Matahari enggan menampilkan sinarnya dan awan setia menggelayut manja di langit biru. Pagi yang sempurna untuk melanjutkan merajut mimpi semalam
"Silviii bangun!" teriak Mamanya. Suara mamanya dari ruang dapur cukup untuk membangunkan satu desa saking merdunya.
"5 menit lagi, Ma." balas Silvi tanpa membuka matanya.
Hawa setelah semalaman diguyur hujan menambah sensasi dingin khas kasur menjadikan kasur memiliki gravitasi yang sangat besar sehingga sulit ditinggalkan.
"Sudah jam 7 sayang."
"Jam 7?! Mama kok ga bangunin aku sih?!"
Silvia seakan mempertahankan anggapan bahwa hari senin adalah Monster Day. Hari ini hari pertama Silvia masuk sekolah menengah atas dan nampaknya Silvia akan telat. Walaupun sekolah masuk jam 7.15 dan jarak rumah Silvia ke sekolah hanya 3 menit jalan kaki, tapi Silvi menghabiskan 10 menit berharganya di kamar mandi.
Jam tangannya menunjukkan pukul 7.14 sedangkan Silvi masih berjarak 100 meter dari gerbang sekolah. Ini antara hidup dan mati. Bayangkan, bahkan belum dibuka acara Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Silvia datang terlambat.
Sibuk dengan kemungkinan hukuman yang akan didapat, Silvi memutuskan untuk berlari. Baru 5 langkah Ia berlari, tiba-tiba ada motor berhenti di depannya.
"Naik." ucap laki-laki yang memakai seragam Handayani. Sekolah yang sama dengan Silvia.
"Kakak kelas yang baik" batin Silvi. Ia pun naik ke motor vario hitam 150cc itu. Diatas motor tidak ada yang membuka percakapan. Tak sampai 1 menit mereka sudah berada di parkiran Handayani. Silvia membuang napas lega. Pagi ini Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Bayangan Guru BK menyeramkan langsung pudar dari pikirannya.
"Lo nggak mau turun?" sela kakak kelas itu membuyarkan lamunan Slvia.
"Oh oke." balas Silvia. Ia lalu turun dari motor itu, disusul oleh kakak kelas itu yang lalu berjalan meninggalkan Silvia. Silvia kaget karena kakak kelas itu tak mengacuhkan keberadaan Silvia.
"Tunggu." teriak Silvia sambil mengejarnya.
Setelah berhasil menyejajarkan langkahnya, Silvia berusaha mengatur kembali napasnya. Setelah napasnya normal Silvia mengucapkan terimakasih yang dibalas dengan tatapan tajam. Jantung Silvia berdegup kencang saat tatapan mereka bertemu beberapa detik. Selama beberapa detik Ia sempat melirik bed namenya. Fade Mahendra.
"Oke" balasnya singkat.
"Gue Silvia, kelas X IPA 4." Ujar Silvia berniat mencairkan suasana aneh yang menyergap.
"Lo berhutang budi sama gue." balas Fade sambil tersenyum licik. Silvia kaget mendengar jawaban Fade. Ia pun menarik pendapatnya tentang Fade, kakak kelasnya itu..
*Kringgg*
Bel masuk berbunyi pukul 7.20. Telat 5 menit, tipikal orang Indonesia yang jarang tepat waktu.
Kelas X XI dan XII langsung berhamburan menuju lapangan untuk kembali menjalankan rutinitas yang sempat terhenti selama 2 minggu, yaitu upacara bendera. Yang berbeda kali ini, barisan kelas X yang masih menggunakan seragam SMP.
Hari ini lapangan kembali riuh oleh teriakan-teriakan dan celotehan anak-anak perempuan kelas XI dan XII yang terpisah selama 2 minggu karena liburan. Sedangkan anak laki-laki lebih kalem sedikit -karena di SMA Handayani populitas laki-laki berbanding terbalik dengan populitas perempuan-
Berbeda dengan barisan kelas X. Kelas X terlihat lebih kalem. Bukan hanya kalem, tapi sepi. Tak ada yang berteriak histeris. Tak ada cerita tentang liburan. Dan tak ada keakraban, mungkin karena hari ini adalah hari pertama, jadi mereka belum cukup akrab dengan teman sekelas mereka, padahal mereka sudah dipertemukan di Pra-MOS.
Silvia sendiri kemarin sudah berkenalan dengan calon-teman sekelasnya, namanya Denada Apriliana. Tapi pagi ini Silvia belum melihat batang hidungnya.
"Silviiii.." teriak seseorang dari barisan belakang mengagetkan.
YOU ARE READING
Oberschule [SMA]
Teen FictionSilvia bangun kesiangan di hari pertamanya masuk di Sekolah Menengah Atas. Takdir inilah yang telah mempertemukannya dengan Fade, kakak kelasnya. Cerita akan segera dimulai~~
![Oberschule [SMA]](https://img.wattpad.com/cover/76746389-64-k446867.jpg)