Chapter 1

1.2K 26 2
                                        

"Ini berbahaya, kau tahu itu."

"Kita tidak punya cara lain."

Orang yang lebih muda itu berdiri sangat dekat dari si pemimpin. Mereka bisa merasakan hembusan nafas keduanya. Agak sulit bernafas disaat kau dihadapkan dengan sesuatu yang membahayakan. Yang ditugaskan bernapas dengan berat, seakan-akan ia sendiri perlu mengingatkan dirinya untuk memasukkan udara ke dalam lubang hidungnya.

"Siapa dia?" mulutnya dengan sedikit keberanian yang kapan saja bisa padam mengeluarkan sebuah pertanyaan pertanda setuju.

"Sebenarnya.. kami tidak tahu."

"Oh ya, bagus sekali. Sangat bagus. Kau menyuruhku melakukan tugas dan berhadapan dengan semuanya sendiri sedangkan kau dan yang lain hanya menonton dengan asyik dan menikmati semuanya? Setidaknya berikan aku bantuan!" nada suaranya mulai meninggi. Ia hendak pergi darisana sebelumnya.

"Kau bisa tenang sedikit, bocah." lawan bicaranya itu tidak ikut meninggikan suara walaupun merasa tersinggung akan nada bicara orang dihadapannya. Ia juga akan melakukan hal yang sama jika mereka bertukar posisi. Mungkin.

"Bagaimana aku bisa tenang? Aku akan jauh dari sini! Aku akan bertemu dengan mereka! Tidakkah kau memikirkan hal itu?"

"Aku akan menemuimu dengan tenang. Besok, di tempat ini. Persiapkan jawaban dan alasan terbaikmu."

Yang lebih tua berjalan menjauhi tempat itu dengan langkahnya yang sedikit aneh. Ia tidak bisa berjalan dengan sempurna. Mengerikan kadang melihat kaki kirinya. Terlihat seperti ada tulang yang bergeser di dekat lutut. Limp. Ia biasa dipanggil dengan sebutan itu. Cocok dengan keadaannya.

Tidak ada bulan atau bintang malam ini. Maksudku, mereka tidak terlihat jelas. Hanya beberapa cahaya kecil di langit yang kemudian menghilang. Pagi akan datang tak lama lagi. Pertemuan yang menghasilkan keputusan kurang menyenangkan tadi memakan waktu berjam-jam. Tidak ada jam disini, tapi, kau akan mengetahui pukul berapa disini jika terbiasa melihat keadaan dan perubahan warna langit disaat cuaca bersahabat.

Memang tidak mudah hidup seperti ini. Mereka terbiasa dengan bermigrasi. Hanya saja, beberapa mengubah rencana. Tetap tinggal disini untuk sementara waktu, dan menemukan sesuatu yang hilang.

Limp termenung menatap langit diatasnya--mencoba untuk menemukan bintang. Ia berada di dahan yang cukup tinggi. Sesekali daun menggesek kulit wajahnya dengan lembut. Dia tidak berniat untuk tidur sama sekali malam ini. Lagipula, siapa yang bisa tidur disaat seperti ini? Teman terbaiknya harus menjalani sebuah rencana sendirian. Tanpa sedikit bantuan. Sepercik harapan keberhasilan dengan mudah musnah sudah.

"Limp!"

Yang dipanggil menoleh ke bawah. Sosok yang tak asing lagi. Ia bingung harus berkata apa.

"Kubilang esok pagi!"

"Kurasa ini sudah pukul tiga! Ini sudah pagi!" mereka saling berteriak. Tidak, mereka tidak marah satu sama lain. Hanya saja, kau pasti merasa harus berteriak saat berbicara dengan jarak beberapa kaki jauhnya.

"Tunggu aku di dekat sungai!"

Aliran sungai yang tak begitu deras menimbulkan suara percikan air saat menabrak batu. Limp dan temannya sudah berada disana, namun belum ada yang saling bicara.

"Limp-"

"Kami berharap kau akan berkata 'ya'."

Yang merasa terpanggil menoleh. Raut wajahnya tak bisa ditebak. Ada kesedihan, rasa penasaran, putus asa, keberanian, tanggung jawab, pengorbanan, dan... rasa benci. Entah mana yang paling dirasakannya saat itu.

ImpossibleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang