Part 2-SECOND MOS

5.8K 435 23

Vote sebelum baca dan komen setelah baca ya ^^

*****


Paradigma Cellyn mengenai MOS kedua ini salah besar. Di hari kedua ini, MOS sangatlah sulit. Membuang banyak tenaga Cellyn. Cellyn harus rela mengkoar-koar ke sepenjuru ruangan aula agar suaranya di dengarkan.

Mereka sedang dikumpulkan di aula dan mendengarkan seperangkat materi dari guru pembimbing MOS. Para guru itu memberikan tugas kepada siswa baru untuk berkelompok dan membuat sebuah kerajinan dari bahan bekas. Waktu yang diberikan hanya 45 menit.

"Mau buat apa kita?" Denin, cowok yang sempat berkenalan dengan Cellyn di hari pertama MOS itu terpilih menjadi ketua. Teman-temannya saling ribut dan tidak ada yang mendengarkan dia.

Hingga satu seruan menghentikan tingkah brutal mereka.

"STOP! LO SEMUA PILIH DIEM APA KELUAR?"

Seisi ruangan melihat ke satu objek, Cellyn. Wajah Cellyn memerah karena marah dan malu.

Cellyn tersenyum canggung. Beberapa saat kemudian suasana kembali seperti semula. Riuh dengan argumen-argumen.

"Gimana kalo bunga palsu?" usul Novia, siswi yang paling tinggi di antara mereka.

"Jangan, itu terlalu cewek," tolak Cellyn.

"Kotak kado aja," celetuk Winda.

"Terlalu biasa," tolak Cellyn lagi.

"Ya terus lo maunya apa? Ini itu ditolak." Denin memijit pelipisnya.

Cellyn meringis. "Gue usul vas bunga."

Semua mengangguk serempak dan Denin menambahi, "Oke kita buat vas dan Cellyn akan membantu kalian," sungguh, cellyn sangat merutuki perkataannya barusan.

*****

Pembuatan selesai dan waktunya pengumpulan. Ternyata bekerja sama dengan teman sangat menyenangkan, tidak seperti membuat sendiri. Justru pekerjaan yang dikerjakan ramai-ramai terasa ringan dan cepat terselesaikan.

Tenggorokan Cellyn kering karena selama bekerja kelompok, dirinya selalu mengarahkan teman-temannya. Cellyn memegangi tenggorokannya, dia haus.

"Kenapa Cell?" Tiba-tiba saja Denin sudah berdiri di samping Cellyn dan membawa sebotol air mineral. Entah dari mana asalnya tapi Cellyn sangat tertarik dengan air itu.

"Haus banget gue," jawabnya jujur.

"Nih air buat lo." Denin tersenyum dan memberikan air mineral itu ke Cellyn.

"Makasih ya". Cellyn tersenyum simpul dan itu mampu membuat tubuh Denin terasa ringan. Andai saja dia sekarang tidak berpegangan pada pundak Dian, dia mungkin sudah mendarat di antah berantah.

Microfon mendengung membuat semua orang menutup telinganya, tidak terkecuali Cellyn.

"Ehm ... perhatian semua, kalian boleh kembali ke gugus masing-masing. Tapi waktu keluar nanti, kalian bakal di cek name tag nya. Jika ada yang tidak sesuai aturan akan diambil dan kalian akan mendapatkan kejutan dari kakak OSIS nanti." Sungguh muna, Cellyn tau betul apa kejutan itu. Hukuman, hukuman, dan hukuman. Semua mendesah ingin protes, namun tidak ada yang berani angkat bicara.

Apa pantas itu disebut kejutan? Oh dear. Dan sialnya, dia termasuk salah satu siswa itu. Name tag nya diambil paksa oleh OSIS dan pengurangan nilai dituliskan di buku bersampul hijau yang masih bersih itu. Cellyn meringis mengingat membeli buku itu sangat penuh perjuangan, dan OSIS tinggal mengorotinya dengan bolpoin merah mereka.

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!