Seandainya pagi bersalju tak pernah datang mengunjungiku
Seandainya keteduhan matanya tak menarik hatiku
Seandainya ucapan manisnya tak menggelitik telingaku
Seandainya..
Seandainya..
***
Deretan lampu jalan menerangi kota London dan para pejalan kaki yang bergegas pulang ke rumah. Dinginnya malam itu menusuk tulang. Mantel tebal, pakaian berlapis, topi dan sarung tangan rajut sedikit menghangatkan perjalanan mereka. Berbagai transportasi hilir mudik mengantarkan penumpang ke tempat tujuan.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Aisley masih sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya. Para mahasiswa sudah banyak yang meninggalkan kursi. Ini saatnya ia bergantian shift dengan Kyle. Aisley rela berjaga semalaman demi menyelesaikan program kerjanya tapi malam ini, ia benar-benar membutuhkan istirahat.
"Kau masih bersikeras untuk menyelesaikan tugas itu?aku bisa memberikan kau tumpangan karena udara di luar lebih dingin dari biasanya", tanya Hester.
"Kau pulanglah duluan. Aku akan naik bus saja. Masih banyak yang harus aku kerjakan".
"Ya, kau pulang naik bus dan hidungmu akan semerah strawbery. come on, Aisley. Tidak usah kau hiraukan Louise. Bagaimana bisa kau menyelesaikan perencanaan itu dalam waktu 2 hari?!".
"Damn it, Louise! Aku ingin melempar berkas-berkas ini ke wajahnya!".
Aisley menghempaskan badannya ke kursi dan memejamkan mata. Ia tak habis pikir. Menghilangkan berkas-berkas file penting dan meminta Aisley mengerjakannya kembali dalam waktu 2 hari.
"Hahaha..coba saja kau lemparkan berkas itu ke wajahnya. Aku akan mentraktirmu selama 1 minggu!", tantang Hester.
"Really? Mentraktirku hanya 1 minggu dan aku akan kehilangan pekerjaan!".
"Ok, sudah cukup. Kita tinggalkan tempat ini. Perapian hangat sedang menanti". Hester segera menarik paksa Aisley yang merosot dari kursi.
Aisley pun segera mengenakan mantel merah dan sarung tangan tebal bercorak bunga. Ia nyaris tidak pernah menggunakan topi untuk menghangatkan kepalanya. Terlebih lagi, ia sangat membenci topi rajut yang diberikan oleh Ryan, mantan suaminya. Rambut panjang bergelombangnya akan dibiarkan tergerai begitu saja.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Aisley dan Hester bergegas menuju pintu keluar perpustakaan.
Perpustakaan Britania sangat besar. Perpustakaan Nasional yang merupakan perpustakaan besar di dunia ini berlokasi di Euston Road. Bangunan khas eropa ini berdiri di tanah seluas puluhan hektar. Pada setiap lorongnya tergantung beberapa lukisan. Di tengah perpustakaan tertata rapi meja dan kursi tempat para pengunjung menghabiskan waktunya untuk membaca. Pada setiap sisi ruangan, dibangun pilar-pilar putih menjulang tinggi, membuat kesan megah pada perpustakaan.
Aisley sangat mencintai pekerjaannya. Bagaimana tidak, ia selalu menghabiskan waktunya untuk membaca buku. Ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di Britania, rasa takjubnya begitu membuncah melihat ribuan buku tersusun rapi di sana.
Sambil berkeliling perpustakaan memperkenalkan lingkungan baru, Hester menjadi teman pertama Aisley di Britania sekaligus teman pertama semenjak ia menginjakkan kaki di Inggris. Teman pelepas penat setelah seharian disibukkan dengan pekerjaan. Di sepanjang aula, mereka saling bersenda gurau sambil membayangkan perapian hangat yang sedang menanti.
Ia tidak lagi memikirkan Ryan. Segala kesibukan selama di Inggris membuat ia melupakan kenangan 2 tahun silam. Tempat tinggal, pekerjaan dan teman, semuanya adalah hal baru bagi Aisley.
Ia membuka pintu perpustakaan yang berwarna coklat tua sambil mengkaitkan tangan kanannya ke lengan Hester dan memasukkan tangan kirinya ke saku mantel. Memandang langit dan sekelilingnya seraya berkata, "Oohh..indahnya suasana malam ini". Sambil menghirup udara malam, ia dan Hester menuruni anak tangga yang berada tak jauh dari pintu.
Tanpa tersadar, sosok pria dengan mata teduh memandangnya dari kejauhan. Mobil sedan hitam yang terparkir di halaman perpustakaan mengikutinya perlahan. Kehidupan barunya akan dimulai di Inggris.
YOU ARE READING
Dark Snow
Mystery / ThrillerAisley, seorang sekretaris perpustakaan Britania. Dua tahun selepas bercerai, ia menikmati kehidupan barunya di Inggris. Melupakan kenangan pahit di New York. Hari-hari dilaluinya dengan suka cita. Hingga sebuah pembunuhan membuatnya terguncang. Sos...
