Part 5

6.2K 184 7
                                    

Pagi ini sedan hitamku melaju dengan sangat cepat, ditemani istriku aku terus melajukan mobilku sampai terhenti tepat diparkiran Rumah Sakit Nur Asih. Sesampai didalam kedua kakaku bergantian menceritakan kondisi bapak. Dari semalam bapak belum sadarkan diri, matanya tertutup rapat. Selang pernafasan masih terpasang. Degup jantungnya tergambar jelas dilayar monitor disebalahnya. Ibu dan Kakaku sudah melihat keadaan bapak didalam. Pagi ini giliran aku dan istriku yang diizinkan masuk. Ya'Allah.. nafasku rasanya sesak sekali ketika kakiku akan melangkah masuk kedalam ruangan bapak. Istriku terus menuntun agar aku terus berdzikir, dengan pelan kubuka pintu ruangan dimana bapak dirawat. Dan disana, seorang lelaki yang rambutnya sudah memutih, seorang lelaki yang sangat berjasa dalam hidupku. Terbaring lemah, matanya tertutup rapat. Nafasnya dibantu dengan alat. Air mataku menetes melihat kondisi bapak. Suasana hening, yang terdengar hanya suara isak tangisku dan istriku serta sauara degub jantung bapak dilayar monitor.

Menurut dokter yang disampaikan lewat mbak yanti, Tekanan darah bapak naik, sehingga merusak pembuluh darah diotak. Bapak memang sudah lama mengidap hipertensi atau darah tinggi. Tapi selama ini, didepan anaknya bapak tak mau terlihat lemah. Bahkan jika hipertensinya kambuh, ia sering diam diam masuk kekamar, padahal aku tahu, itu ia lakukan hanya karena ia tak mau membuat khawatir anak-anaknya.

Aku dan istriku duduk disamping bapak, kucim keningnya. Kening yang sudah terlihat kriput. Wajahnya pucat, dingin. Tak ada sama sekali senyuman dari wajah bapak. Lalu kubacakan Surah Yassin disamping bapak disambung dengan Ayat Qursi sebanyak tujuh kali. Ketika membaca ayat ayat suci disamping bapak, aku benar benar tak bisa menahan air mataku agar tak menetes. Ya Allah.. jika bapak harus pergi secepat ini. Aku Ikhlas... Jangan kau biarkan dia dalam keadaan seperti ini.

**

Waktu mengajar dipondoku masih satu jam lagi, anak-anak didiku juga belum ada yang nampak satupun. Sepulang dari rumah sakit aku memang langsung menuju pondok. Ya.. biar bagaimanapun hari ini aku harus tetap mengajar, sementara fatma ia memilih tetap berada dirumah sakit menemani mbak yanti karena mbak sofi dan ibu sedang istirahat dirumah.

Aku masih duduk diteras pondok menulisku, angin menjelang sore ini begitu sejuk sekali. Daun daun kering yang berjatuhan pun tak mampu ia seret dengan terpaanya. Tapi angin itu mampu membuat ujung jilbab seorang wanita berterbangan namun tetap setia menutup aurat gadis remaja itu. Ia terus berjalan sampai terhenti dihadapanku dan langsung menyalamiku.

"Saya lebih suka lihat kamu memakai hijab el, kamu janji sama saya. Kamu jangan pernah meninggalkan hijab kamu lagi.."

"Makasih mas fiyan, elma janji. Elma akan terus berhijab"

Elma duduk disampingku, sementara pandanganku masih lurus kedepan entahlah apa yang aku lihat saat ini. Fikiranku saat ini tak teratur.

"Yang sabar ya mas. Elma tahu mas fiyan pasti sedih yah karena bapak mas dirawat dirumah sakit. Elma doakan semoga beliau cepat pulih yah"

"Amin... kamu kenapa awal sekali datangnya? "

"Sepertinya elma masih kalah datangnya oleh mas fiyan.."

"Bisa saja kamu.."

"Mas, makasih yah. Sebenarnya mas gak usah repot repot melunasi hutang bapak dan membantu biaya sekolah elma. Mas fiyan mau mempekerjan elma di pondok saja itu sudah menjadi suatu kebangaan.."

"Itu sudah tugas saya. Kamu ini murid saya. Kamu saudara se-agama. Wajib hukumnya saya bantu"

"Saudara seagama? Bagaimana jika diluar sana ada orang yang masalahnya lebih dari elma? Elma merasa gak pantas menerima kebaikan mas fiyan"

"Jangan bicara seperti itu, jika diluar sana banyak orang yang dilanda kesedihan dan masalah. Ya inilah hidup. Saya yakin diluar sana juga banyak orang-orang yang jauh lebih baik dari saya yang siap membantu orang-orang yang sedang kesusahan"

KUPU KUPU JANTANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang