O1. Fanboy

724 32 3
                                        

"CANDU"
____________




Seharusnya tadi dia bolos saja kalau tahu akan terjebak berjam-jam--mendengar ocehan sang guru tercinta--tanpa diperbolehkan izin untuk sekedar pergi ke toilet. Bukannya menjelaskan sejarah tentang Indonesia, Pak Dedi, guru cadel itu malah bercerita mengenai sejarah cintanya dimasa lalu. Katanya sebagai pembelajaran untuk anak-anak sekarang agar bisa memilih pasangan sepertinya.

Jangan ditanya bagaimana raut wajah Rea, mungkin setiap siswa-siswi dikelas ini juga merasakan hal yang sama.

Kalau kalian berpikir Rea merupakan murid yang rajin itu salah. Tak jarang gadis itu juga ikut membolos bersama Via, cewek paling bandel dikelasnya.

Gadis itu merotasikan kepalanya untuk memantau suasana kelas. Ada yang fokus dengan buku, main handphone, nonton dipojokan, tidur, makan diam-diam dari balik buku paket, bahkan membuat benang-benang kusut sama halnya seperti yang dilakukan oleh Rea.

Tepat dikursi belakang ia melihat Via, cewek dengan lengan baju digulung itu sudah membuat peta di atas buku sejarah milik Rian--teman sebangku Via--yang digunakan untuk alas kepalanya.

Lalu Rea kembali memutar badannya ke arah semula. Bosan membuat coretan di belakang buku tulisnya, Rea lalu meletakkan kepalanya di atas meja menghadap seorang cowok.

"koh, jam berapa sih? gue mau mati.. gak kuat denger pakde khotbah lagi. Sumpah, pengen gue teriakin pake toa, tapi takut dosa"

Teman sebangku sekaligus ketua kelas itu menoleh sebentar lalu kembali fokus pada sesuatu di bawah meja nya. Cowok blasteran Indo-Kanada itu hanya mengabaikan pertanyaan gadis mungil itu.

Rico, yang kerap disapa 'Kokoh' oleh teman sekelasnya merupakan cowok paling ganteng di kelas 11 IPS2 ini. Defenisi cowok idaman. Sering senyum ke cewek-cewek yang sering menyapanya, dan berakhir dengan baper berjamaah.

Tapi nyatanya Rico tidak sesempurna itu.

Waktu itu Rico dan Rea mendapat tugas kelompok yang anggotanya berpasangan dengan teman sebangku. Mereka sepakat untuk mengerjakannya di rumah cowok kelahiran Kanada itu. Ketika itu Rico menyuruh Rea untuk naik dulu ke kamar nya karna cowok itu hendak mengambil cemilan di dapur.

Klekk!

Rea langsung tercengang disuguhi poster kakak-kakaknya di dinding kamar Rico dan berpuluh-puluh album Kpop tersusun rapi disebuah lemari khusus. Mulutnya membulat sempurna dengan mata tidak terkondisikan,

'OMO!!!!!'

'DAEBAK!!'


Baru Rea akan berbalik meneriaki cowok itu rupanya Rico sudah berdiri tegang di belakang nya dengan kedua tangan memegang toples berisi cemilan.

"Rik, lo.. lo.. l-lo lo KPOPERS?!"

"Hahaha... a a-apa sih Re, ini kamarnya Yeri adek sepupu gue"

"Bohong! Jelas-jelas ini pintu ada nama lo-nya! Anjirrr!!! Lo kok gak bilang sih, gue juga kpopers, sat!"

"Hehe.. Anu gini loh"

"Anunya siapa?"

"Ih anjir, maksud gue lo jangan bilang siapa-siapa! Awas aja sampe gue tau lo ember"

"Gwenchana, gwenchana... Rahasia lo akan tetep aman asal lo beliin gue tiket konsernya bities, gimana?"

"Ok, deal!"

Holkay mah beda..

Dan begitu lah, sampai sekarang keduanya masih sering ke perpus diam-diam nonton drakor di laptop menggunakan wifi sekolah. Karna memang area perpus jaringannya sangat kencang.

"Woey! di tanyain cecan jugak!"

"Ah bacot lu kalah gue!"

"EH BANGSAT! SELO DONG, GAUSAH NGEGAS!"

"GAK TERIAK JUGA KALI, GUE GAK BUDEK!"

"YA LO NGESELIN ANJIR! WAJARLAH GUE TERIAK!"

"LO LEBIH NGESELIN, SAT!"

"YA MAAF! GUE KAN KESEL!"

"YA UDAH GUE MAAFIN!"

"YA UDAH GAK USAH TERIAK LAGI!"

"YA LO MASIH TERIAK, REA BABI!"

"GUE TERIAK KARNA LO TERIAK, MAKHLUK JONES!"

"SEMBARANGAN LO! GUE JOMBLO HEPII YA! EMANGNYA LO JOKAR, JOMBLO KARATAN!"

"TERSERAH GUE, LO TETEP JONES DIMATA GUE!"

Rea mengatur nafasnya, "udahlah gausah teriak lagi, capek gue"

"Lo yang mulai ya, nyet"

BRAKK!!!

"DIIIIIIIIAAAAAAAAAAMMMMM!!!!!"

Suara benda dipukul bersamaan dengan seruan panjang sontak membuat kedua anak manusia yang terlalu menikamati acara teriak-teriakan tadi akhirnya menyadari bahwa telah menjadi tontonan anak satu kelas.

Minus, Via.

Tampaknya manusia satu itu tidak akan bangun sebelum adanya ledakan nuklir di sekolahnya. Gadis bar-bar itu masih tenang dengan kepala diatas tumpukan buku paket milik Rian yang sebagian sampulnya sudah basah.

Sementara itu, Pak Dedi dengan penggaris kayu ditangannya menatap nyalang kepada kedua remaja yang duduk bersebelahan di deretan kedua dari belakang dekat dinding. Guru legend itu merasa sangat dikhianati ketika ada siswa yang mengabaikannya ketika ia sedang melangsungkan proses nostalgianya.

"REANA TILOFA! KEVIN JERICO! kalian berdua tolong tutup pintunya dari luar! SEKARANG!"

Wagelaseh..

Ini ceritanya si Bapak mengusir secara halus nan lembut kepada keduanya yang kini saling melotot satu sama lain.

"Tap-" baru saja cowok ganteng itu ingin protes, guru yang memakai kacamata melorot itu langsung menyela,

"Ga pake tapi-tapian. Saya sudah kecewa sama kalian"

"OH. OK" Rico langsung beranjak meninggalkan kelas yang sekarang hening dengan raut muka pasrah.

"Hehe, Pak saya ga-"

"Kamu juga KE-LU-ARGHH!!!!!!"

Suara guru yang dikenal baperan itu menggelegar hingga ke penjuru sekolah. Nampaknya Pak Dedi sedang berada dalam mode senggol bacok. Bahkan anak-anak dari kelas sebelah sampai mengintip ingin tahu lewat jendela.

"Anju! si bapak sensi amat!" komentar Rea dengan suara pelan tapi masih dapat didengar oleh guru itu.

"KEL--"

"IYA BAPAK!! IYA!"

Sampai diluar, Rea langsung menendang pintu kelasnya dengan nafsu

DUAAKKK!!


CanduWhere stories live. Discover now