***
"HEYY,
WAKE UP U SLUT!"
oh tidak,
dad sudah bangun, aku pun langsung terburu buru membuka mataku dan dengan ketakutan aku perlahan lahan mendongak melihat dad, dia sangat seram, selalu saja smirk itu yang menghiasi wajah nya.
Tanpa ku duga, aku merasakan dad menjambak rambutku ini sampai rasanya ingin copot dari kepalaku, ini sangat sakit. "i-im already w-woke up d-dad" kataku dengan serak, aku tak bisa bicara dengan jelas entah kenapa aku merindukan sosok hangat orang didepanku ini, tak terasa setetes air mata dengan bebas meluncur dari kelopak mataku sambil berputarnya kenangan hangat bersama ayahku.
"HAHAHA sekarang kamu sudah berani melawan, hm?" kataya sambil mengambil ikat pinggang yang siap memukulku.
"DAD! CEPAT INI SUDAH HAMPIR MASUK SEKOLAH!!" teriak Bianca, dia saudari kembarku.
"berterima kasih lah kepada kakak mu slut! aku tidak jadi menghukumu" katanya dan dihadiahi tendangan di perutku.
"IYA SAYANG, DAD LAGI TURUN" kata dad beruntun dan langsung menampil smirk merendahkannya kepadaku lagi.
Aku pun meringkuk membentuk diriku menjadi bola dan kembali menangis. bukan, bukan karena pukulannya itu yang membuat ku menangis tetapi kata katanya. aku selalu kangen dengan dad yang dulu, aku heran karena kesalahpahaman dia bisa saja langsung percaya dan berubah menjadi sosok monster yang tidak pernah ku ketahui.
setelah puas meluapkan semua emosi ku, aku pun mencoba berdiri dan sempat ingin terjatuh tetapi berhasil ku tahan, aku berjalan ke kamar mandi dengan sempoyongan.
aku pun mandi secara tergesa gesa mengingat aku masih harus sekolah dan sekarang aku ingin terlambat. selesai mandi, aku mengikat rambutku dengan gaya ponytail dan tidak lupa aku memberi obat memar ke perutku akibat dad yang memukulku.
Dengan tergesa gesa aku pun mengabil tasku dan langsung menuju ke sekolah, kalo kalian pikir aku naik mobil, itu adalah salah besar aku jalan kaki ke sekolah, aku suka jalan kaki karena hanya dengan itu aku hanya bisa merasakan damainya bumi untuk sesaat.
Dengan tergesa gesa aku memasuki gerbang sekolah, aku melihat geng itu lagi dan lagi. Aku pun menutupi muka ku untuk menghindari mereka menyadari aku melewati mereka, tetapi too bad, mereka telah menyadarinya duluan.
"Hey ugly whore, kenapa kamu menjadi jelek terus tiap harinya ha? tak kusangka kau masih bisa hidup, i think you should go kill yourself, you worthless ugly bitch"
kata salah satu mereka, Justin.
aku mencoba tidak mendengar perkataannya dan langsung tergesa gesa menuju kelas, tidak ingin mereka membully ku lebih jauh lagi.
"Kenapa kamu terburu buru hm? oh atau lebih tepatnya menghidari aku?"
aku terlonjak kaget, bagaimana ia bisa secepat ini sampai di depanku?
"nggak, aku m-mau ke toilet, iya ke toilet" ucapku, udah tentu itu bohong, buat apa aku ketoilet padahal tadi aku habis mandi.
"ohh you wanna kill yourself in toilet huh? sebaiknya jangan disitu, toilet itu terlalu bagus buat tempat bunuh diri untuk jalang sepertimu" katanya sambil memukul betisku. Karena betisku ditendang, otomatis aku tidak dapat menjaga keseimbangan dan langsung tejatuh ke tanah. "Bye bitch" ucap Luke, salah satu dayangnya Justin. sebenarnya ada satu lagi, yaitu Calum, aku agak suka sama dia, dia tidak pernah mau membully ku.
aku pun menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan mata ku yang sekarang sudah memerah ini. aku pun berdiri dan kembali menuju ke kelas. sebelum ke kelas aku menuju ke locker dulu buat ngambil beberapa buku. baru aku ingin menutup locker ku tetapi sudah ada yang menutupnya dahulu, ralat maksudnya membantingnya.
aku melihat ke arah siapa yang membanting lockerku, dan ya! sesuai ekspetasiku, Bianca-kembaranku-lah yang membantingnya.
sangkin cepatnya, aku tak sadar kuku lancip penuh pernak perniknya sudah mencengkram kuat leherku, aku pun meringis atas perbuatannya.
"Dont make any noisse bitch"
aku pun mengangguk, aku tidak bisa berbicara, kali ini iya mancengkramku dengan kuat banget.
"what did you say? sorry, i cant hear you"
"i-iya-a" kata ku nyaris tidak bersuara.
"good girl" katanya dan langsung melepas jarinya itu.
aku pun berusaha bernafas kembali sambil memegang salah satu sisi loker. aku mencoba menghirup udara pelan pelan, dan akhirnya aku bisa kembali bernafas, tetapi ada rasa sakit di tenggorokanku.
Kalau kalian ingin tanya kenapa tak ada yang mau membantuku wakru aku dibully, well jawabannya simple, gaada yang mau bermasalah dengan Justin Bieber malah mereka sering menertawakan aku ketika dikerjain. aku berjalan ke kelas dan menuju ke tempat duduku, di bagian tengah. ketika aku berjalan aku melewati tempat duduk luke dengan smirknya.
belum sempat aku memikirkan apa maksud smirk nya itu aku kangsung jatuh kelantai. sekarang aku tau aoa maksudnya :) iya mau membuatku tersandung, such a stubborn girl i am :).
"watch your steps emma!"
aku pun mendesah mendengar perkataannya dan kembali bangkit berdiri untuk menuju ke tempat duduku.
.
.
.
.
Hella! i'm back with this new story! gatau kenapa lagi pengen nulis tentang pembulyyan hehe :)
jangan lupa vote, comments setelah membaca. thx.
19july2016
YOU ARE READING
Bullied
Fanfiction~***~ Apakah kalian tau rasanya di bully sepanjang hidup kalian? Merasakan memar setiap hari? Kadang aku berpikir, apakah masih ada yang peduli sama aku? Aku lelah, apakah alasan mereka membully ku? Apakah aku ada salah sama mereka? Geng laki laki...
