CHAPTER 16

5K 205 0
                                    

-Author POV-

"Tolong berikan amplop ini pada wanita yang memakai baju hitam disana." Bisik seorang pria kepada seorang bocah disampingnya.

Pria itu menunjuk seorang wanita yang ditujunya dari jauh, bocah kecil yang diperintahnya mengangguk polos sambil melihat amplop yang akan diberikannya kepada wanita yang ditunjuk.

"Apa kamu mengerti? Ini ada sedikit hadiah untukmu." Sebuah mainan Lego dikeluarkan pria itu dari mobilnya.

Kedua mata bocah itu langsung berbinar melihat mainan yang disukainya. Dengan cepat tangan mungilnya mengambil mainan yang diberikannya. Senyuman manis muncul dibibir kecilnya. "Terima kasih om."

"Tapi ingat dengan yang om perintahkan." Pria itu mengelus gemas kepala bocah berambut keriting itu.

Dengan hati yang senang bocah kecil itu menghampiri wanita yang dituju oleh pria yang menyuruhnya. Ditangan kanannya menggenggam amplop kecil dan ditangan sebelah kirinya memegang mainan barunya.

Dua orang wanita terlihat sedang bercengkrama di sebuah cafe pinggir jalan yang cukup ramai dikunjungi para remaja. Dengan secangkir kopi menambah kehangatan suasana sore ini.

Sampai seseorang datang memberhentikan pembicaraan mereka. "Tante, ini untuk tante." Seorang bocah memberikan amplop kecil berwarna biru kepada salah satu wanita yang terkejut melihatnya.

"Ini apa? Dari siapa?" Sang wanita terlihat kebingungan dengan apa yang diberikan bocah kecil itu.

Bocah kecil itu hanya bisa menggeleng untuk menjawab pertanyaan yang ditanyakan seorang wanita didepannya.

Setelah memastikan amplop itu bepindah tangan ke orang yang tepat, bocah itu membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan cafe itu.

-Tita POV-

Ini kedua kalinya aku mendapat amplop dengan warna yang sama. Jika sebelumnya aku mengira surat itu sudah salah alamat diberikan kepadaku tapi kali ini aku sedikit yakin jika ada seseorang yang sengaja memberikan ini padaku. Apa sebenarnya tujuannnya, dan siapa seseorang dibalik ini semua.

"Kenapa tidak dibuka?" Suara Rachel mengalihkan tatapanku dari amplop itu.

"Aku sedikit ragu untuk membukannya." Ku ambil minumanku lalu meminumnya untuk mengurangi keteganganku.

"Kenapa? Mungkin surat itu dari kekasihmu." Rachel tersenyum menggodaku.

Juna? Mengapa tidak terfikir olehku. Apa Juna yang mengirimkan surat ini. Ku keluarkan isi amplop itu dan membuka lipatan suratnya.

Kau pasti bertanya-tanya siapa aku..
Aku janji sayang, kita akan bertemu..
Bertemu di hari kematianmu!!

Degup jantungku berpacu dengan cepat setelah membaca isi surat itu. Tidak, tidak mungkin Juna yang mengirimkannya. Ini sangat jelas jika ada yang ingin menerorku.

Dengan cepat ku masukan surat itu kedalam tasku kemudian pandanganku menyisir ke seluruh cafe ini. Orang itu pasti tidak jauh dari tempatku berada.

"Kamu kenapa Tita? Apa ada masalah?" Rachel sepertinya khawatir melihatku yang menjadi tegang seperti ini.

"Tidak ada masalah. Lebih baik kita pulang sekarang." Jawabku cepat.

Rachel bingung dengan sikapku, tapi tetap mengikutiku untuk pergi dari tempat ini.

Aku takut. Sangat sangat takut. Setelah seseorang itu menyebutkan kematian di suratnya. Dia menginginkan kematianku. Apa salahku? Ku putar kembali otakku untuk mengingat kesalahan apa saja yang sudah kubuat sehingga ada yang menginginkan kematianku.

PRINCE IS YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang