Hallooo! ini bukan cerita pertama yang aku tulis, tapi ini my very first story yang aku post ke Watty. Jadi mohon dimaafkan segala kekurangannya karena sama sekali belum berpengalaman hehe :) :)
ini cuma cerita klise + pasaran yang pure keluar dari otakku, kalau ada kesamaan nama tokoh, latar, dll itu murni faktor ketidak sengajaan.
Enjoy :D
Aku berbaring diatas ranjangku, menatap langit langit kamar dengan pandangan kosong. Beberapa jam lalu untuk terakhir kali aku melihat mama. Aku melihat peti mengkilap itu perlahan diturunkan menuju perut bumi.
Dan momen itu terus saja terputar diotakku. Aku mencoba mengalihkan pikiran. Mungkin akan lebih baik jika aku tidur dikamar kak Kelvin malam ini. Dia selalu bisa membuatku lebih tenang.
"Loh, kakak mau kemana?" aku keheranan melihak kak Kelvin memasukan bajunya satu persatu kedalam koper ukuran super besar.
Dia menoleh ke arahku. Lalu tersenyum. Senyum terbaiknya yang paling aku suka.
"Bri, kamu tahu kan kakak selalu sayang sama kamu?" Ucapnya yang terdengar begitu tulus ditelingaku. Entah mengapa perasaanku tidak enak. Rautku seketika memelas kemudian mengangguk.
"Tapi sekarang kakak harus pergi. Dan kali ini mungkin akan sangat lama. Berjanjilah kamu akan baik-baik saja dan nurut sama Papa, okay?" Ia berucap lagi sambil mengelus puncak kepalaku. "I know that you are a strong girl."
Aku hanya diam dengan air mata yang tak bisa kutahan. Kukira air mataku sudah habis setelah pemakaman mama tadi siang.
"P-p-pergi?? Kemana? Kenapa, kak??" nada bicaraku begitu menuntut.
Kemudian kak Kelvin tersenyum lagi, mata hazelnya memandangku penuh sayang yang entah bagaimana selalu bisa aku rasakan. "Nanti setelah kamu dewasa semuanya akan terjawab. Kamu akan mengerti dengan sendirinya. Dan janji satu hal lagi sama kakak," kalimatnya tergantung karena setelah itu aku langsung memotong ucapannya.
"Aku gamau dengar apa apa lagi, kak. kakak akan tetap dirumah ini! mama baru aja pergi, bagaimana bisa kakak ninggalin aku tepat setalahnya, kak?!" tanpa kusadari aku berteriak. Dan kini tangisku meledak.
Ia tetap tersenyum dengan matanya yang begitu menenangkan, kemudian ia menangkup wajahku yang basah air mata dan berkata pelan
"Berjanjilah jangan pernah membenci Kakak apapun yang terjadi."
###
YOU ARE READING
Right Behind Me
Teen FictionAubrienne Kirana tidak pernah menyangka, ditengah kehidupannya yang nyaris sempurna ia harus kehilangan dua sosok yang ia sayangi sekaligus. Hidupnya mulai tak berarah setelah ia kehilangan figur kakak lelakinya yang begitu berpengaruh dalam hidupny...
