengan rahang tegas dengan pandangan tajam yang menatapku lamat-lamat. Dia atasanku sebenarnya, namun entah apa yang ia lakukan di ruang kerjaku hampir sore begini. Mestinya sih, dia sibuk bukan main. Seorang bos besar pasti banyak urusan, 'kan?

"Tidak bosan?" tanyanya padaku. Aku hanya menggeleng, kembali menatap notebook dengan kursor berkedip tetapi tidak berniat melanjutkan pekerjaanku kembali.

Ia menegakkan tubuhnya, kemudian merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama melipat kedua lengannya di depan dada. Kemudian, ditariknya kedua lengannya lantas ia lipat di belakang kepala, masih dengan pandangan yang tidak beralih dariku.

"Sebenarnya apa yang membuatmu datang ke sini, sih?" ucapku akhirnya sedikit berbasa-basi. Menumpukan lengan kiriku pada meja tanpa balik menatapnya.

"Bukan urusanmu." Aku menoleh sembari mengerutkan dahiku dalam. Merasa sedikit risih dengan beberapa kalimat yang ia katakan. Apasih maksudnya? Ini kan ruang kerjaku, terang saja aku berhak menanyakan hal tersebut padanya, meski notabene dia adalah seorang atasan yang harus dihormati sekalipun.

Ia menyeringai lalu mengangkat kedua bahunya dan beralih meraih satu satu file yang tertumpuk di meja kerjaku dengan asal.

Tidak,ralat, ia tidak asal. Ia memilih file paling besar dengan sampul  bewarna biru tua yang tebal, agaknya ratusan lapis kertas menempel di sana. Dengan tenang, ia membuka lembar demi lembar hingga ke bagian tengah.

Itu adalah file berisikan data-data statistik perusahaan dari tahun ke tahun, sungguh tidak ada keterkaitan sama sekali dengan urusannya. Untuk apa sebenarnya ia membuka file dengan hal-hal semacam itu?

"Aku yakin kau pasti bertanya-tanya untuk apa aku mengambil file ini?" ujarnya setelah merasa kuperhatikan sejak tadi. Segera kutolehkan kembali pandanganku menatap notebook, seakan-akan tidak menganggap keberadaannya sama sekali.

Tanpa menghiraukanku lagi ia tetap melanjutkan, "Seulkyung, tolong menghadap ke sini dan tatap aku sebentar. Atasanmu sedang berbicara padamu."

Mengetahui bahwa aku berusaha tidak menghiraukannya, ia beringsut mendekat kearahku lalu menarik lengan kemejaku seolah memberi isyarat untuk memperhatikannya.

Aku memutar kedua bola mataku, terlalu sebal jika ditengah-tengah kesibukanku mengerjakan laporan seperti ini ia datang ke ruanganku tanpa pemberitahuan, menatapku tajam, dan minta didengar.

Tanpa ada rasa iba soal pekerjaan yang ia limpahkan padaku, ugh, sungguh aku sangat kesal.

Ketika aku masih sibuk terlarut dalam pikiranku, gesture tubuhnya mulai memaksaku sepenuhnya dengan nada tinggi khas Jumin, "Seulkyung! Aku bicara pada–"

"–Berhenti dan bicaralah."  Kalimatnya kupotong, lantaran ia berhasil membuatku benar-benar kesal. Dan sungguh, aku muak dengan paksaannya.

Ketika kutatap kedua matanya, Jumin hanya tersenyum tipis mendengar pernyataanku. Lambat laun, ia mulai mendekatkan dirinya, menghapus jarak wajah di antara kami namun aku tak dapat memaklumi hal itu. Seberapa penting sih hal yang harus ia bicarakan padaku hingga harus sedekat ini?

Anehnya, tubuhku tidak bergerak menjauh.

Deru napasnya mulai kurasakan pada telingaku, namun aku tidak kunjung mendengar suaranya. Tidak tahan lagi dengan posisi semacam ini, aku menolehkan pandanganku menghadapnya.

Ini kelewatan!!

Kuakui, sentuhannya begitu lembut, membuatku enggan melepaskannya dan memberikanku rasa nyaman. Setiap permukaan bibirnya menghapus permukaan bibirku. Seakan bibir ini hanya miliknya.

Aku berniat membalasnya kembali, namun kuurungkan sampai ia benar-benar melepaskan tautan bibir kami.

Apa yang baru saja kami lakukan...

Sial, Jumin membuat dadaku berdegup tak karuan, bersamaan dengan darahku yang berdesir kian cepat. Ia terlihat kehabisan napasnya, tapi aku tak menanggapi hal itu. Justru mengatakan yang sebaliknya.

"Apasih maksudmu?" Aku memalingkan wajahku kembali pada notebook yang telah meredup, akibat baterai yang hampir habis tanpa kusadari. Kupastikan wajahku merah padam sekarang.

Kupandangnya sekilas melalui sudut mataku, ia tersenyum tulus kemudian beranjak dan menata kembali file-file  yang berserakan. Jam dinding di ujung ruangan telah menunjuk pada pukul enam sore. Selama itukah ia berada di ruanganku?

"Aku akan pulang sekarang. Ikut?" Jumin beranjak, kemudian  menoleh, terkikik setelahnya, membuat kedua matanya menghilang sementara. "Wajahmu memerah, tapi aku tak ambil pusing, selama penyebabnya adalah aku."

Aku mendelik sembari mendesis tajam. Kuketukkan ujung penaku pada ubun-ubunnya. Dasar tidak tahu diri. "Jumin sialan! Ayo pulang."

Segera aku beranjak, dengan langkah cepat aku berjalan mendahuluinya menuju daun pintu, sayangnya sia-sia saja aku mendahuluinya, faktanya ia bisa menyusulku. 

Masih bersama kikikan gelinya, ia merengkuh tubuhku dari belakang sebelum aku berhasil meraih kenop pintu. Hembusan napasnya bahkan telah terasa di ubun-ubun kepalaku. Terasa hangat tatkala ia mengecup puncak kepalaku.

"Tetaplah seperti ini dulu, jangan bergerak, aku masih ingin seperti ini lebih lama," ujarnya sembari merapatkan pelukannya.

Aku diam, memilih berbalik menghadapnya, menatap kedua matanya, lantas meraih tengkuk dan memberikan kecupan singkat pada permukaan bibir Jumin.

Jumin tidak menolak, ia tersenyum tipis, dilanjut dengan merapatkan tubuh kami. Kami tenggelam bersama dalam pelukan, tidak ada yang asing dengan keadaan yang dapat aku rasakan saat ini. Kudengar debaran jantungnya tepat ditelingaku. Aku rasa ia berusaha menunjukkannya.

"Tidak perlu penjelasan lagi 'kan?" ia bertanya, tapi aku tidak memedulikannya.


.

.

.

Selesai!!!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 04, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Mystic Messenger AU Series x ReadersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang