{14} RICKY POV

2.7K 154 5
                                    

I For You
============================
♡HAPPY READING♡

***
"Bila mencintaimu adalah salah, aku tidak akan pernah mau menjadi benar." - Janji Hati

***

Sapuan angin kencang yang aku rasakan begitu membuat kulitku merinding. Tetapi, aku tidak menghiraukan itu semua. Aku terus terfokus pada objek didepanku. Sesekali menaburi bunga-bunga diatas tanah yang sudah sangat mengering ini.

Thasya Mesta Anandita

Aku mengusap batu nisannya yang sudah kotor terkena debu. Aku tersenyum lirih melihatnya. Kenapa kamu harus pergi secepat itu dulu? Apa sekarang kamu hadir kembali melalui orang lain?
"Sya.." panggilku lirih. Memanggil namanya saja membuatku merasa sedih.

Sebenarnya aku belum mengikhalskannya pergi begitu saja. Disaat ulang tahunku yang ke-12 dia pergi untuk selamanya. Thasya mengalami kecelakaan motor saat itu. Motor yang ditumpanginya menabrak sebuah truk yang sedang melaju kencang. Dan saat melihat jasadnya dulu, aku tak percaya kalau thasya memang sudah benar-benar pergi.

"Apa kabar kamu diatas sana? Apa kamu sudah bertemu mama kamu disana? Pasti kamu bahagia kan?" Keadaan masih tetap hening. Aku berusaha menahan tangisku agar tidak keluar.

"Sya... aku menyukaimu. Kamu tau itukan?"

"Tapi.... tapi kenapa kamu malah meninggalkan aku. Dulu, kamu bilang kamu akan tetep nemenin aku terus sampai kamu jadi nenek-nenek. Kenapa malah kamu yang pergi duluan?" Usai sudah. Cairan bening lolos dari mataku. Aku tidak bisa menahan tangisku.
"Hari ini adalah hari pertama aku masuk smp Sya. Dan kamu tau? Ada seseorang yang sangat mirip dengan kamu. Awalnya aku kira itu kamu, tapi sifat kalian jauh sekali berbeda. Aku yakin itu hanya halusinasi aku aja. Tapi, aku selalu nyaman deket sama dia Sya. Aku merasa tenang liat dia senyum atau bahkan tertawa lepas. Sya, kalo emang kamu mau liat aku bahagia, kamu boleh izinkan aku untuk mengenal lebih jauh tentangnya? Tolong bantu aku juga Sya dari atas sana. Bilang sama Tuhan kalo aku pasti akan bahagia dan mengikhlaskan kamu. Aku janji." Aku merasakan angin yang berhembus pelan menerpaku. Aku yakin Tasya bisa mendengarku dari atas sana. Aku janji Sya akan bahagia walau bukan bersama kamu. Dan aku akan mengikhlaskan kamu.

Aku langsung menaburi makam Thasya dengan bunga-bunga yang sudah aku bawa. Dan tak lupa sebuket bunga mawar merah. Bunga kesukaan Tasya. Aku mengusap batu nisan itu sekali lagi lalu beranjak dari tempatku sesudah mendoakannya.

Flashback Off *****

"Woii onta!!"

"Heh! Perawan ngga baek ngelamun."

Merasakan toyoran dikepalaku aku langsung tersadar dari lamunanku itu. Aku mendelik sebal melihat orang didepan ku ini. Bisa-bisa nya dia menoyor kepalaku. Dan apa tadi dia bilang? Perawan? Bener-bener ngga beres ni anak.

Aku mengusap kepalaku akibat toyorannya tadi, "Heh upil! Maksud lo apa noyor kepala gue?!" Alina hanya memutar bola matanya jengah.

"Lagian lo, gue panggilin ngga nyaut-nyaut. Ya terpaksa gua gituin. Ngapain si lo ngelamun ngga jelas gitu? Mikirin gue?"

Sepertinya otak si Upil satu ini sudah gesrek permisa. Lihat bagaimana ucapan dia tadi. Tapi, ada benarnya juga sih. Memang kan aku tadi sedang memikirkan dia.

I For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang