13. Sial

17.7K 1.2K 19
                                    

KRINGG

Bel pulang sekolah berbunyi.

"Yes!" Ujar Andrea lantang. Membuat orang-orang di sekitarnya menoleh.

'Gila lo ya?!'

'Masih ada guru woi parah bet lu dah!'

'Lu keliatan seneng banget sumpah pelajaran Pak Eri selesai!'

Dan masih banyak celotehan lain yang tertuju padanya. Andrea hanya bisa tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sama sekali.

"Andreana Gabrielle, kerjakan soal dari halaman 128! Karena saya masih baik, cukup kerjakan 50 soal dari 100 soal tersebut. Kumpulkan hari ini juga!" Ujar guru tersebut yang tengah menampilkan senyum liciknya.

Edan.

'Mampus!'

'BHAK! kasian gue mah!'

'JAAAAA!'

Dan lain-lain. Andrea hanya dapat tersenyum kecut sambil merutuki perbuatannya sendiri.

"Baiklah, selamat siang." Ujar Pak Eri lalu melangkahkan kaki keluar kelas yang baru ia ajari. Diikuti oleh murid lainnya.

Kecuali Andrea.

"Apes banget gue." Ujarnya kesal sebelum mengerjakan tugasnya.

Ia tetap menempati tempat duduknya. Membalikkan halaman-halaman buku yang ia miliki dengan jari-jari lentiknya.

Angin yang berhembus melewati jendela kelas membuat Andrea nyaman. Namun ia tetap merutuki dirinya yang mendapatkan hukuman.

Di sela-sela aktivitas Andrea, seseorang berjalan menghampirinya.

"Gak pulang?" Ujar lelaki tersebut. Andrea menatap lelaki tersebut, kemudian menggelengkan kepalanya.

"Belom selesai." Balasnya. Kemudian lelaki tersebut hanya manggut-manggut lalu melangkahkan kakinya menjauhi Andrea.

"Monyong! Gue kira dia mau bantuin atau nemenin gue ngerjain. PHP emang!" Cibir Andrea setelah lelaki tersebut keluar dari kelasnya. Keinginannya meleset. Akhirnya perempuan tersebut hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, lalu kembali berkutat dengan buku-buku tugasnya.

"Nih." Suara bariton yang khas tersebut membuat Andrea menghentikan aktivitasnya. Lelaki tersebut menyodorkan sebotol minuman dan sebungkus roti favorit Andrea.

"Thanks." Balas Andrea sambil tersenyum. Ia senang jika Gerald mengetahui apa yang ia sukai. Hal itu membuatnya merasa.. spesial.

"Sini gue bantu."

"Eh-eh! Gak usah!" Sela perempuan tersebut dengan cepat. Membuat lelaki yang menawarkan bantuan kepadanya mengernyitkan dahi.

"Siapa yang tadi teriak minta dibantuin atau ditemenin?"

Malu-maluin! Batin Andrea.

"Siapa? Gak ada!" Cibir Andrea. Gerald menatap gadis di hadapannya itu sambil tersenyum kecil. Ia mengambil buku yang digenggam oleh Andrea, setelah itu keduanya kembali fokus pada tugas yang diberikan Pak Eri.

Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening. Sampai akhirnya tugas Andrea selesai.

"Ger." Panggil Andrea, lelaki itu pun menoleh dengan wajah datarnya.

Kruyuk

"Laper?" Tanya Gerald. Di sisi lain Andrea hanya tersenyum kikuk menahan malu.

"Kita kumpulin dulu abis itu makan." Ujarnya. Andrea menganggukkan kepalanya setuju.

Kedua berjalan ke ruang guru tanpa bertukar kata sedikitpun.

Baru saja Andrea ingin membuka pintu ruang guru, seseorang sudah membukanya terlebih dahulu.

"Oh? Andrea? Baru saja bapak mau pulang! Habis kamu lama." Ujar Pak Eri. Andrea memberikan tugasnya lalu tersenyum kepada gurunya tersebut.

"Eh, kalau dilihat-lihat kalian berdua cocok sekali lho!" Hampir saja Andrea tersedak air liurnya sendiri mendengarkan hal tersebut.

"Kita hanya sebatas teman." Ujar Gerald datar. Sementara Andrea hanya tersenyum kikuk mendengar pernyataan guru tersebut.

"Teman". Andrea sudah berharap terlalu jauh. Ia sudah menduganya, namun ia tidak menyangka akan sekecewa ini.

"Hahaha, malu-malu. Ya sudah, bapak permisi ya." Balas Pak Eri lalu meninggalkan kami berdua.

"Ayo." Ujar Gerald memecah keheningan. Andrea langsung tersadar dari lamunannya.

Andrea mengernyitkan dahinya. "Eh? Ngapain?"

"Makan kan?" Balas Gerald. Perempuan di hadapannya ber-oh-ria lalu menganggukkan kepalanya.

Keduanya pun berjalan keluar dari area sekolah dan pergi makan bersama.

***

"Makasih ya buat hari ini!" Ujar Andrea dengan senang. Gerald hanya bergumam menanggapi ucapan perempuan tersebut.

Andrea berjalan ke depan pintu rumahnya yang terkunci rapat-rapat. Ia menemukan selembar sticky note yang tergeletak di karpet depan pintunya.

"Mama sama Papa ada urusan, mungkin baru pulang besok." -Mama kesayanganmu.

"Hari ini emang hari sial." gumamnya.

Gerald mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"

"Keluarga gue pergi sehari. Mau tidur di mana gue sekarang? Masa tega sih anaknya jadi gelandangan?!" Cibir Andrea kesal.

"Gimana kalau nginep di rumah gue?"

"Eh?"

***

A/N
Haii! Pendek banget ya? Udah updatenya lama ceritanya jg pendek ;' abis bingung mau bikin alur kaya gimana ): Gue usahain update selanjutnya lebih cepet dan lebih panjang juga.

Tapi ga janji ya. Hehe.






[#1] Cool Girl vs Cold Boy✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang