MIMPI

79 11 1
                                        

Seseorang Mengikutiku...

Nafas yang terengah ini, bernafas di oksigen yang semakin menipis ,berlari dan terus berlari dilorong sebuah rumah sakit jiwa yang sudah membusuk tujuh puluh tahun lalu.

aku harus mengecek satu persatu ruangan dengan berlari lari, Aku masuk dan keluar lagi, karna meski Begitu banyak ruangan, semuanya buntu.

Hingga pada akhirnya diujung lorong ada sebuah lift berkarat. Aku berlari semakin kencang. Menekan nekan tombol lift dengan panik.

Seseorang yang mengikutiku semain dekat, wajahnya hitam ,seluruh matanya putih, baju putih nya yang lusuh menjuntai menyapu lantai

Lift terbuka dan dengan cepat aku masuk, tapi saat masuk. lift itu tak memiliki lantai. Meski aku menahan tubuhku agar tidak terjatuh , aku tetap saja jatuh.

Rasanya tulang punggung ku remuk. tidak sakit, tapi mati rasa.

Seseorang yang terus mengikutiku bertambah, mereka menjadi dua dan terus menatapku dari atas. Salah satu dari mereka terjun lalu memelukku, sedang aku yang terus berontak, tercengang karena dari atas, lift terjun . lift itu terjun dengan cepat hingga mematahkan kepala orang (atau sebenarnya bukan orang) yang sedari tadi memandangiku. Kepalanya jatuh dan darahnya membasuh wajahku, belum sempat aku membuka mata lift itu turun dan aku terbangun dari mimpi

pov-end

Keringat dingin membasahi Dimas, detak jantung Dimas masih belum kembali normal. Ia menatap kedepan dan melihati tv yang tidak menyala "siapa yang menukar tv ku" gumam Dimas.

Ia mendekati tv yang ukurannya jadi lebih kecil tapi lebih tebal, "kuno sekali.." gumamnya lagi. Dimas lalu menyalakan tv . saluran yang masih Hitam putih menampilkan pembawa acara yang mengabarkan bahwa dua orang anak terjatuh dan meninggal di lift rumah sakit jiwa.

-SAMA SEPERTI MIMPI Dimas-

agak gaje, terima saran dan kritik, jangan jadi silent reader ya...

sangkyuuu (alay -_-)

ABANDONEDStories to obsess over. Discover now