Halte Malioboro II, Kota Yogyakarta.
Kamis, 21 Juli 2016. Pukul 09.14 WIB.
Langit kelabu menggulung di atas sana-pertanda hujan akan turun. Kota Yogyakarta. Kota penuh romansa dengan banyak sekali kisah cinta pagi itu tampak mendung. Seperti relung gelap yang tampak dari sorotnya. Si pemuda. Sementara ia masih terduduk di atas kursi panjang yang penuh. Halte Trans Jogja pagi itu padat, seperti biasanya. Orang-orang duduk berjajar di samping si pemuda, sama-sama menunggu bus-meski dengan tujuan yang berbeda. Bahkan ada pula yang sampai lelah berdiri di atas lempeng besi berpola sebagai alas halte.
Pemuda itu menatap jalan beraspal di luar sana. Ramai seperti biasanya. Beberapa becak berlalu dengan atau tanpa penumpang. Ojek online berseragam hijau sempat terbersit menuju selatan d jalan Malioboro. Dan pemuda itu masih terduduk di atas kursi panjang yang penuh.
* * *
Widi Karestunan. Semua orang yang mengenal pemuda itu memanggilnya Widi. Matanya hitam gelap dengan sorot yang dalam dan tenang. Hidungnya mancung. Garis rahang Widi lancip dan tegas. Bila tersenyum, rentetan gigi putih yang rapi tampak berjajar sempurna. Ada lesung pipit di dekat bibir kanannya, manis sekali. Perawakan tinggi dan gagah, bagai pahatan seniman profesional. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yang mengambil jurusan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada. Ia akan memulai persiapan skripsi dan sebagainya di awal semester ini.
Pemuda cerdas dengan pemikiran yang luar biasa kritis. Aktivis salah satu organisasi mahasiswa di universitasnya. Ia juga seorang anak yang patuh pada orang tua dan taat agama. Ah, Widi sangat mahir bermain biola dan cello sejak menginjak bangku Sekolah Dasar. Sungguh gambaran seseorang yang sempurna, bukan? Tetapi, satu hal. Mungkin daya ingat kuat yang dikaruniakan Tuhan membuatnya sulit lupa akan banyak hal-begitu pula melupakan dan meninggalkan seseorang yang sungguh ia sayangi. Ajeng Roro.
* * *
Rasanya titik air hujan pertama jatuh tepat di atas atap halte. Disusul oleh titik-titik air lainnya. Hujan jatuh di jalanan Malioboro dan beberapa kilometer di sekitarnya. Pedagang pinggir jalan yang baru saja membuka lapaknya segera mengemasi barang-barang mereka kembali. Para pejalan kaki seketika berhamburan di bawah hujan. Tak masalah bagi pengendara mobil, mereka hanya perlu manyalakan sistem wiper otomatis. Para calon penumpang bus Trans Jogja juga tak perlu khawatir. Hujan tak akan membasahi mereka. Sementara Widi asyik menatap tetes air yang menghujam jalanan serta menghirup aroma khas di kala air-yang katanya penanda duka-itu turun.
Bus kecil warna biru yang tampak basah berhenti di depan halte. Pemuda itu bangkit dari duduknya-begitu pula penumpang yang lain. Ia membenahi kemeja birunya sejenak, menatap kaca kusam sebagai dinding halte untuk mengecek wajah dan rambut Widi. Lantas melangkah masuk.
Pendingin ruangan menyambut Widi yang berwajah lesu. Sedetik memasuki bus, matanya menyapu seluruh bangku bus. Bangku pojok belakang kosong. Ia berjalan gontai, duduk lemas seraya menatap lesu pemandangan toko berjajar menembus kaca transparan dari dalam bus biru tersebut.
* * *
Lembah UGM, Yogyakarta
Jumat, 15 Juli 2016. Pukul 13.43 WIB
Mata gadis itu menatap pohon cemara yang menjulang, batangnya bak menusuk cakrawala. Sorot pada kedua mata indah itu tak mengatakan apapun, begitu pula bibirnya. Widi, si pemuda memesona itu berdiri di belakangnya. Tangan sang pemuda menyentuh baru kiri si gadis. Mulut Widi setengah terbuka, seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun, kemudian ia memutuskan untuk mengatupkan bibir, lebih baik diam daripada bersalah.
"Widi, mulut itu tak jarang berbohong," gadis itu berpaling pada Widi. Kedua mata indah itu nanar dan tampak seribu kali lebih kecewa.
"Tapi, aku tidak berbohong!" pemuda itu melepas cengkraman lembutnya dari bahu si gadis dengan halus. Apa daya? Katanya seorang lelaki akan menjadi lemah di depan wanita yang dicintai. Bisa apa selain menyangkal dengan ragu?
Gadis itu. Gadis yang bersama Widi itu adalah Ajeng Roro. Matanya gelap melingkar, dalam, dan menghanyutkan. Sorot matanya seringkali menenangkan bagi siapa saja yang menatap si gadis. Hidungnya mungil dan tajam. Wajahnya tampak sangat manis ketika mengguratkan sebuah senyum. Rambut Ajeng hitam berkilau, lurus hingga bahu. Ia memiliki kulit sawo matang yang membuatnya amat sangat manis. Tubuhnya ramping dengan kaki jenjang. Sama dengan Widi, Ajeng juga mengambil Jurusan Hubungan Internasional di UGM. Merupakan bunga kampus-dan Widi sungguh beruntung memiliki Ajeng, meski hanya sampai hari itu.
"Widi, aku telah melihatnya. Aku melihatmu dengan-"
"Gendis-" Panggilan Widi untuk Ajeng. Dalam bahasa Jawa, Widi artinya manis. "-Bukannya kamu bukan gadis pencemburu? Kenapa tiba-tiba kamu ingin mengakhiri semuanya?"
Gadis manis itu menundukkan kepala, matanya menatap flat shoes hitam dengan bercak putih sepeti galaksi-motif yang katanya sedang menjadi tren. Ia tak dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Ajeng hanya dapat melemparkan segalanya pada sang kekasih saat itu. Seolah-olah Widi yang bersalah.
"Gendis, aku hanya mendiskusikan skripsiku. Aku kan, harus pergi ke Skotlandia minggu depan bersamanya. Dia partnerku selama di sana. Ini semua juga demi skripsi. Lagipula, kamu juga telah menyetujui itu," dahi pemuda itu mengkerut. Pikirannya tak henti berkecamuk. Apa yang terjadi pada Ajeng? Mengapa ia mendadak berubah menjadi pemarah dan sentimen? Bukankah kekasih Widi selalu bertingkah baik dan tak mudah cemburu?
"Aku tetap tidak bisa melanjutkan hubungan ini, Widi."
"Kenapa? Bosan?"
Gadis itu menggeleng.
"Atau kamu telah memiliki seseorang yang lain?" Sepasang mata gelap Widi memandang Ajeng yang enggan menatapnya. Sorot pemuda itu setengah kecewa, setengahnya lagi penuh harap.
Ajeng mengatupkan wajahnya dengan kedua telapak tangan. Napas gadis itu menjadi tersengal. Dengusan napas itu terdengar keras dan menyesakkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOGYAKARTA
RomancePemuda cerdas dengan pemikiran yang luar biasa kritis. Aktivis salah satu organisasi mahasiswa di universitasnya. Ia juga seorang anak yang patuh pada orang tua dan taat agama. Ah, Widi sangat mahir bermain biola dan cello sejak menginjak bangku Sek...
