Oh My Gosh !!

11.2K 570 5
                                    

Senin yang sibuk. Dari pagi aku sudah disibukkan menjadi petugas upacara. Tentunya aku menjadi anggota paduan suara. Aku tidak berani mengajukan diri jadi pengibar bendera, walaupun Thata mati matian mendukungku.

Dan tebak !! Siapa yang jadi pengibar bendera. Tidak masuk akal, tapi itu benar terjadi. Patricia. jika sifatnya tidak seperti itu, mungkin dia gadis yang sangat cantik. Benar benar cantik.

Ada yang aneh dengan Patricia. Semenjak aku keluar dari rumah sakit, dia sama sekali tidak menggangguku. Bahkan ketika bertemu pun dia seolah tidak menganggapku ada. Mengacuhkanku.

Kabar yang baik bukan ? Tapi ini jadi hal yang aneh. Bukan bermaksud kangen dengan semua bully-annya padaku. Tapi hari hariku terasa sedikit sepi. hmmmm.... entahlah. Apa ini yang disebut dengan kedamaian.

"Ve, kantin dulu yuk. Haus gue abis nyanyi" seru Thata. Kadang Thata sedikit lebay. Nyanyi dikit aja udah haus. Padahal suara bagus aja enggak. Hahaha

"Oke deh. Tapi jangan lama lama yaaa..!!" Pintaku.

Jam pertama adalah jam pelajaran fisika. Pelajaran favoritku. Aku gak mau ketinggalan cuman karena Thata minta temenin ke kantin.

"Ayoo ah cepet... !!" Seruku pada Thata yang lagi menenggak es jeruknya. Thata mengangguk cepat.

***
"Karena bapak mau ada rapat, kalian kerjakan halaman 47 ya" kata pak Anwar disertai suara keluhan anak anak.

Aku dengan rela, suka hati menerima tugas fisika. Sebanyak banyaknya hitungan di fisika tidak semembingungkan matematika.

"Oh ya. Ini tugas kelompok ya. Setiap kelompok ada lima orang. Nama anggota nya akan di tulis oleh teman kalian ini" lanjut pak anwar mengakhiri pertemuan.

Fahri, ditunjuk pak anwar untuk menulis nama anggota kelompok. Aku mencari namaku, dan ternyata

Kelompok 7 :
Ghea
Alysa
Reveline
Andika
Patricia

Haaah!!! Patricia. Glekk !!

Semua siswa kelasku ribut dengan anggota kelompoknya. Sedangkan aku mematung. Apa yang harus kulakukan.

Ghea dan alysa, mereka tipe tipe yang masa bodo terhadap tugas. Sedangkan andhika, kalau dia masuk kelas itu adalah keajaiban. Dan tadaaaaa !! Tinggal aku dan Patricia.

Aku melirik kearah bangku Patricia, dia menatapku dengan tajam, lalu mengalihkan pandangannya. Kali ini aku bisa pasrah, dan menanti kejutan apalagi yang akan diberikannya.

"Gue aja yang ngerjain" kata Patricia yang tiba tiba menghampiri mejaku.

"Emang lo bisa ?" Sambar Thata ketus. Sebenarnya dalam hati aku pun ingin mengatakan hal yang sama.

"Gue aja, gapapa kok" kataku melerai mereka. Bagaimana tidak, mereka sudah saling adu melotot.

"Gue bisa nyuruh guru les gue, dan gue gak mau berhutang budi sama lo" Sahut Patricia, lalu dia meninggalkan mejaku.

Entahlah, apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin dia sudah benar benar sadar. Atau mungkin dia sedang sakit, hingga dia lupa membully ku lagi.

***
"Ve, nanti gue ke rumah lo" Gerald membuka pembicaraan setelah dia menghabiskan sepiring gado gadonya.

Aku hanya terkejut dengan ucapannya. Kerumahku lagi?? Kemarin aku selamat karena mama tidak menanyakan hal yang macam macam. Tapi kalau Gerald kerumah lagi dan acaranya belajar lagi, mungkin mama akan curiga.

"Jangan jangan !! " sahutku cepat

"Kenapa ??"

"Lo kan kemaren udah kerumah gue, gue aja yang kerumah lo" alasanku. Ya semoga terdengar masuk akal.

Dream CatcherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang