Unjust.

119 25 13
                                        

Aku memilih untuk mengalah. Aku lelah dengan semua angan yang mustahil untuk jadi nyata. Seakan ada harapan baru dan aku harus menelan pil pahit lagi saat semua hanya semu. Aku lebih mencintai diriku sendiri daripada harus membiarkan hatiku terus terluka.

Dan aku menyerah. Menyerah pada apapun yang membuatku bergantung padamu. Seakan aku makhluk kecil yang harus kau jaga, harus kau lindungi. Dan itu membuatku sulit untuk memilih logika yang terus meneriakan aku harus pergi atau nurani yang membisikan ku untuk tetap tinggal.

Aku membiarkan logika dan nurani yang terus berkecamuk. "Na?!" Aku tersentak saat ada yang berteriak di telingaku. Membuat telingaku berdengung dan itu tidak membuatku mengusap telinga atau memaki orang yang sudah berteriak lancang.

"Dipanggil daritadi juga, budeg ya." Aku hanya diam dengan wajah datar dan tatapan kosong.

"Kenapa lagi?" Kudengar dia menghela napas saat melihatku hanya diam dan berdiri di hadapanku dengan memainkan air di wastafel. Aku lagi malas membuka mulut untuk menjawab rentetan pernyataan atau pertanyaan tak bermutunya.

Aku benci kenapa semua ini tak kunjung berakhir. Masalah demi masalah seakan enggan beranjak mengerubungiku. Aku tak pernah siap saat masalah lain muncul dan aku belum bahkan tak pernah ingin menyudahi masalah yang sebelumnya.
Aku benci saat aku bersedih yang kupikirkan itu kamu, berharap kamu datang dengan membawa segenggam solusi untuk menyelesaikan masalahku.

"Ck ngelamun lagi." Kudengar dia berdecak, aku tetap diam berharap dia pergi dan tetap membiarkanku sendirian memikirkan beban hidup yang terus menyelimutiku. Ya hanya memikirkan beban hidup, tidak untuk memikirkan bagaimana solusi mengeluarkanku dari belenggu hidup yang bernama masalah.

"Ada masalah?" Aku tak pernah lupa bahwa dia orang yang tak pernah berhenti berusaha sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan seperti saat ini dia terus menanyaiku agar aku membuka mulut.

Dia mulai membasuh mukanya membuat bola mataku sedikit melirik ke arahnya, rambut yang mulai melebihi batas ketentuan sekolah tampak sedikit basah karena air. Aku meredam rasa gugup ku dengan mengalihkan pandangan ku untuk menatap green house yang berada tepat di depan kelasku. Entah mengapa sudah bertahun tahun kita berteman atau bisa dibilang bersahabat tidak bisa mengurangi rasa gugup ku saat auranya mulai menampilkan pesona.

Dia berjalan melewatiku dan duduk di sebelahku dengan posisi menghadapku. Aku dengan sekuat tenaga tidak menolehkan kepala saat kurasa dia terus menatapku tanpa suara. Aku tetap terlihat diam dan hanya menatap arah depan sampai lupa berkedip untuk meredakan jantung ku yang sudah melompat dengan liar.

"Pasti ada masalah kalo begini, tapi kalo diliat liat sih ya." Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku dan mencoba untuk melihat raut wajahku. "Masalahnya berat, soalnya kamu jarang murung di sekolah. Kamu kan pernah bilang kalo kamu nggak ingin menunjukkan kesedihanmu sama orang lain ya meskipun orang lain peduli apa nggak, tapi kamu tetap tersenyum dan kamu hanya menunjukkan wajah jelek mu itu hanya saat dengan ku."

Aku langsung menolehkan kepalaku ke arahnya dengan mata melotot mendengar kalimat terakhirnya dan aku lebih melotot lagi saat jarakku dengannya bisa kubilang dekat.

Mungkin dia merasa tidak dekat tapi ini sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku dan ini masih area sekolah meskipun kelas lain masih pelajaran dan kebetulan kelas kami sedang jam kosong karena guru sedang sakit tetap saja aku harus waspada takut takut ada yang melihat.

UNJUST(ONE SHOOT)Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora