1. Sial Membuahkan Pertemuan

1K 78 8
                                    

"Gosong ya, gosong, deh!" Cewek itu mendengus. Tangannya bergerak dengan refleks telungkup tepat di dahi, melindungi wajah dari teriknya matahari.

Dara berjalan pelan melewati ratusan siswa di koridor yang membentuk lautan manusia. Cewek itu tetap menegakkan badan, tak ingin tenggelam dan terinjak, karena kalau sampai itu terjadi, lengkap sudah kesialan pada hari pertamanya di SMA Dewantara. Dara benar-benar menyesal karena sudah mengabaikan saran Sarah untuk menunggu di kelas sampai koridor sepi.

"Gila!" decak Dara ketika ia sudah sampai di area parkir kelas sepuluh yang tidak terlalu ramai, mungkin karena para murid baru belum membiasakan diri untuk mengendarai motor ke sekolah. Berbeda dengan Dara yang dengan nekatnya mengendarai sepeda motor sejak dirinya masih duduk di bangku kelas sembilan.

Dara berjalan sembari bersenandung pelan menuju motornya. Cewek itu sudah sangat lelah, bayangan akan dirinya memeluk guling, membaringkan badannya di atas kasur sambil mendengarkan musik pengantar tidur, dan jangan lupakan berbagai makanan ringan di nakas, semua rencana itu menari-nari di otak, mencetak senyum lebar di wajah. Namun, rencana hanya tinggal rencana ketika didapatinya seorang cowok jangkung menggerutu di kejauhan. Cowok itu terlihat memeriksa keadaan motor besar berwarna merah yang berada tepat di samping tempat motor Dara diparkirkan. Dara menggeleng, menatap punggung cowok itu dengan tatapan horor. "Kali ini, gue beneran mampus."

Mentari menampakkan diri, keluar dari tempat peristirahatannya, memulai tugas menemani aktivitas para manusia. Burung-burung pun menyambut kehadirannya dengan riang, mereka bersama kawanannya mengepakkan sayap, terbang mencari dahan untuk hinggap. Kaki burung-burung itu menapak pada rerantingan, menyebabkan guncangan memaksa si embun pagi mengalah dan jatuh dari daun membasahi jalan setapak. Embun rela dirinya terjatuh demi burung-burung yang mulai mengeluarkan kicauan merdunya. Begitu merdu, hingga membuat siapa pun yang mendengar membuka mata, dengan rela keluar dari mimpi indah dan tersenyum semringah, bersiap untuk menjalani hari yang setiap detiknya masih menjadi rahasia.

Tapi, Dara bukan satu dari orang-orang itu. Jam alarm berbentuk kucing lucu merah jambu sudah berdering sejak lima menit lalu, namun matanya masih terpejam tak jemu. Terlena akan mimpi menjadi seorang putri raja membuatnya dengan beringas meraih si kucing yang mulai menggangu dan melemparnya ke permukaan lantai sampai-sampai kucing itu berhenti berdering. Kedua ujung bibir Dara langsung melengkung ke atas, masih dengan mata terpejam cewek itu menenggelamkan dirinya dalam selimut, menenggelamkan dirinya ke alam mimpi lebih dalam lagi.

"Dara!" Kening Dara langsung berkerut begitu indra pendengarannya menangkap gelombang suara sangat kuat. "Ya ampun, Dara! Anak perempuan kok susah sekali dibanguninnya, sih! Kamu mau sekolah apa nggak?!"

Dara dengan terpaksa, akibat guncangan-guncangan yang diberikan, pada akhirnya membuka mata. Ia memandangi sosok di depannya dengan malas, yang dibalas dengan gelengan kepala serta mata memicing.

"Bangun, cepet! Liat, ini udah jam berapa?" Ibu Dara mengacungkan si kucing lucu merah jambu tepat di depan wajah putrinya. "Udah jam tujuh kurang lima belas! Kamu sekolah jam berapa, hm?"

Seakan ada wanita berpakaian serba putih berdarah-darah yang tiba-tiba menampakkan diri di depan cewek itu, Dara berteriak. Ia menjerit begitu keras, lalu dengan nekat menuruni kasur dan langsung berlari menuju kamar mandi. Diabaikannya rasa pening bagai batu yang menghantam kepala, akibat nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul serta pergerakkan yang tiba-tiba, Dara melakukan semuanya secepat kilat dengan tanda kemerahan di dahi kirinya, bekas berciuman dengan penyangga shower saat mandi. Sedangkan, sang ibu yang menatapnya berlarian panik hanya bisa memejamkan mata dan mengelus-elus dada.

Kebanyakan orang yang menyaksikan keseharian Dara pasti akan berkomentar bahwa cewek itu malas, petakilan, dan ceroboh. Memang begitulah kebenarannya. Dara hobi begadang. Bukan hanya begadang sampai tengah malam, cewek itu bisa terjaga karena menonton film atau sekadar bermain ponsel hingga subuh. Di hari-hari sekolah, kebiasaannya adalah tidur dua jam sebelum seharusnya ia bangun di pagi hari, lalu bangun tiga puluh menit sebelum pelajaran pertama sekolah dimulai. Berkali-kali dinasihati untuk tidur lebih awal, maka dengan cuek ia akan menjawab, "Dara bisanya tidur jam segitu," lengkap dengan bahu yang dinaik-turunkan santai. Jika tidak ada kegiatan, yang dilakukan Dara biasanya bermain ponsel, menonton film drama sampai kebanjiran air mata, atau membaca novel kisah romansa remaja masa kini. Kalau semua aktivitas itu menurutnya sudah membosankan, maka pilihan terakhir cewek itu adalah, tidak lain dan tidak bukan, tidur. Sangat tidak produktif.

Thank Me LaterWhere stories live. Discover now